Malam sudah semakin larut, jam menunjukkan pukul 02.00 kurang lima menit. Aku masih terjaga di tempat tidurku. Rasanya waktu berjalan sangat lambat sekali. Mungkin benar kata orang, menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Yah, aku memang sengaja bergadang, ada sesuatu yang membuatku melakukan hal itu.
Bermula dua satu minggu yang lalu ketika aku tak sengaja bangun pagi sekali, sekitar pukul lima lebih sedikit. Biasanya aku baru bangun sekitar jam sembilan, kebetulan aku masuk sekolah pada siang harinya. Tapi pagi itu entah kenapa rasa kantuk langsung hilang begitu aku membuka mata. Terpaksa aku keluar dari kamar, dan kulihat suasana rumah juga masih lengang dan sepi. Ayah tentu masih tidur, begitu juga dengan Raden, adikku yang duduk di kelas 2 SMP. Mungkin ibu sudah bangun karena harus menyiapkan sarapan pagi. Akhirnya aku memutuskan untuk berenang saja, kebetulan air kolam renang biasanya hangat pada pagi hari. Aku pun berjalan menuju kolam renang di belakang rumah. Terdengar suara orang sedang berenang. Aku pun penasaran dan mencoba mendekat, cuaca yang masih remang-remang membuat sosok yang sedang berenang itu terlihat samar-samar. Tetapi begitu sosok tersebut keluar dari kolam renang, aku kini dapat melihatnya dengan jelas karena lampu di pinggir kolam renang masih nyala.
Sosok tubuh seorang wanita keluar dari kolam renang. Yang membuatku terkejut karena sosok tersebut telanjang bulat. Payudaranya yang bulat dan terlihat masih kencang begitu indah dibasahi oleh air. Dan saat sosok itu menghadap ke arahku aku bertambah terkejut, menyadari kalau sosok tersebut adalah ibuku sendiri. Tubuh ibu yang montok dan mulus berkilat terpantul oleh sinar lampu. Kemaluan ibu terlihat bersih tanpa selembar rambut yang menempel di sana. Tapi aku dapat melihat bibir kemaluan ibu yang sudah menggelambir di sisi-sisinya. Melihat sosok ibu yang telanjang bulat dengan air membasahi tubuhnya, aku hanya sibuk meneguk ludah berulang kali. Sebelumnya aku tidak mempunyai pikiran apapun terhadap ibu. Tapi menyaksikan pemandangan erotis itu tanpa terasa pikiran kotor pun terbentuk di otakku. Aku sudah biasa melihat tubuh telanjang cewek, karena aku sering bercinta dengan pacarku. Tapi tubuh telanjang ibuku memberi rangsangan lain terhadap diriku.
Umur ibuku mungkin sudah tidak muda lagi, mendekati angka 35 tahun. Namun tubuh telanjangnya seakan menegaskan ibu tak kalah menggairahkannya dengan gadis 25-an. Aku langsung buru-buru menyingkir begitu ibu menuju tempatku berdiri. Aku pergi menuju dapur, dan kulihat ibu ngeloyor pergi ke kamar mandi. Kelihatannya ibu mau membersihkan diri. Rasa penasaran yang amat sangat membuatku mencoba mengintip dari lubang kunci kamar mandi. Tapi tidak dapat kutemukan sosok ibu. Aku pun pergi ke kamar dengan sejuta perasaan yang menggunung. Tiba-tiba saja terbersit keinginan untuk bercinta dengan ibu kandungku tersebut. Dan itulah mengapa aku masih terjaga pada malam hari ini. Hampir satu minggu ini kegiatanku adalah mengintip ibu pagi-pagi di kolam renang. Semakin lama keinginan untuk bercinta dengan ibu semakin kuat. Dan malam ini adalah kesempatanku, karena kebetulan ayah sedang pergi ke luar kota (berangkat tadi sore) selama tiga hari.
Saat jam menunjukan pukul 02:00 tepat, aku pun keluar dari kamar. Suasana rumah gelap dan sepi, aku berjalan pelan-pelan takut Raden bangun karena kamarnya di sebelahku persis. Tujuanku adalah kamar ibuku yang terletak di lantai bawah. Aku berharap cemas kalau pintu kamar ibuku dikunci, tapi aku langsung tersenyum senang karena pintu kamar ibu tak terkunci. Kamar ibu gelap karena lampu tidak dinyalakan, aku menekan saklar dan ruangan kamar pun terang benderang. Sosok ibuku kutemukan di kasur sedang tidur nyenyak sekali, seperti sleeping beauty. Pakaian yang dikenakannya adalah gaun tipis berwarna pink sebatas lutut. Gairahku langsung naik melihat ibu tidur terlentang dengan gaun tipis. Tubuhnya yang mulus menerawang dari balik gaun. Celana dalam dan BH ibu pun kelihatan. Dengan hati-hati aku mendekati tubuh ibuku. Aku sejenak memandangi wajahnya yang ayu, bibirnya yang tipis dan kecil, hidung ibu yang mancung dan rambut ibu yang hitam dan pendek seleher.
Tanganku gemetaran saat mencoba meraba kaki ibu mulai dari betis sampai pahanya. Aku takut ibu terbangun, tapi kulihat ibu tidur sangat nyenyak. Kusingkap gaun ibuku sampai sebatas perut, berkali-kali aku meneguk ludah menjerit tertahan dan bertambah keras berontak merasakan kepala batang kemaluanku di ujung lubang kemaluannya. Tapi aku tak peduli, aku paksakan batang kemaluanku untuk masuk ke dalam kemaluan ibu. Karena vagina ibu belum begitu basah dan ditambah batang kemaluanku yang lumayan besar, aku kesulitan menembus kemaluan ibu. Dengan susah payah aku akhirnya berhasil memasukkan batang kemaluanku seluruhnya ke dalam liang vagina ibuku. Aku membiarkan sejenak batang kemaluanku bersemayam di kemaluan ibu. Konsentrasiku terpecah pada gerakan ibu yang semakin keras memberontak. Kedua tangan ibu berusaha memukuliku dan mencakar serta menjambak rambutku.
Kuikat kedua tangan ibuku dengan kaus singletku. Sementara mulutnya kubungkam dengan sarung bantal. Kini aku bisa berkonsentrasi penuh pada kemaluan ibu yang sudah diisi oleh batang kemaluanku. Aku bergerak maju-mundur dengan lambat karena kemaluan ibu yang tidak menerima batang kemaluanku. Tapi aku tak peduli. Gerakan ibu yang terus berontak sedikit demi sedikit membantu pergerakanku. Aku dapat merasakan nikmatnya daya cengkeram vagina ibuku, begitu kuat dan enak. Lama kelamaan kemaluan ibu mulai mengeluarkan cairan sehingga batang kemaluanku lebih leluasa bergerak keluar masuk. Aku makin bersemangat dan mempercepat gerakanku. Leher ibuku yang jenjang dan mulus kuciumi dengan penuh nafsu sementara kepala ibuku terus menggeleng tanda menolak.
Aku mencabut batang kemaluanku dari kemaluan ibu, sekilas ibu agak terdiam. Aku langsung membalikkan tubuh ibu, dan dari arah belakang aku kembali menusukkan batang kemaluanku ke lubang vagina ibuku. Pantat ibu yang bulat dan padat memberi sensasi tersendiri saat aku memasukkan batang kemaluanku. Apalagi bunyi selangkanganku yang bertemu dengan pantat ibuku, begitu indah kedengarannya. Lama menyetubuhi ibuku dari belakang tak membuatku mencapai puncak klimaks, sementara kulihat ibu sudah capai untuk memberontak dan hanya terlihat pasrah dengan wajah yang memerah berlumuran air mata. Kuterlentangkan lagi tubuh ibuku, gaun bagian atas kupelorotkan ke bagian perut. BH ibu kurenggut dan kedua payudaranya menjadi sasaranku. Puting susu ibu kuhisap-hisap seperti waktu aku masih bayi, kadang kugigit dengan lembut. Permukaan payudara ibu kujilati samapai mengkilat. Aku turun ke bawah, kali ini kembali lidahku menjilati kemaluan ibuku yang sudah basah kuyup. Lidahku keluar masuk dengan cepat, sesekali klitoris ibuku kujilati dan kugigit. Perbuatanku itu semakin membuat kemaluan ibu bertambah basah dan menarik, rupanya ibu sedikit menikmati seks oral dariku. Kurasakan pantat ibu sedikit bergoyang saat lidahku sibuk dengan kemaluannya.
Setelah puas untuk pemanasan kedua, aku kembali memasukkan batang kemaluanku lagi ke dalam lubang kemaluan ibuku. Pantatku naik-turun dengan cepat, dan batang kemaluanku pun keluar masuk tanpa kesulitan. Yang mengherankan pantat ibuku kembali bergoyang seakan-akan membantu mengimbangi gerakan naik-turun pantatku. Kedua kaki ibuku pun menekuk bertumpu pada kedua kakiku. Kulihat wajah ibu, matanya sayu dan merah, wajahnya semakin merah dan kelihatan tambah cantik serta penuh nafsu. Nafas ibuku ngos-ngosan, apalagi karena mulutnya kubungkam dengan sarung bantal. Ibuku menyadari aku sedang memandangi wajahnya, mata ibu kelihatan aneh. Ada rasa marah dan nikmat terpancar dari matanya. Iseng kucabut sarung bantal dari mulut ibuku. Kupikir ibuku akan teriak, ternyata yang keluar dari mulut kecilnya hanya desahan. Aku bertambah semangat dan langsung menciumi bibir tipis ibuku. Lidah ibuku menyelusup masuk ke mulutku begitu bibir kami bertemu. Kami berciuman lama sekali, dan pergerakan pantat kami tak juga berhenti. Bahkan kini aku dapat merasakan daya cengkeram kemaluan ibu semakin kuat, dan goyangan pantat ibu semakin keras.
Suasana ini membuatku akhirnya merasakan puncak kenikmatan yang kuinginkan. Aku menenggelamkan batang kemaluanku dalam-dalam di lubang vagina ibu saat air maniku muncrat. Tubuh ibu juga menegang dan mengejan seperti orang kena ayan beberapa kali. Kami berpelukan sesaat menikmati puncak kenikmatan dan beberapa kali batang kemaluanku merasakan berdenyutnya vagina ibuku yang basah kuyup dibanjir air maniku.
Ruangan kamar hening agak lama, aku tak juga beranjak dari tubuh ibuku. Batang kemaluanku pun masih bersemayam dengan nyaman di kemaluan ibuku. Tiba-tiba kudengar ibu berbicara. "Robby, jika kamu lakukan ini sekali.. lagi, " suara ibu sedikit mendesah akibat kelelahan. "Ibu akan bunuh kamu, kamu mengerti.." Aku cuma tersenyum, dan mencium lembut bibir ibu dan bangkit dari tubuhnya. Kulepas ikatan di tangannya, dan dengan santai pergi dari kamar ibuku.
Mau Booking Cewek Bispak
Home » Posts filed under sedarah
Tampilkan postingan dengan label sedarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sedarah. Tampilkan semua postingan
Musibah Ibuku, membawa nikmat bagiku
Namaku adalah Damar dan aku ingin menceritakan pengalaman incestku dengan menggauli ibuku kandungku sendiri. Peristiwa itu terjadi ketika aku kelas dua SMA dan aku tidak dari dulu tidak pernah berpikiran untuk menyetubuhi ibuku. Aku hidup di sebuah desa di daerah Semarang bersama dengan ayahku yang berprofesi sebagai petani sekaligus peternak sapi, serta dengan ibuku yang berprofesi sebagai bidan desa. Aku memiliki seorang kakak perempuan yang sekarang sudah berkeluarga di kota lain, sedangkan adikku masih kelas empat SD dan tinggal bersama dengan kami. Nenekku juga tinggal bersama kami namun ia sudah jompo, sedangkan kakekku sudah meninggal beberapa tahun lalu. Awalnya kami tergolong keluarga yang mampu dan kami hidup bahagia kecukupan. Namun ketika ibuku mencoba berbisnis dengan seseorang, musibah besar menimpa keluarga kami. Ayahku tidak pernah menyetujui ibuku terjun di dunia bisnis dan apalagi itu adalah bisnis besar, karena dengan penghasilan yang didapatpun kami sudah hidup kecukupan. Ibuku tetap tak mempedulikan saran ayahku sampai akhirnya musibah besar menimpanya, yaitu ketika rekan kerjanya menipunya dan melarikan diri ke luar negeri dengan membawa uangnya sebesar lima ratus juta. Bagi orang desa, uang lima ratus juta itu berjumlah luar biasa banyaknya, maklum saja ibuku terus menangis menyesali hal itu. Ibuku sering melamun dengan pandangan kosong sampai akhirnya dia sering teriak-teriak histeris. Ada yang bilang ibuku gila kesurupan ada pula yang bilang ibuku stress. Aku tidak tahu dan ikut juga menanggung beban musibah itu.
Sejak saat itu ibuku dirawat di rumah saja dan sementara tidak berangkat bekerja di puskesmas. Ibuku sering melamun sendirian di kamar, aku dan ayahku yang merawatnya. Setiap pagi aku membawakannya makanan dan minuman, sedangkan ayahku sering memandikannya. Ibuku selalu kosong pandangan dan selalu tidak menjawab jika diajak ngobrol. Ia diam membisu sepanjang hari namun terkadang ia mengajak bicara kami seperti ia sudah normal kembali. Saat itu kami mengira kalau ibuku sudah normal kembali dan kami tidak terlalu repot mengurusinya. Ayahku juga mulai normal dengan aktivitas kerjanya, dan aku menjadi tenang kalau di sekolah serta tidak terburu-buru pulang lagi. Ibuku tetap belum berniat kembali bekerja, ia sering main ke tetangga sebelah untuk sekedar berbincang. Setelah sekitar tiga hari keluarga kami kembali gempar karena ibuku membanting segala sesuatu di rumah kami. Ia membikin berantakan seisi rumah. Kami kemudian menenangkan ibuku, namu ibu terus berontak sehingga kami terpaksa membawa paksa dirinya dan mengikat tangan dan kakinya di ranjang karena ia terus berontak dan teriak. Lagi-lagi aku dan ayahku direpotkan lagi merawat ibuku selain juga merawat nenekku yang jompo. Rumahku menjadi seperti rumah sakit saja, dan adikku hanya bisa bermain-main tanpa beban.
Hari besoknya, pada malam hari Ayahku bersama dengan pamanku berencana menemui orang pintar di desa seberang untuk meminta bantuan perihal keadaan ibuku itu. Aku dipasrahi untuk menjaga rumah dan keluarga sampai tengah malam nanti. Ketika jam delapan malam adikku sudah terlelap dan di kamar ibuku tak ada suara sedikitpun. Setelah menengok nenek yang ternyata sudah tidur di kamar sebelah, aku segera menuju ke kamar ibuku untuk menengok keadaanya. Ketika masuk ke kamarnya, lampu masih belum dinyalakan dan ketika kunyalakan kulihat ibuku yang duduk dengan rantai besi yang masih mengikat kedua kakinya. Ibuku benar-benar sudah hilang akal, ia bahkan tidak membenahi roknya yang tersibak ke atas sehingga kelihatan celan dalamnya. Aku mendekat ibu bermaksud membenahi roknya yang tersibak. Ketika itu tanganku bersentuhan dengan kulit pahanya dan aku sekejap merasakan hal aneh pada diriku. Aku berusaha mengajak berbicara ibuku tapi ia hanya diam saja. Aku membimbingnya rebahan dan bermaksud menyeka tubuh ibuku dengan air hangat karena ayahku lupa tidak memandikan ibuku tadi sore. Aku bilang kepadanya aku mau menyeka tubuhnya biar badannya tidak lengket dan enak buat tidur. Ia hanya diam saja dan aku melepas kaos yang dipakainya serta roknya sehingga ia hanya mengenakan kutang dan celana dalam saja. Aku merasa aneh karena aku bernafsu melihat ibuku yang hanya mengenakan cawat dan kutang. Aku terus menyeka seluruh badan ibuku dan kurasakan lembut kulitnya serta ketika menyeka dibagian pantatnya pikiranku berubah menjadi tidak normal lagi, aku semakin bernafsu. Aku tidak mau menyetubuhi ibuku karena takut, maka lebih baik aku beronani saja nantinya di kamar mandi. Aku segera menuju kamar mandi tanpa lebih dahulu memakaikan ibuku baju atau daster. Ketika di kamar mandi pikiranku berkecamuk dan entah ada apa aku tidak mau beronani dan ingin mencicipi tubuh ibuku.
Ibuku sudah berumur empat puluh lima tahun dan badannya ramping tetapi panyudaranya luar biasa montok dan pantatnya bahenol. Kulitnya putih namun sedikit sudah kendur tetapi tetap kelihatan cantik. Ketika aku masuk ke kamar lagi, kudapati ibuku berposisi miring ke samping dan hanya terlihat pantatnya yang indah dibalut celana dalam renda merah dan kutang pasangannya. Aku semakin bernafsu melihat pemandangan itu dan langsung saja aku matikan lampu dan kunci pintu. Aku segera melepas pakaianku dan hanya memakai celana dalam dengan burungku yang sudah tegak. Aku mendekap tubuh ibuku dari belakang dan ibuku hanya diam saja. Aku menggesekkan batang kemaluanku ke pantat ibuku dan rasanya sungguh membuat jantungku copot. Aku mengelus-elus seluruh tubuh ibuku dan ketika tanganku kuselipkan ke celana dalamnya ia berontak dan berusaha mengeluarkan tanganku. Aku tetap saja melawan ibuku sampai akhirnya ibuku teriak keras. Aku saat itu yakin kalau ia tidak mengenali aku karena pikirannya yang sudah stress. Aku menutupi mukaku dengan masker biar ibuku tidak mengenal aku karena kupikir gampang untuk mengelabuhi orang yang sudah sedikit terganggu pikirannya seperti itu. Aku langsung menyumpal mulutnya dengan kain seka sehingga ia tidak lagi bisa menjarit. Tangannya terus berontak, dan makanya aku ikat ke atas dengan kain jarik. Ia sudah tidak bisa berkutik lagi dan hanya bisa melotot geram dan meludahiku.
Aku buka kutangnya dan meremas-remas panyudara besar itu. Aku sedikit mengeluarkan mulutku dari balik masker yang masih kupakai dan menetek ke susu ibuku seperti ketika aku masih bayi. Ibuku menggeliat dan aku yakin dia juga merasa keenakan. Setelah puas memainkan teteknya aku bergerilya ke bagian pinggangnya. Aku pelorotkan celana dalamnya dan dia tetap berontak dengan suara jeritannya yang tak terdengar karena telah kusumpal dengan kain pel tadi. Aku lihat memek ibuku dibalut dengan rambut kemaluan tipis dan aku memaksakan jariku untuk menerobos masuk liangnya. Ibuku seakan merapatkan kakinya namun aku terus berusaha merenggangkan pahanya dan akhirnya tanganku berhasil menerobos masuk liangnya. Setelah itu aku merasakan untuk pertama kalinya sensasi hangat, lembut dan halus memek wanita untuk pertama kalinya dan itu milik ibuku kandungku sendiri. Semakin cepat aku menggerakkan kedua jariku keluar masuk lubang memeknya, semakin ganas nafsuku dan tidak sabar lagi untuk menusukkan batangku ini ke dalamnya.
Setelah berapa lama ibuku mengeluarkan cairan-cairan basah dan setelahnya ia hanya diam pasrah. Aku dengan segera langsung menancapkan batang kemaluanku ke dalam memeknya yang telah basah sehingga dengan mudah aku bisa menerobosnya. Benar-benar sensasi luar biasa yang membuat tulang sumsumku menggigil keenakan. Ibuku semakin menggeliat keenakan dan akhirnya kuputuskan untuk melepas sumbat yang ada di mulutnya karena aku juga ingin mendengar rintihannya. Ternyata dia menikmati permainanku dan semakin kutancap kencang sehingga membuat ekspresi wajahnya tak karuan. Aku terus menindih ibuku dan segera kulumat bibirnya sambil terus menggoyang pukinya. Aku sudah tak tahan dan akhirnya cairan spermaku muncrat banyak ke dalam liang memeknya. Ibuku mendesah keenakan dan badannya menegang kemudian ia juga mengeluarkan banyak cairan dari liang vaginannya. Setelah jeda beberapa saat aku berbaring di sampingnya dan ia tetap tidak berekspresi malahan tertawa kecil di sampingku. Aku berpikiran mungkin ibuku sudah gila dan tidak ingat dengan diriku.
Aku beranikan diriku untuk membuka maskerku agar ia benar-benar tahu kalau aku Damar anaknya sendiri. Hal itu kulakukan karena malahan membuatku semakin bernafsu menyetubuhinya. Setelah kubuka maskerku aku memberitahunya kalau aku damar dan aku ingin menyetubuhinya setiap hari. Aku melepaskan semua ikatannya karena aku tahu dia sekarang dalam posisi keenakan jadi tidak mungkin berbuat macam-macam. Saat dia duduk aku angkat sedikit tubuhnya dan aku pangku sambil memasukkan penisku ke arah lubang vaginannya. Aku bersandar di tembok dan kubimbing dirinya untuk bergerak naik turun. Awalnya susah banget membimbingnya, namun lama kelaman ia bergoyang sendiri mengoyak penisku. Aku mendapati kenikmatan yang luar biasa dan terus memeluknya dengan erat dari belakang sambil terus meremas tetaknya. Tak lama kemudian cairan spermaku muncrat untuk kedua kalinya dan aku benar-benar puas dan lemas. Setelah itu aku tidur berbenah dan segera membersihkan tubuh ibuku dari spermaku. Aku memakaikan seluruh pakaiannya dan ketika aku mengikat lagi kedua kakinya dengan rantai ia teriak-teriak namun aku cuek saja. Setelah larut malam akhirnya Bapakku pulang membawa jampi-jampi dari orang pintar. Dalam hati aku mengharap ibuku tidak sembuh biar aku bisa menyetubuhinya setiap hari namun di sisi lain aku ingin dia cepat sembuh.
Aku melakukannya ketika ayahku sedang pergi keluar dan suasana rumah sepi. Namun ketika kondisi ibuku sudah berangsur-angsur pulih dan bisa sedikit berkomunikasi meski agak kurang jelas dan membingungkan aku tidak berani lagi mengerjainya karena takut kalau dia sadar akan perbuatanku. Setelah itu aku sudah tidak pernah mengerjainya lagi sampai akhirnya ibuku sembuh total dan kembali kerja. Seakan dia tidak sadar betul orang yang telah mengerjainya dan mungkin ia hanya memendamnya dalam hati atau ilusi. Akupun juga tidak tahu dan hanya dia yang merasakannya. Terkadang aku bernafsu kalau mengingat kejadian itu dan hanya kulampiaskan dengan beronani saja
Mau Booking Cewek Bispak
Ibuku Nafsu Pertamaku II
Aku diskhitan ketika aku menginjak umur tiga belas tahun dan lanjut ke SLTP. Setelah rasa perih akibat dikhitan aku mendapatkan imbalannya, yakni burungku semakin gagah dan membesar. Aku melanjutkan sekolah ke kota yang jauhnya kira-kira dua belas kilometer dari rumahku. Pergaulanku semakin luas dengan bermacam-macam teman dari daerah maupun di sekitar kota itu. Aku mulai mendapati hal-hal yang baru. Rata-rata teman sebayaku adalah anak-anak yang baru menginjak dewasa. Aku bergaul dengan anak-anak yang di kalangan sekolah dikenal sebagai kumpulan anak bandel. Obrolan mereka sering sekali berbau mesum dan aku semakin senang sekali dengan mereka karena ketika SD aku tidak pernah sedikitpun berbicara tentang hal-hal demikian dengan teman-temanku. Saat itu aku juga sudah mulai mengenal onani untuk memuaskan nafsuku kalau terpaksa tidak ada pelampiasan. Saat itu cairan spermaku juga mulai banyak dan semakin nikmat dan menggelora gairah seksku.Mereka sering mengobrolkan anak-anak perempuan sebaya maupun kakak kelas yang cantik dan badan mereka sudah mulai tumbuh dewasa. Mereka sering juga mengintip siswa-siswa perempuan tersebut sehabis olahraga di ruang ganti maupun di toilet. Aku tidaklah begitu tertarik dengan bahan obrolan mereka tersebut. Namun ketika mereka mulai mengobrolkan guru-guru kami yang cantik dan bahenol aku mulai tertarik. Kadang kami selalu membayangkan hal-hal jorok tentang guru perempuan kami. Aku selalu membahas bu Wati guru PPKN kami. Bu wati badannya tinggi seksi dan berpantat semok kesukaanku. Aku selalu mengintip celana dalamnya dari bawah meja sewaktu ia mengajar.
Pada waktu itu sudah beberapa bulan aku belajar di sekolah yang baru. Aku sudah mulai berani membolos sekolah. Ketika itu setelah istirahat aku dan teman-temanku berencana membolos pelajaran dan segera mengambil tas dan buku kami di kelas untuk selanjutnya bergegas melompat keluar pagar sekolah. Kami berniat demikian karena seorang teman kami yang bernama Rian tinggal tidak jauh dari sekolahan mengajak kami menonton film porno di rumahnya. Aku yang sama sekali belum pernah menonton orang berhubungan badan, langsung saja tertarik dan ikut ke rumahnya. Kami sengaja membolos karena pada saat jam-jam pelajaran rumah Rian sepi karena kedua orangtuanya PNS dan pulang kerjanya sama dengan kami yakni jam setengah dua siang. Beruntung Rian anak tunggal, jadi tidak ada yang akan mengusik kami menonton sampai jam dua. Jam sembilan pagi kami keluar membolos dan kemudian di rumah Rian kami langsung saja menonton film porno itu. Aku sangat terperangah melihat adegan-adegan seks di film itu. Aku suka sekali karena yang main adalah bule-bule yang berbadan bongsor. Burung di dalam celanaku tidak pernah kendur, tegak menantang sejak dari pas pertama film diputar. Sambil menonton dan berimajinasi mereka mengobrolkan hal mesum tentang cewek-cewek di sekolah. Berbeda dengan mereka, dalam otakku hanya terbayang pikiran untuk segera bersetubuh dengan ibuku. Aku usdah tidak tahan lagi mengeluarkan sperma yang tertahan ini. Aku ijin Rian untuk ke kamar mandi. Kamar menuju ke kamar mandi yang ada di belakang rumah dan saat melewati ruang tamu aku melihat ada foto ibu dan bapak Rian. Ibunya ternyata cantik dan terawat, bersih dan berseragam PNS rapi. Sepintas ibunya mirip dengan artis Lidya kandung dengan perawakan yang hampir sama juga tinggi dan posturnya. Wah kalau ibuku di rumah tidak pernah dandan seperti itu, hanya biasa saja namun aku juga tidak tahu kenapa aku selalu bernafsu dengan dirinya. Aku mulai berpikiran jorok tentang ibu Rian dan tidak sabar ingin melihatnya langsung. Niat aku ke kamar mandi bukanlah untuk kencing tetapi untuk beronani. Sesampai di kamar mandi aku mendapati ada banyak tumpukan cucian kotor. Aku langsung berpikiran kotor mencari-cari kali aja ada celana dalam kotor ibu Rian. Setelah kucari-cari ternyata ada dua celana dalam putih bunga-bunga milik ibu Rian dan aku sangat gembira sekali. Aku ciumi bau celana dalam itu, ada sedikit bau-bau pesing yang semakin membuat aku bernafsu. Aku bayangkan wajah ibu Rian yang baru saja aku lihat di foto sambil mengocok kontolku dan berfantasi menyetubuhi ibu cantik itu. Tidak berapa lama cairan spermaku sudah diujung dan segera kutempelka celana dalam itu ke ujung kontolku sambil membayangkan spermaku kumuncratkan di vagina ibunya Rian. Tak berapa lama spermaku keluar juga banjir membasahi celana dalam itu. Aku sangat puas sekali dan segera keluar toilet sambil menyelipkan celana dalam yang sudah basah itu jauh ke tengah tumpukan cucian agar tidak ketahuan.
Setelah selesai menonton aku segera pulang ke rumah. Di rumah bayanganku tentang wanita di film itu dan bayangan ingin segera bertemu dengan ibu Rian berkecamuk di pikiranku. Semakin aku bayangkan semakin aku bernafsu lagi dan ujung-ujungnya pikiran untuk segera menyetubuhi ibuku seperti di film porno tadi semakin menjadi. Lagian rumah juga semakin sepi karena saat itu aku hanya tinggal bersama dengan ibu saja. Kakakku sudah bekerja merantau ke kalimantan selepas lulus dari SMA. Ayahku juga sering mendapat pekerjaan berbulan-bulan di lain kota sehingga dia jarang sekali pulang ke rumah. Pikiranku berkecamuk sekali memikirkan cara apa yang harus kugunakan agar bisa bersetubuh dengan ibuku. Terkadang sering terbesit pikiran untuk memukul ibuku dari belakang dan setelah membuatnya pingsan aku bisa menyetubuhinya. Namun dari dalam hati aku juga merasa khawatir karena takut salah pukul dan membuat ibuku mengalami hal terburuk dan fatal. Hal yang menyulikanku lagi ketika itu setelah dikhitan aku dibuatkan kamar sendiri dan tidak lagi tidur bersama dengan ibuku. Aku juga takut untuk menyusul ibuku ke kamar walaupun demi untuk bisa memuaskan nafsuku dengan pantatnya seperti ketika aku masih SD.
Aku tidak mau dan malu untuk curhat tentang hal ini dengan teman-temanku karena aku akan melakukannya dengan ibuku sendiri. Saat aku bertanya dengan temanku tentang bagaimana cara untuk menyetubuhi orang dan tidak ketahuan, temanku memberi ide dengan memberikan obat tidur. Aku sempat gembira sekali mendengar itu namun hal itu hanya sia-sia belaka karena tidaklah mudah untuk mendapatkan obat tidur apalagi bagi kami yang masih seumuran belum dewasa. Aku selalu pulang dengan kecewa namun aku juga masih sering-sering mengintip ibuku mandi dan kemudian beronani dengan celana dalamnya. Aku melakukan itu selam bertahun-tahun dan berusaha melupakan niatku yang telah terpendam bertahun-tahun itu. Aku juga sudah sempat bertemu dengan ibu Rian yang memberikan fantasi baru terhadapku. Aku mulai sering ijin untuk tinggal di rumah Rian dan mencari-cari kesempatan untuk bisa mengintip bagian tubuh ibu Rian. Pikiran untuk menyetubuhi ibu Rianpun muncul persis seperti pikiranku terhadap ibuku. Namun hal tersebut semakin membuatku tambah kecewa saja karena hal tersebut lebih mustahil.
Sewaktu aku berada di rumah aku mendengar berita kalau tetangga kami keracunan memakan tumbuhan yang namanya aku rahasiakan. Tetanggaku itu kemudian dibawa ke rumah sakit dan setelah beberapa hari aku dan ibuku menjenguknya di rumah sakit. Ternyata dia hanya tidak sadarkan diri untuk beberapa jam saja dan katanya itu terjadi setelah memakan tumbuhan itu. Sepintas langsung terbersit pikiran kotor diotakku. Aku ingin sekali mencari tumbuhan itu dan mencampurnya ke dalam makanan ibuku. Pikirku itu tidaklah terlalu berbahaya jika hanya sedikit saja. Kebetulan setelah sempat beberapa bulan ayahku berada di rumah, saat itu ayahku telah pergi lagi ke lain kota dan jarang pulang karena ada proyek besar di semarang.
Esok harinya setelah pulang sekolah aku langsung pergi ke daerah perladangan untuk memburu tumbuhan itu. Tidak sia-sia, setelah beberapa saat akhirnya aku menemukannya dan bergegas pulang. Ketika itu ibu sudah menginjak petang dan ibuku memasak sayur sop dan itu kebetulan sekali karena nantinya aku bisa mencampur tumbuhan itu ke sayur. Aku segera ke belakang dan menumbuk tanaman itu untuk kuambil sarinya. Saat kami makan berdua di depan televisi aku pura-pura meminta ibuku membuatkanku sambal soalnya sayur sop kurang lengkap tanpa sambal. Setelah sedikit merengek akhirnya ibuku menaruh piringnya yang baru sedikit dimakan di meja depan televisi dan menuju ke dapur membuatkanku sambal. Aku langsung saja mencampurkan sedikit saripati tumbuhan itu ke dalam piring nasi dan sup ibuku. Setelah beberapa menit ibu kembali dengan sambal dan kami melanjutkan makan. Ibuku tidak merasa aneh dengan rasanya, mungkin saripati tumbuhan itu tidak ada rasanya karena aku juga belum pernah merasakannya, atau mungkin sudah tidak berasa karena sudah bercampur dengan nasi dan lauknya.
Tak berapa lama kemudian ibuku berkata kalau ia merasa pusing. Ia segera menuju ke tempat tidur dan setelah aku tunggu beberapa menit ternyata tidak ada suara apapun. Aku pura-pura memanggil ibu namun tidak ada jawaban. Aku berjingkrak kegirangan karena itu tandanya ibuku sudah tidak sadarkan diri. Aku menghampiri ibuku dan berpura-pura memanggil ibuku sambil menyentuh pipinya. Ternyata ia benar-benar sudah tidak sadarkan diri dan langsung saja aku membuka semua pakaianku dan bertelanjang bulat. Aku matikan seluruh lampu rumah dan hanya menghidupkan lampu meja di sebelah ranjang. Hatiku berdebar keras kegirangan sambil melucuti pakaian yang dikenakan ibuku. Setiap momen melucuti pakaian itu aku nikmati dengan benar-benar, ada perasaan nikmat khusus yang aku dapatkan. Mula-mula aku cium bibirnya sambil kulepas kancing bajunya beserta kutangnya. Kulihat panyudaranya yang besar yang selama ini luput dari perhatianku dan ternyata tidak kalah menariknya dengan pantat yang selama ini memabukkanku. Setelah itu aku pelorotkan rok longgarnya dan untuk pertama kalinya aku pelorotkan dengan penuh nafsu celana dalamnya. Aku ciumi seluruh badan ibuku dari ujung kaki sampai kepala. Aku lebarkan sedikit pahanya dan kulihat vagina dengan rambut yang baru dicukur itu depat di depan mataku. Aku jilati puki ibuku tempat aku lahir dahulu. Ibuku sedikit bergerak dan itu membuatku kaget namun tidak berlanjut lagi, dan itu mungkin dia juga merasa keenakan. Aku tak sabar lagi ingin menancapkan kontolku ini ke pukinya. Dengan pelan-pelan aku masukkan kontolku yang mengacung itu dan agak sedikit susah karena mungkin jarang dipakai lagi dengan ayahku. Aku seperti melayang ke surga setelah bisa masuk ke dalam lubang vaginganya. Semua rasa yang belum pernah kurasakan bercampur menjadi satu. Hangat dan lembut vaginanya semakin membuatku ingin memompanya kencang. Ibuku dengan posisinya yang terlentang hanya terdiam tanpa ekspresi ketika kutindih dari atas, dan semakin kucepatkan gerakan kontolku menjebol pukinya. Kontolku sudah terasa pengin memuncratkan spermanya, dan langsung kucabut saja karena aku ingin menghajar ibuku dengan menindihnya dengan posisi telungkup.
Aku langsung berpindah posisinya dan sedikit mendorong tubuh ibuku agar bisa ke posisi telungkup. Badanku sudah setinggi ibuku meskipun badan ibuku lebih besar. Aku agak sedikit merasa berat mendorongnya, dan ketika sudah berhasil telungkup aku melihat bokonh bulat kenyal indah itu persis di depan mataku. Aku semakin bernafsu dan segera menciumi dan menjilati pantat pujaanku sedari kecil itu. Setelah puas mencium dan menjilatinya aku sibak belahan pantatnya yang besar dan ingin sekali melihat lubang anusnya. Gundukan pantat dan anus beserta vaginannya tampak semua.Aku bagaikan terbang melayang dan segera kuarahkan lagi kontolku ke arah pukinya. Aku bergerak naik dan turun dan ketika itu aku mendapatkan sensasi luar biasa dari benturan pantatnya yang kupepet. Gerakanku yang berbenturan dengan pantat besar itu membuat bunyi seperti tepukan dan membuatku sudah tak bisa lagi membendung spermaku. Aku tidak kuat lagi dan kusemburkan seluruh spermaku di dalam lubang vaginanya. Aku merasa sangat puas sekali dan mengerang keenakan tidak peduli jika nantinya ada orang yang mendengar. Aku tidak takut ibu hamil karena didepan rumah kami sudah terpasang simbol KB jadi ibuku pasti sudah KB.
Setelah rasa puas itu aku merasakan perasaan yang aneh dan merasa bersalah. Aku segera membersihkan cairan sperma yang menempel di vagina ibu dengan selimut dan segera memakaikan kembali pakaiannya. Aku berbaring dan sedikit menyesal dengan perbuatanku. Aku juga takut kalau ibuku terjadi apa-apa akibat ramuan itu. Setelah aku tunggu sampai jam sepuluh malam ibuku ternyata sudah sedikit mengigau. Mungkin dia sudah sadar dan ketika aku pegang dirinya dan kutanya ia juga menjawab. Aku merasa tenang dan setelah merasa bersalah semalamaan dan setelah pagi menjelang pikiranku berubah lagi karena melihat pemandangan ibuku yang tidak seperti biasanya, memakai legging tipis sehingga setiap lekukan pantat kaki dan pahanya terlihat jelas. Ibuku memberitahu kalau tadi malam ia merasa pusing dan tiba-tiba saja tertidur lelap sampai pagi. Aku hanya senyum saja dan memberitahu kalau mungkin hanya kecapaian saja. Setelah aku sudah selesai bersiap-siap berangkat sekolah, aku sarapan dengan ibuku. Aku mencampurkan lagi ramuanku itu ke dalam makanannya ketika ia menoleh mengambil kerupuk yang kuminta di belakang badannya.
Tak berapa lama ia merebah di ranjang yang berada di depan televisi. Aku mengurungkan niatku pergi sekolah dan ingin segera menyetubuhi ibuku lagi. Aku segera menutup pintu serta jendela dan setelah memastikan diri ibuku telah tak sadarkan diri, aku langsung menarik dirinya namun tidak menelanjangi total dirinya. Aku tidak melepas semua pakaiannya karena aku terangsang dengan legging ketat ibuku dan ingin dia masih dibalut dengan separuh leggingnya. Aku tengkurupkan tubuhnya dan menarik kakinya keluar ranjang sedangkan bagian atas badannya masih di ranjang. Untung sekali ranjangnya tidak terlalu tinggi jadi dia bisa benar-benar nungging. Setelah itu aku pelorotkan legging ketatnya sampai separuh paha dan ternyata ia tidak memakai celana dalam. Aku ciumi dan jilati seluruh pantat anus dan vaginanya dari belakang. Gilat sekali, baunya pesing dan aroma kecing bercampur. Ibuku belum sempat mandi dan hanya cebok, padahal semalam ada bekas-bekas kering spermaku namun ia tidak sadar juga. Namun aroma itu malah membuatku semakin bernafsu dan segera kuturunkan celanaku terus langsung kuhujumkan kontolku ke dalam memeknya. Seperti anak kanjing mengawini ibu anjingnya. Aku terus mengebor dengan cepat dan kuremas pantatnya yang membuatku seketika memuncratkan lagi seluruh spermaku ke dalam pukinya. Aku sekali lagi merasakan bersalah namun aku tau kalau itu hanya sementara. Setelah beberapa saat aku naiikan lagi badan ibuku dan aku entotin dirinya dengan posisi 69 sampai akhirnya lubang memek ibuku dipenuhi cairan spermaku. Aku segera mengakhiri permainanku dan membersihkan semua sperma yang ada di memek ibu. Jariku aku masukkan ke dalam vaginanya untuk mengeluarkan sperma yang banyak menyelip di dalam. Setelah bersih aku naikkan lagi leggingnya dan menyelimutinya. Setelah ia bangun di siang hari ia kembali bertanya kenapa ia merasa pusing dan tertidur pulas lagi aku hanya menjawab mungkin kurang darah. Ibuku saking polosnya hanya percaya saja dan memberiku duit untuk membelikannya obat penambah darah. Dalam hatiku hanya senyum saja dan segera keluar membelikannya. Aku melakukan hal itu tidaklah sering karena takut akan membawa efek negatif. Aku melakukannya mungkin sekitar enam kali dan setelahnya aku sering pergi ke tempat prostitusi dan mencari wanita yang sudah keibuan. Pikiranku menyetubuhi ibuku sudah tidak terlalu menggangguku karena aku juga sudah puas pernah berhasil menyetubuhinya berkali-kali. Setelah aku masuk SMA aku minta dipindahkan ke kota lain karena takut kalau timbul lagi niatku menyetubuhi ibuku dan hanya dengan jalan memberi ramuan itu yang pasti akan membawa efek negatif ke tubuhnya. Aku membujuk orang tuaku dengan alasan biar aku mandiri dan akan berusaha mencari sambilan kerja agar tidak terlalu membebani mereka.
Aku ingin sekali melakukan hubungan seks dengan ibuku namun dalam kondisi dirinya yang sadar, jadi aku bisa merasakan ekspresi wajahnya ketika sedang bercinta. Namun hal tersebut terasa mustahil di otallu dan lebih baik aku menjauh saja. Setelah sekolah di perantauan aku memasarkan diriku ke tante girang. Aku mendapatkan kepuasan seks dengan petualanganku yang baru dan tentu saja dengan tante-tante yang berganti-ganti di mana setiap aku bercinta dengan mereka, aku selalu membayangkan mereka ibu kandungku. Pekerjaan itu aku lakukan sampai sekarang dan sangat aku nikmati. Aku sudah tidak lagi ingin memberikan ramuan itu ke ibuku semenjak pindah sekolah. Sekarang aku sudah menemukan tante-tante baru yang mengubah hidupku.
Mau Booking Cewek Bispak
Ibuku nafsu pertamaku Part I

Namaku tri dan ini adalah kisah pelampiasan nafsu pertamaku. Aku hidup di keluarga yang kurang mampu di desa kecil di jawa tengah. Ibuku seorang ibu rumah tangga dan sering berjualan di pasar sedangkan bapakku seorang buruh bangunan. Aku memiliki seorang kakak laki-laki yang sudah duduk di bangku SMU. Saat ini aku berusia 20 tahun dan ingin sekali berbagi pengalaman kisah pelampiasan nafus seksku pertamaku ketika aku masih tergolong berumur sangat muda dengan ibukandungku sendiri. Sejak dari umur delapan tahun sebelum aku khitan aku sudah sering berpikiran jorok dan nafsu. Ketika aku berumur delapan tahun aku masih tidur bareng dengan ibuku dan ayahku dalam satu ranjang. Ketika malam aku sering banget memeluk tidur memeluk ibuku, dan itu dianggap ibuku wajar saja karena dipikirnya aku masih kecil dan belum baligh. Bila malam telah menjelang dan semua orang tidur terlelap aku sering tidak nyenyak tidur dan terbangun karena nafsu yang bergejolak diotakku dikarenakan aku sering bersenggolan dengan pantat ibuku yang bahenol. Aku tidur menggunakan celana kolor pendek dan ibuku sering memakai rok longgat biasa sehingga jika ia sudah terlelap roknya sering tersingkap. Jika rok ibuku sudah tersingkap maka celana dalam ibuku terlihat jelas ketat membalut pantat besarnya.
Pantat ibuku benar-benar putih bersih mulus dan bahenol. Ibuku berumur kira-kira empat puluh lima tahun, tubuhnya sedang dan sedikit chubby tapi tidak gemuk dengan rambut lurus sebahu. Jika sudah bersenggolan dengan paha dan celana dalam tipis ibuku, pikiranku buyar dan nafsu tidur menghilang digantikan pikiran jorok yang menyelimuti otakku. Bapakku biasanya sudah tidur duluan dan pulas banget serta susah banget dibangunin karena kecapaian kerja seharian buruh bangunan. Aku memastikan semuanya sudah aman dan bersiap-siap dengan trikku memepet pantat ibuku dengan berpura-pura kedinginan memeluknya. Kalau sudah berhasil memeluk aku banyak bergerak karena itu untuk memastikan kalau ibuku sudah benar-benar pulas atau belum. Jika ibuku diam dan tidak ada respon sedikitpun berarti dia sudah pulas tertidur. Kalau sudah begitu, sedikit demi sedikit dan pelan-pelan sekali aku menarik roknya terus ke atas sampai perut sehingga ibuku benar-benar terlihat seperti hanya memakai celana dalam tipis saja. Meski ketika saat itu aku masih berumur delapan tahun tapi burungku juga sudah lumayan besar biar badanku masih kecil dan lebih kecil dari ibuku.
Kalau sudah berhasil menaikkan rok longgar ibuku itu aku melepas celanaku dibalik selimut dan hanya memakai kaos saja. Burungku sudah tegak berdiri sampai mau kelihatan ujung helmnya berontak keluar dari penisku yang belum disunat. Aku tidak berani menurunkan celana dalam ibuku namun meski demikian cukup dengan itu saja aku sudah puas. Tak sabar aku ingin menggesekkan burungku ke pantat ibuku. Jika penisku sudah berhasil kutempelkan ke pantat ibuku aku memeluknya tubuhnya dari belakang dan mengelus-elus bagian paha dan pantatnya. Kelembuatn kulitnya dan kekenyalan pantatnya membuat burungku pengen cepat-cepat ejakulasi. Aku semakin memeluk ibuku dengan erat, memepet pantatnya dengan kuat dan penis mudaku mengarah ke belahan pantat besar yang dibalik celana dalam lembut itu. Tidak berapa lama kemudian aku ejakulasi dan merasakan nikmat yang luar biasa indahnya seperti terbang melayang ke surga. Jika sudah puas aku berbalik sedikit menjauh dari ibuku dan segera tidur pulas.
Ibuku biasanya bangun paling awal untuk menyiapkan sarapan sekeluarga dan bersih-bersih rumah. Biasanya setelah tidur tempat pertama yang ditujuku adalah WC. Aku terkadang membuat rencana untuk bangun pagi juga untuk membuntuti ibuku ke WC. Aku pengin sekali melihat vagina ibuku serta pantatnya yang bahenol tanpa ditutupi celana dalam. Saat pertama kucoba jantungku benar-benar berdebar kencang. Wc keluarga kami tidaklah begitu bagus karena sebagian ditutupi anyaman bambu dan pintunyapun hanya dari anyaman bambu. Di pagi buta yang masih gelap aku mengendap-endap di belakang ibuku dan setelah ibuku menutup pintu WC aku mencari celah-celah pintu agar bisa melihatnya saat kencing. Klosetnya menghadap ke pintu sehingga memudahkanku melihat pukinya dengan jelas. Ia berdiri membelakangi pintu dan melepas celana dalamnya. Ia menaikkan roknya dan menurunkan cawatnya sehingga di depan mataku aku melihat pantat besar mulus ibuku tanap ditutupi sehelai benangpun. Pemandangan itu benar-benar menambah jantungku semakin berdebar. Ketika ia berbalik dan jongkok diatas kloset, untuk pertama kalinya aku melihat vagina ibuku. Vaginanya ditutupi bulu-bulu hitam yang membuatku semakin bernafsu. Aku melihat lubang puki itu deras mengeluarkan air kencing. Saat ia mengguyur kloset, aku tahu kalau ia akan bergegas keluar WC, maka dari itu aku lekas masuk ke rumah agar tidak ketahuan ibuku. Aku langsung balik ke tempat tidur agar semuanya tampak normal.
Setelah matahari terbit semua anggota keluarga sudah siap dengan aktivitasnya masing-masing. Setelah sarapan kami pergi beraktivitas masing-masing dan rumah kosong. Kakakku dan aku pergi ke sekolah sedang ibuku pergi ke ladang dan ayahku bekerja buruh bangunan ke kota. Aku memang tidak tertarik sama sekali dengan perempuan muda, aku lebih tertarik melihat wanita-wanita yang sudah berkeluarga. Ketika aku masih SD aku sering sekali mengintip guru-guru wanitaku yang cantik ketika mereka di toilet. Aku memiliki seorang guru bernama bu Sri. Wajahnya begitu cantik dan badannya bahenol. Aku sering tidak konsen jika diajar olehnya karena selalu membayangkan mesum dengannya. Aku tidak berani berbuat kurang ajar kepada dirinya karena aku masih kecil dan rasa takut kepada guru itu masih kental sekali. Aku hanya bisa mengintipnya kalau ia sedang di toilet atau berpura-pura menjatuhkan pensil agar bisa mengintip celana dalamnya dari bawah meja.
Jika sehabis mata pelajaran ibu Sri pasti aku pulang sekolah dengan kondisi yang bernafsu sekali. Karena aku masih SD aku pulang paling awal diantara keluargaku dan selalu mendapati rumah dalam keadaan kosong. Kalau sudah sampai rumah aku hanya berharap ibu cepat pulang dari berjualan di pasar agar aku bisa pura-pura mencuri-curi kesempatan menempelkan burungku ini ke pantatnya. Ayahku selalu pulang paling sore dan kakakku biasanya pulang malam karena mampir main-main. Sambil menunggu ibu pulang aku pasti menuju ke toilet mencari celana dalam kotor ibuku di tumpukan cucian kotor. Aku suka sekali mencium-cium cawat kotor ibuku dan berpikiran menyetubuhi dirinya. Kalau ibuku sudah pulang aku berbunga-bunga sekali karena aku tidak sabar untuk menawarkan diri untuk memijat dirinya. Ibu sangat gembira kalau aku ingin memijitnya. Aku selalu meminta ibuku tengkurup karena aku ingin memijat punggungku agar bisa duduk diatas pantatnya. Setelah cukup lama memijat ibuku aku sedikit merasa capek dan merebah kesamping ibuku sambil pura-pura memeluk tubuhnya. Padahal aku menikmati sekali setiap kenyal tubuhnya. Kalu sudah dipijit ibuku biasanya tidur dalam posisinya yang masih tengkurup. Dalam posisiku yang masih sedikit memeluk ibuku itu aku berusaha memastikan kalau ibuku sudah pulas. Kalau sudah pulas, kutarik pelan-pelan rok longgar ibuku sampai celana dalamnya terlihat jelas. Sesudahnya aku menaiki tubuh ibuku dan kontolku tepat diatas gundukan pantatnya yang halus meski masih bercawat. Ibuku tidak merasa terganggu tidur karena tubuhku masih ringan seukuran anak SD. Aku tidak berani melepas celana dalamku dan hanya berani mengeluarkan burungku saja melalui resleting celana merah SDku yang masih kupakai. Lagi-lagi tak berapa lama aku mendapat kepuasan yang luar biasa dari pantat besar ibuku. Itulah surgaku ketika aku masih kecil dan aku melakukannya dengan trik-trik jituku. Ketika aku sudah menginjak dewasa aku kemudian dikhitan dan itu membawaku ke dalam level seksku yang lebih tinggi layaknya pria-pria dewasa. Namun masih saja aku tidak begitu tertarik dengan perempuan-perempuan lain selain ibuku. Ibukulah yang paling membuatku bernafsu karena dialah yang yang pertama kali membuatku bernafsu dan dari dialah untuk pertama kali aku dikenalkan dengan nikmat luar biasa yang membuatku selalu ketagihan ini. Cerita seksku denga ibuku ini terus berlanjut dan mengarah ke level seksku yang semakin menjadi dan berhasrat sekali untuk bisa bersetubuh dengan ibuku serta memasukkan penisku yang semakin gagah ini ke dalam lubang vaginanya, layaknya hubungan suami istri. Sejak saat pikiran itulah yang selalu mengganggu otakku dan aku pasti akan melakukannya entah dengan bagaimanapun caranya. Sampai pada akhirnya aku bisa menyetubuhi dirinya layaknya suami istri. Aku akan menceritakan cerita ini di bagian selanjutnya….
Mau Booking Cewek Bispak
Langganan:
Postingan (Atom)