Aku hidup dan dibesarkan di sebuah desa semasa di SMA. Aku dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga yang begitu sederhana dan tabu membicarakan sex, sehingga aku tidak begitu paham seputar sex. Sampai suatu saat aku diberi tahu temanku bahwa sebenarnya aku ada karena hasil hubungan sex kedua orang tuaku. Aku sangat bimbang benarkah demikian?
Saat itu umurku 16 tahun, dorongan sexku sangat kuat dan aku tidak tahu cara melepaskan tekanan sex itu. Penisku menegang manakala aku melihat gambar gadis cantik di kalender yang mengenakan baju semi bikini. Dalam gambar itu aku suka sekali mengusapkan jariku di bagian buah dadanya. Beberapa kali aku bisa mimpi basah, seakan aku bertemu dan memeluk gadis dalam kalender, kemudian penisku menyemprotkan cairan nikmat. Setelah semprotan itu, aku merasakan ototku menjadi lebih kendor dan badanku ringan. Aku berusaha mencari jawaban melalui teman dan bacaan, mengapa aku biasa seperti itu.
Pada akhirnya aku menemukan rahasia sangat berarti dan berharga, ternyata untuk mengeluarkan semprotan nikmat bisa tanpa melalui mimpi basah. Berdasarkan pengalaman pribadi dan omomg-omong dengan teman, onani adalah cara paling nikmat mengendorkan otot-otot yang menegang. Malam itu pertama kali aku melihat film porno di rumah teman, setelah selesai belajar bersama, aku diajak nonton video porno. Disinilah aku memperoleh pengalaman banyak bahwa penis yang menegang artinya membutuhkan penyaluran sex, bisa lewat hubungan sex atau lewat onani. Bacaan porno yang dimiliki temanku sering aku pinjam, sambil membaca aku melakukan onani. Sehari aku bisa beronani sampai tiga kali berkat pemberitahuan temanku cara beronani paling nikmat, yaitu menggunakan minyak kelapa yang dioleskan di tangan. Pelajaran berikutnya adalah mencari kenikmatan dengan mengoleskan susu kental manis ke penis, kemudian seokor anak kucing disuruh menjilati susu di penis (boleh dicoba nikmat lho). Pengalaman berikutnya adalah membuat vagina tiruan menggunakan balon yang diisi air hangat dan diolesi minyak kelapa. Aduh mak nikmat sekali.
Kisah berikut ini adalah pengalaman pertamaku merasakan nikmatnya vagina perempuan dan sekaligus hilangnya keperjakaanku. Hari minggu aku dan temanku sepakat pergi memancing di sungai dekat pasar kecamatan. Disana ada pintu air yang airnya jernih dan tenang serta banyak ikannya. Memancing bagi kami hanya pekerjaan iseng saja, karena untuk mendapatkan ikan bukan tujuan utama. Sambil mancing kami membawa bacaan porno dan ngobrol tentang sex. Ketika kami asik merebahkan badan di rerumputan yang terlindung semak rimbun, tiba-tiba ada rombongan ibu-ibu turun ke sungai memandikan perempuan gembel muda yang otaknya tidak waras (Orang-orang di desaku pada saat itu masih banyak yang mandi di sungai. Tempat madi perempuan dipisah jauh dengan tempat mandi laki-laki dan ditutup kain. Selama mandi seorang perempuan memakai kain panjang yang disebut kemben). Sedangkan perempuan muda yang sedang dimandikan ibu-ibu, telanjang bulat sambil berdiri digosok sabun dan dikeramasi. Melihat pemandangan seperti itu birahiku memuncak. Dari jarak pandang yang cukup jelas dan tersembunyi, kami bisa melihat bentuk tubuh montok perempuan gila yang dimandikan. Kami berdua tiarap dan begitu asik menikmati tubuh telanjang yang semakin lama semakin bersih dengan warna kulit kuning langsap. Begitu juga rambut yang gembel setelah selesai dikeramas dipotong pendek. Perempuan gila itu kelihatan senang selama dimandikan ibu-ibu, terlihat ia berjingkrakan sambil mainan air.
Sekemabali dari tempat mancing, dengan perut lapar, kami menuju ke salah satu warung di pasar. Betapa kaget, ternyata di dalam warung itu sejumlah laki-laki sedang merubung perempuan gila yang tadi dimandikan untuk ditanyai nomor undian (SDSB). Perempuan itu telah mengenakan sarung dan switer bersih. Sambil cengar cengir dia membuat coret-coretan di atas karton pembungkus rokok. Semua laki-laki disitu mengikuti dengan cermat setiap goresan yang dibuat perempuan gila. Aku sendiri tidak peduli pada tingkah mereka, karena yang menjadi daya tarik adalah si perempuan gila bertubuh montok. Aku dan temanku saling pandang dan kami saling berbisik, alangkah nikmatnya bila kami bisa memandikan perempuan itu.
Sehari kemudian aku belajar di rumah temanku. Seperti hari-hari yang lalu, selesai belajar kami putar video porno meskipun filemnya hanya ada satu-satunya. Selesai nonton jam telah menunjukkan pukul 10.30 malam, aku mengayuh sepeda menuju rumah dengan diterangi cahaya bulan. Penisku sepanjang perjalanan tegang terus karena belum memperoleh penyaluran lewat onani. Jalan desa yang sangat sepi, masih aku kenali dengan baik berkat lampu sepeda dan cahaya bulan sehingga tidak akan menabrak sesuatu. Aku kaget ketika di depanku tiba-tiba melintas seorang wanita. Aku mengerem sepeaku dengan mendadak dan memperhatikan kaki perempuan yang melintas. Pikiran pertama yang terbayang dalam benakku perempuan itu kuntilanak (sejenis setan perempuan dan kalau berjalan seperti terbang), seperti kepercayaan orang-orang di desaku. Tapi aku kaget ketika mendengar suara perempuan ngomong dan ketawa kecil persis sepeti suara si tubuh montok di warung. Setelah aku perhatikan, ternyata ia perempuan gila yang dimandikan ibu-ibu di sungai.
Entah apa yang membuat pikiranku berubah kotor tiba-tiba ada harapan untuk bisa meraba tubuh perempuan telanjang. Keinginan itu sangat kuat dan aku memutar sepeda balik ke rumah teman belajarku, kami diskusikan rencana untuk bisa menelanjangi dan diraba-raba tubuh perempuan. Itu saja rencana yang ada pada kami.
Singkat kata, kami berdua meninggalkan sepeda di rumahnya dan membeli makanan di warung sebagai bekal. Ternyata perempuan gila itu sudah tidak ada di tempatnya lagi. Kami berdua mencari dengan sembunyi-sembunyi dan melintasi balik pagar jalanan, supaya tidak dilihat orang. Akhirnya ia kami menemukan perempuan itu di dekat jalan menuju lintasan ke sawah. Ia sedang duduk di tepi jalan. Dengan jantung berdegup keras, kami dekati dan kami bujuk serta kami beri makanan kemudian kami bimbing ke tepi sawah di balik tanah yang menggunung jauh dari jalan desa. Disana ada sebuah bangau kecil (tempat istirahat setelah bekerja di sawah). Setelah kami beri minuman, mulailah aku membuka switer dan sarung yang dikenakan perempuan itu tanpa kesulitan. Anehnya temanku menggigil menahan gejolak hatinya sehingga ia tidak membantu ketika aku membuka baju perempuan itu. Tubuh telanjang itu sudah ada di hadapan kami dan ternyata perempuan itu tanpa BH dan celana dalam. Penisku langsung menegang dan mengeras seperti batu. Kemudian kami rebahkan perempuan itu di papan lebar tempat duduk di bangau dengan kaki menjuntai ke bawah. Sarung dan switer digunakan sebagai bantalnya. Mulailah tanganku menggerayangi badannya, aku tarik tangan temanku yang masih menggigil untuk ikut meraba dadanya yang menggelembung kenyal. Temanku mulai tenang dan menggigilnya reda dan mulai menggerakkan tangannya di sepanjang tubuh dan perut perempuan itu. Rencana semula yang hanya meraba dan menikmati tubuh telanjang, akhirnya berubah setelah perempuan itu kami lihat mulai terangsang.
Meskipun ia perempuan gila, ternyata bisa mengeluarkan erangan nikmat ketika jariku masuk ke liang vaginanya yang mulai basah dan pinggulnya ikut digerakkan. Aku kaget ketika perempuan itu tiba-tiba teriak keras “aduh enak banget…… aduh enak…….terus….” terpaksa aku minta temanku membekap mulutnya. Aku perhatikan ternyata temanku menggigil lagi seperti orang sakit malaria. Akhirnya aku membuat inisiatif untuk menyetubuhi perempuan itu dan temanku setuju. Aku memperoleh kesempatan lebih dulu merasakan persetubuhan dan temanku akan berjaga-jaga dari jarak jauh sambil menenangkan hatinya. Kesepakatan lain adalah tidak boleh ada mani yang dikeluarkan dalam vaginanya, agar tidak terjadi kehamilan yang bisa bermasalah dikemudian hari.
Aku sedikit menggiigil ketika aku membuka baju dan celanaku. Penisku yang sudah tegang mulai kuarahkan ke vaginanya. Jari-jariku membuka sedikit bibir vaginanya untuk memudahkan penisku masuk ke dalamnya. Ketika kepala penisku masuk, perempuan itu kelihatannya memahami kalau harus membuka pahanya. Untuk memperlancar, penisku aku tarik dan aku masukkan dengan pelan dan semakin lama semakin dalam. Terasa saat penis aku tarik, ada otot yang menangkap dan menjepit. Ketika penis aku dorong ke depan, ada cengekraman dan denyutan dalam vaginanya, sehingga aku akhirnya mendorong habis penisku sampai habis ke dalam. Aku sangat kaget karena tiba-tiba perempuan gila itu bangkit dan memelukku erat badanku serta menggoyangkan pinggulnya sambil teriak nikmat. Teriakannya cukup keras terpaksa aku atasi dengan menyumpal mulutnya dengan mulutku. Meskipun mulutnya bau tidak enak, tapi rasa vagina yang mulai meremas penisku, ternyata mengalahkan segala bau yang harus aku terima. Penisku mulai bermain maju mundur sambil merebahkan badan perempuan itu. Belum sempat aku menikmati 2 menit, ujung penisku mulai ada rasa desakan yang akan menembakkan cairan. “Oohhh….. hahhhhh…….” terpaksa aku cabut penisku dan aku keluarkan di luar jatuh diantara kedua belah pahanya yang terjuntai. Agar tidak diketahui temanku kalau aku sudah sampai puncak, aku bergaya seolah-olah perempuan itu sedikit binal. Secapatnya penisku aku lap dengan tangan dan aku menarik tangannya untuk memegang penisku. Ternyata dia tahu dan mengarahkan penisku ke dalam lubang kenikmatannya. Aku masukkan dengan sekali terobos kemudian aku kocok dengan binal. Disini aku merasakan betapa nikmat dan beda rasa vagina dengan rasa onani. Tanganku memeras buah dadanya yang masih kenyal dan mulutku mulai melumat puting susunya. Sedotan vaginanya pun semakin kuat dan kembali terdengar suara teriakan keras tanda kenikmatan. Kembali mulutku menyumpal mulutnya. Aku tidak sempat mempertahankan lebih lama agar perempuan ini sampai puncak seperti yang aku lihat di video. Aku kalah lagi ketika terulang desakan dalam penisku tidak terbendung, secepatnya aku cabut penisku dan aku muncratkan di luar vaginanya. Permpuan itu kelihatan kecewa ketika aku mengakhiri kocokan tanpa peduli dia belum sampai puncak.
Aku panggil temanku untuk meneruskan dengan sedikit pesan agar jangan sampai dia teriak kencang saat mencapai kenikmatan. Caranya mulutnya harus dibekap. Aku kemudian menjauh ganti berjaga sambil melepas kepenatan. Tidak lama kemudian perempuan itu teriak sepertinya sebagai tanda kenikmatan dan pantatnya diangkat tinggi. Dari jarak pandang yang cukup jelas ternyata temanku kesulitan membekap mulutnya karena perempuan itu menggoyang-goyangkan kepalanya sangat kencang. Aku kawatir teriakannya ada yang mendengar sehingga aku lari mendekat dan aku bekap. Temanku belum berhasil melepaskan cairan kenikmatannya dan meneruskan mengocok sambil berlutut. Gerakan buah dadanya di bawah terang sinar rembulan terayun seirama kocokan temanku menyebabkan aku tidak tahan untuk memeras dan mengenyot teteknya. Aku lihat temanku menaikkan kedua kaki perempuan itu di pundaknya dan kembali menggenjot dengan kuat. Melihat pemandangan semacam itu ditambah rintihan perempuan, aku tidak tahan membiarkan penisku yang tegang kembali menanggur. Penisku membutuhkan penyaluran tahap ketiga. Aku ambil cara sambil mengenyot teteknya, tangan kiriku mengocok penis dan tangan kananku membekap mulut si perempuan itu. Aku melihat tangan perempuan itu memegang erat pinggiran tempat duduk seolah berusaha bisa mencapai puncak.
Temanku kelihatan lebih perkasa, setelah berjalan 15 menit badanya menegang dan dengan cekatan mencabut penisnya, dia mencapai puncak dan memuntahkan maninya di luar. Secepatnya kedudukan temanku aku ambil alih dan seperti gaya temanku, aku angkat kaki perempuan itu di pundakku, kemudian penisku aku hujamkan kembali di vaginanya. Gerakan mengocok aku lakukan dengan pelan-pelan agar aku bisa bertahan lama dan tidak cepat keluar. Gerakan pelan itu ternyata menambah kuat cengkeraman vaginanya disertai denyutan panjang yang kemudian diikuti gerakan liar pantatnya. Tidak lama kemudian perempuan itu merintih dan teriak panjang “Aduh…….aduh……. ennaaakkkkk banget…….. aaahhhhh” kemudian menjadi jeritan tertahan yang diikuti dengan rangkulan sebagai pertanda ia mencapai puncak. Desakan dalam penisku juga tidak bisa aku bendung lagi dan aku semprotkan maniku di dalam. Aku merasakan betapa nikmat mengeluarkan cairan itu di dalam vagina.
Kami cepat-cepat berpakain dan mengenakan pakaian perempuan itu. Kami mengalami kesulitan ketika mengenakan pakaiannya karena dia sudah tertidur pulas. Kami berdua pulang mengambil jalan memutar supaya tidak ketemu orang. Sepanjang jalan kami berdua diam tidak bicara apapun. Ketika aku mengambil sepedaku di rumahnya, jam menunjukkan pukul 2.30 pagi lebih sedikit. Sampai di rumah aku berbaring dan tidak bisa tidur, masih terbayang rasa kenikmatan yang baru saya rasakan bersama hilangnya keperjakaanku. Maafkan kebiadabanku perempuan.
Mau Booking Cewek Bispak
Home » Posts filed under cerita dewasa umum
Tampilkan postingan dengan label cerita dewasa umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita dewasa umum. Tampilkan semua postingan
Mendidik Pembantu
Aku hidup sendiri, rasanya kalau mengontrak rumah, aku tidak mampu mengurusnya. Mau cari pembantu, rasanya masih ragu. Bukan karena tidak kuat membayar, tetapi rumah dengan segala isinya dipercayakan kepada orang yang baru aku kenal rasanya terlalu riskan.
Keputuskan menyewa apartemen. Sebenarnya ingin yang tipe studio, tetapi dapatnya apartemen 2 kamar. Aku hanya menempati 1 kamar, kamar tidur yang lain aku jadikan gudang.
Rasanya tidak perlu terlalu panjang menceritakan diriku dengan segala macam tetek-bengeknya. Gambaran awal ini hanya aku ingin memperkenalkan diri .
Suatu saat aku mendapat undangan dari salah satu saudaraku. Rumahnya jauh di pelosok pedalaman Jawa Tengah. Aku punya hubungan baik dengan Oom ku ini, sebab ketika aku kecil, dia tinggal di rumahku sambil dia bersekolah sampai tamat menjadi ahli pertanian. Dia sekarang sudah pensiun dan memilih tinggal di pedesaan dengan alam yang sejuk.
Sudah lama aku tidak mengunjunginya. Memenuhi undangan perkawinan anaknya, bagiku sekaligus juga refreshing. Dengan mobil kebanggaan ku aku meluncur sekitar 12 jam baru sampai di rumah Paklikku. Pesta perkawinannya masih 2 hari lagi, jadi belum begitu tampak kesibukan.
Seperti biasa aku disambut bagai tamu besar, karena memang aku adalah satu-satunya tamu yang paling jauh. Aku senang dengan lingkungan rumah Oomku , lahannya luas dan hawanya sejuk. Aku seperti menginap di vila di puncak. Kamarku di lantai 2 memiliki pemandangan yang bagus kearah hamparan sawah yang menghijau.
.Singkat cerita acara perkawinan yang diadakan di rumah berlangsung dengan sukses. Aku masih tinggal di situ 2 hari lagi. Hobbyku mancing di sungai, yang membuat aku betah tinggal di rumah oomku.
Suatu sore sedang aku ngobrol dengan Oomku, istrinya, yang kupanggil Bulik datang bergabung. Dia langsung bertanya, apakah aku di Jakarta tinggal sendiri, sampai siapa yang mengurus rumah dan segala-macam . Tanpa kututup-tutupi aku membenarkan kalau aku hidup sendiri dan mengurus diri sendiri. Dia tanya kenapa tidak ambil pembantu. Lalu alasan yang kukemukakan tadi diatas kubeberkan kepada Bulik.
Bulik kemudian menawarkan kalau mau ada anak yang bisa jadi pembantu. Orang tuanya hidupnya susah dan anak ini terpaksa putus sekolah. Padahal dia masih ingin sekolah, tetapi karena tidak ada biaya jadi berhenti. Dia menawarkan aku kalau bisa membantu menyekolahkan dia sambil jaga rumah dan bantu-bantu membereskan rumah.
Aku tertarik oleh tawaran Bulik lalu aku ingin melihat anaknya. Bulik masuk kedalam . Sejam kemudian dia kembali bersama 2 wanita, satu anaknya yang dimaksud dan satu lagi ibunya. Ibunya memasrahkan aku untuk membantu menyekolahkan dia. Si Anak diam saja dan tertunduk malu. Kuperhatikan anak tersebut masih anak tanggung. Kasihan juga jika dia harus berpisah dengan orang tuanya dalam umur semuda itu. Dia manggut-manggut saja ketika aku tanya benar dia mau pisah ama orang tua dan sekolah di Jakarta. Aku lalu memutuskan untuk menerimanya, setengahnya aku bakal terbantu, setengahnya lagi aku membantu orang .
Mereka kemudian pamit. Aku kembali terlibat orbrolan dengan pamanku. Kami bercerita tentang berbagai hal. Dia banyak memujiku, karena dalam umur semuda ini sudah banyak menjelajah berbagai tempat di dunia. “ Ah itu karena tugas, jadi semuanya dibayari kantor . Kalau bayar sendiri mana kuat,” kataku. Aku lalu menyambung bahwa di sisi lain hidupku gagal. “ Ah ngak-apa-apa dik, laki-laki kalau soal itu nggak perlu kuatir,” katanya.
Sedang kami asyik mengobrol Bulik datang lagi tapi kali ini bawa rombongan. Maksudku selain ibu dan anak yang tadi datang, juga ada Ibu dan anak lainnya.. Bulik menjelaskan, kalau boleh anak yang akan ikut aku membawa temannya serta. Teman sebayanya itu juga drop out karena kesulitan biaya. Bulik mengutip kata-kata anak itu bahwa kalau sendirian di rumah dia takut. Apalagi akunya sering tugas keluar kota dan ke luar negeri.
Aku pikir ada benarnya juga, anak umur 12 tahun tinggal sendirian bisa berhari-hari. Tanpa pikir panjang permintaan itu aku setujui. Aku jelaskan bahwa besok jam 10 sudah siap dan langsung akan berangkat ke Jakarta. Mereka pamit dan berlalu.
Keesokan harinya jam 9 mereka sudah datang dan siap dengan bawaannya. Mereka masing-masing menenteng 1 kardus mi Instan. Aku bertanya kepada Bulik, kenapa mereka tidak membawa tas pakaian, kok malah bawa makanan. Bulik sambil berbisik, mereka tidak punya tas pakaian, jadi di dalam kardus itu adalah pakaian mereka.
Aku jadi terenyuh. Pola pikirku rupanya terlalu metropolitan, sehingga tidak memiliki wawasan pedesaan.
Setelah aku pamit dan kedua anak itu berangkul-rangkulan dengan orang tuanya mereka lalu masuk mobil. Mereka berdua duduk di belakang. Aku biarkan saja, mungkin mereka segan duduk didepan di samping ku dan mungkin juga tidak tahu tata cara pergaulan bahwa salah seorang seharusnya duduk didepan.
Sepanjang perjalanan aku banyak bertanya.. Yang pertama diajukan untuk ikut aku ke Jakarta namanya Ani dan temannya Lia. Mereka sebaya dan masih sangat lugu. Mereka memanggilku Pak. Aku jadinya tambah tua karena sebutan itu..Untuk mencairkan suasana yang kaku, ku ajak mereka bercanda. Akhirnya kami akrab, meski mereka tetap memanggilku Pak. Ah biarkan saja lah.
Dalam persinggahan untuk isi perut. Mereka malu-malu. Aku jelaskan bahwa tempat ini untuk makan dan sekaligus buang air. Jadi kalau tidak dimanfaatkan nanti lapar dan kebelet di tengah jalan. Akhirnya mereka turun berdua dan menuju toilet.
Selepas makan hari sudah mulai sore, kuperkirakan sampai di Jakarta sekitar jam 9 malam. Artinya sampai di Jakarta harus mampir makan dulu baru pulang kerumah. Aku ajak dia makan di gerai fast food. Geraknya agak canggung sehingga aku lah yang terpaksa memesankan makanan mereka. Di restoran itu kontras sekali. Mereka kelihatan ndeso dibanding tamu-tamulainnya yang lagi menyantap hidangan.
Sesampai di rumah kami harus kerja bakti dulu membereskan ruang tidur kedua yang aku jadikan gudang. Untungnya aku mempunyai kasur gulung, jadi meskipun sempit mereka bisa manfaatkan untuk tidur di situ berdua.
Aku prihatin sekali dengan keadaan mereka. Baju yang mereka bawa hanya 3 pasang, itu pun sudah kumal. Aku berjanji di dalam hati, mereka akan kuubah menjadi gadis metropolis yang keren, berapa pun biayanya akan aku bayar.
Pada hari libur aku ajak mereka berbelanja pakaian. Aku bawa ke departemen store. Entah karena malu dan segan atau bingung memilih, mereka tidak juga menentukan pilihan. Aku terpaksa turun tangan. Mereka aku belikan celana jean, kaus, pakaian dalam lalu sepatu dan sandal. Pindah lagi ke tempat lain aku belikan lagi stelan lain. Aku memilih model dengan hanya menebak-nebak saja. Paling tidak karena dipajang bagus yang yang kayak itu saja .
Sekembali ke rumah mereka aku minta mereka menjajal pakaian yang tadi kubelikan. Mereka senang menerima pemberianku . Tapi menurut penglihatanku tampilan mereka masih kelihatan ndesonya. Aku bukan ahli fashion, tapi kuingat ada teman cewek di kantorku yang selalu chik kalau berpakaian . dia akrab denganku bahkan sering curhat juga.
Suatu hari temanku, namanya juga Lia, kuajak makan siang dan kujelaskan bahwa aku perlu bantuan untuk mendadani , aku sebut saja saudaraku dari kampung . Dia setuju. “ Tapi ada feenya lho,” katanya bercanda.
Kami akhirnya jalan berempat ke Mangga Dua. Lia sibuk mencari dan mencocokkan baju-baju dan segala macam pernak perniknya. “ Berapa nih budgetnya,” tanya dia.
“Yah sejuta lah, seeorang cukup kan,” kataku. Yang disambut anggukan dan langsung disambar dengan jawaban “Feenya 10 persen” katanya.
“Beres,” kataku.
Dari pagi jam 11 sampai jam 3 sore baru selesai urusan belanja. Lia mengatakan kepada ku bahwa mereka juga harus dirapikan rambutnya. Aku pasrahkan saja. Lia memintaku menuju salon langganannya.
Tampilan kedua anak ini mulai agak bening. Meski kulitnya masih terlihat gelap, tetapi dengan dandanan rambut baru, mereka sudah mulai kelihatan modern.
Ku tanyakan ke Lia, apa tadi sudah dibelikan perlengkapan seperti bedak dan segala pernak-pernik perempuan. Dia bilang belum dan aku diminta singgah ke Pasar Baru. Di situ segala alat kosmetik dan entah apalagi di beli oleh Lia.
Buset belanjaku untuk kedua anak ini jadi banyak juga. Tapi tidak apa-apa, yang penting mereka jadi kelihatan tidak ndeso lagi.
Setelah sebulan mereka berada di rumahku mereka mulai trampil memasak dengan gas, dengan oven mengoperasikan mesin cuci, memanasi makanan di microwave, memasang DVD sampai main game online di komputer.
Tugas ku berikutnya adalah mencari sekolah mereka. Urusan ini tidak terlalu sulit jika ada pelicin. Aku mencari SMP yang dekat dengan apartemenku. Paling tidak mereka bisa naik bis satu kali pulang pergi
Mereka melanjutkan jenjang kelas 2 SMP. Pergaulan di sekolah membanntu sekali mengubah cara hidup desa menjadi kota. Mereka sudah mulai berbicara bahasa gaul ala Jakarta.
Aku memperlakukan mereka tidak ada jarak. Mereka sudah kuanggap sebagai keluarga sendiri bukan sebagai pembantu. Jadi kalau nonton tv, ya kami sering duduk satu sofa.
Tidak terasa sudah setahun kami hidup bersama. Kedua mereka sudah tidak canggung lagi terhadapku, meskipun masih memanggil Pak. Kedua mereka cenderung manja dan sudah tidak ragu-ragu minta handphone segala. Permintaannya kupenuhi dan kuberi mereka masing-masing HP berkamera yang juga bisa menyimpan banyak lagu.
Mereka sudah berubah menjadi anak metropolitan. Selama setahun di Jakarta aku belum berkesempatan mengajak mereka rekreasi. Pada liburan berikutnya kami bertiga ke Dufan.
Giliran libur berikutnya kami ke gelanggang renang, juga di Ancol kami mengambil ruang ganti keluarga. Ani dan Lia tidak canggung-canggung lagi berganti pakaian walau ada aku di situ.
Aku memang membiasakan mereka dirumah untuk bebas dan tidak perlu harus merasa malu. Jadi mereka di rumah sudah biasa keluar kamar mandi hanya dengan berbalut handuk atau hanya mengenakan celana dalam dan singlet tanpa BH. Aku pun sering juga keluar kamar mandi hanya dengan celana dalam saja.
Bukan itu saja aku juga sering ngeroki mereka dengan uang logam jika mereka demam. Tentu saja mereka hanya mengenakan celana dalam dan tidur telungkup. Aku tidak berminat menggarap mereka, bukan karena aku gay, tapi seleraku adalah wanita dewasa.
Mereka sudah seperti anakku yang manja. Kalau aku menonton TV di ruang tengah, mereka suka melendot di kiri kananku. Dalam posisi seperti itu, tentunya mereka aku peluk di kiri dan kanan.
Ani sudah tumbuh menjadi gadis manis. Tidak ada lagi terpancar aura wanita desa. Rambutnya lurus sebahu dan gerak geriknya cenderung centil. Lia badannya lebih tinggi sedikit dari Ani dan kelihatannya buah dadanya lebih dulu berkembang dari sahabatnya.
Seperti umumnya anak-anak, mereka adakalanya tidak akur dan bermusuhan. Kalau sudah saling diam, aku lalu mendamaikan mereka. Biasanya aku selalu menanamkan kepada mereka bahwa saling berdiam itu bukan cara bermusuhan yang bagus. Cobalah terus mengajak omong walau didiamkan, Jika dia menyahut, berarti kamu yang menang kata ku kepada Lia. Kepada Ani hal itu juga kutanamkan.
Tapi dasar masih anak-anak menjelang remaja, emosi mereka sering mengalahkan logika. Kalau mereka sedang bermusuhan, salah satunya pasti minta tidur dikamarku. Kamarku memang terbuka, dan mereka bebas keluar masuk.
Kalau mereka tidur di kamarku, aku tidak menggoda atau melakukan apa-apa. Aku pikir mereka juga masih anak-anak, jadi masih ingin manja. Aku memang memanjakan keduanya. Tidak pernah sekalipun kumarahi. Mereka pun sangat mengerti bahwa aku mengidupi dan menyekolahkan mereka, sehingga tanggung jawabnya mereka penuhi benar-benar.
Tubuh mereka cepat sekali berkembang, aku tidak terasa bahwa mereka sudah 5 tahun tinggal bersamaku. Ani dan Lia sudah hampir tamat SMA. Walau pun mereka sudah tumbuh menjadi gadis dan usia mereka kini 17 tahun sikap mereka masih sering seperti anak kecil. Dada Lia sudah tumbuh cukup montok BHnya 34 B, sedang Ani 34 A. Aku tahu sebab jika mereka belanja pakaian dalam selalu minta aku menemani. Bukan itu saja kalau mereka belanja ke mall selalu menunggu aku punya waktu luang. Alasannya mudah ditebaklah, biar aku yang mentraktir mereka.
Walau badan mereka sudah tumbuh seperti gadis dewasa tetapi kelakuannya masih saja seperti anak-anak. Mereka sering minta tidur bersama ku, atau juga masih ngelendot.
Aku menjaga benar untuk tidak berbuat macam-macam dengan mereka. Aku merasa mendapat tanggung jawab dari orang tuanya, Jujur saja setelah mereka besar begini, jika mereka memelukku atau tidur bersamaku, penisku tegang juga. Tapi sejauh ini masih bisa kutahan.
Selama aku menduda, aku menyalurkan hasrat sexku dengan selingkuhanku. Dan kami selalu berbuat intim di motel-motel. Oleh karena itu aku tidak tertarik kawin lagi. Trauma beristri yang dahulu masih mengendap di dalam otakku. Dalam keadaan duda begini aku bisa bebas mendekati perempuan yang mana pun dan aku bisa melampiaskannya kepada mereka. Urusan di rumah aku tidak pusing lagi, karena ada 2 gadis yang mengurusnya. Jadi buat apa aku kawin lagi.
Ani dan Lia terbuka sekali. Dia selalu bercerita jika ada teman prianya yang naksir. Aku lalu memberi pandangan sesuai dengan keinginan mereka. Namun sampai sejauh ini mereka belum punya gebetan yang tetap. Ketika aku tanyakan kepada mereka kenapa belum punya pacar. Alasan klasik, ingin memusatkan belajar supaya pikiran tidak bercabang. Namun ada alasan yang aku bingung adalah mereka mengaku sayangnya cuma kepadaku.
Jika dulu waktu masih SMP mereka tidak pernah tidur di kamar ku, sekarang praktis malah mereka tidak pernah tidur di kamarnya. Manjanya makin menjadi-jadi.
Suatu hari Lia bercerita kepadaku, “ Pak si Andi tadi mencium pipiku, dia mau cium bibirku, tapi aku gak mau, takut Pak, “ katanya.
Aku katakan bahwa orang pacaran itu wajar jika ciuman di bibir. “ Aku kan nggak pernah dicium bibir Pak, malu dong kalau nanti aku nggak bisa,” katanya dengan nada polos. Dengan santainya dia berucap, “ Pak ajarin dong Lia ciuman bibir,” permintaannya itu bagai petir di siang bolong. Beberapa saat aku terdiam, bingung mau menjawab apa.
“Lia ciuman itu tidak perlu belajar, nanti kamu bisa sendiri, semua orang juga tidak ada yang belajar ciuman, kamu ini lucu,” kataku agak sedikit berusaha mengelak.
“Ah Bapak, Lia ingin belajar dari Bapak, Bapak jahat nggak mau ngajarin, “ katanya setengah merajuk.
Tidak ada lagi kata-kata untuk menolak permintaan Lia. Sehingga kemudian Lia kuminta duduk di sofa dan aku duduk didekatnya . Aku jelaskan mengenai tahapan orang berpacaran itu dalam bercium. “ Kamu perhatikan ya , sini Bapak peluk ,” kata ku sambil memeluk.
Aku menciumi dahinya, lalu pipinya dan pelan-pelan merayap ke bibirnya. Bibirnya sudah tengadah segera terbuka, Aku lalu memagutnya dan melakukan french kissing. Nafas Lia memburu. Ketika aku lepas ditariknya lagi kepalaku dan kini dia yang aktif menyerang dan memagutku. Aku mainkan lidah ke dalam rongga mulutnya dan dia membalas. Aku merasakan betapa empuknya payudaranya menempel di dadaku.
Kami berciuman sekitar 5 menit lalu kusudahi. Lia bersandar di dadaku sambil memelukku erat sekali. Nia yang dari tadi menonton adegan kami kemudian protes. “Aku juga diajari dong Pak, masa Lia aja,”
Aku turuti kemauannya, kami pun lalu berpagut dengan mesra. Kedua mereka kemudian memelukku dari sisi kiri dan kanan. Keduanya mengucapkan, “Aku sayang bapak.”
Sejak saat itu setiap kali aku akan berangkat kerja, atau kembali kerumah mereka selalu menyambutku dengan ciuman mesra. Bahkan kalau mau tidur mereka selalu minta berciuman.
Aku merasa lama-lama benteng pertahananku bisa jebol juga. Tapi aku berusaha sekuat mungkin jangan sampai jebol, makanya mereka aku arahkan agar berpacaran saja, sehingga birahi mereka yang mulai berkembang tidak bertumpu kepadaku. Tapi anjuranku yang satu ini tidak pernah berhasil.
Setelah mereka lulus SMA, mereka kuliah di jurusan ekonomi manajemen. Keduanya makin cantik dan sexy. Aku sering mengajak keduanya berdugem ria. Lia dan Nia kuajari untuk bisa sedikit menghirup minuman beralkohol rendah, seperti whisky soda, bir dan sejenisnya. Kami biasanya pulang dugem sudah agak teler sedikit, sehingga tidur dengan baju yang kami kenakan tadi.
“Pak kalau orang pacaran itu ngapain aja sih pak, “ kata Nia dengan polosnya. Aku geleng-geleng kepala melihat pernyataan mereka. Sesungguhnya mereka sudah menjadi gadis metropolis, tetapi otak kampungnya masih ada juga. Aku mau jawab apa dari pertanyaan ini.
Aku jelaskan bahwa berpacaran itu awalnya saling berpegang tangan, lalu berciuman dan saling meraba. “ Meraba apaan Pak,” kata Lia menyambung.
Aku berpikir sejenak, ini kalau aku teruskan aku memasuki zona bahaya. Tapi kalau aku tolak rasanya akan mengecewakan mereka. Toh selama ini kami sudah saling terbuka. “Ayo dong pak ajari aku pacaran,” kata Lia juga Nia.
Kepalaku penuh, berperang antara rangsangan dengan pertahanan, sampai akhirnya Lia menubrukku dan menciumku dengan agresif. Pertahananku jebol, aku menyambut ciumannya dan selang beberapa saat kemudian tanganku mulai meremas susunya dari luar bajunya . aku menciumi lehernya dan tanganku pelan-pelan masuk ke dalam bajunya sampai bisa meraih kedua bukit kenyal. Aku berusaha membuka bajunya lalu kedua susunya kuciumi dan pentilnya aku kulum-kulum. Setelah sekitar setengah jam aku berhenti. Lia berkeringat terbaring disofa dengan dada telanjang. Buah dadanya indah sekali dengan puting yang kecil dan bongkahan yang menggairahkan.
“Enak ya Li,” kata Nia yang dari tadi menyaksikan percumbuan kami. Aku bangkit lalu ke kamar mandi dan berusaha mandi untuk menurunkan suhu badan yang sudah memuncak.
Sekembali ke ruang tengah aku dipeluk dan dicium Lia. “ Pak makasih ya Pak, aku sekarang udah ngerti kenapa orang pada pacaran, abis rasanya enak sih,” katanya. Aku diam saja dan mengangguk.
Malamnya ketika mereka tidur bersama, Nia minta giliran diajari pacaran. Demi keadilan aku terpaksa memenuhi keinginan Nia. Aku tidak sekedar mencium dan menelanjangi dadanya, tetapi tanganku menjulur juga masuk ke rongga belahan kemaluannya. Aku memainkan clitorisnya sampai dia terengah-engah mendesis lalu berteriak lirih. Mungkin dia mencapai orgasmenya yang pertama seumur hidup.
Lia yang tiduran dibelakangku menarik tubuhku sampai menghadap ke dia dan menciumi aku. Aku juga membalas dan cumbuan kulanjutkan sampai meraih clitorisnya. Dia pun mendesah-desah dan akhirnya berteriak lirih.
Kami selanjutnya setiap malam selalu bercumbu demikian lalu berakhir kedua mereka tidur dalam keadan bugil. Mereka selalu minta dicumbu setiap malam sampai cumbuan aku tingkatkan dengan mengoral keduanya.
Aku rasa tingkat oral itu adalah yang terjauh yang boleh aku lakukan, selanjutnya aku harus bertahan.
Namun aku tidak mampu bertahan. Malam-malam berikutnya akhirnya aku pun minta dioral. Sebabnya kepalaku pening, karena sperma menumpuk tidak tersalurkan. Mereka trampil sampai menelan semua spermaku. Selepas itu kami pun tidur bertiga dalam keadaan bugil.
Entah hari apa aku lupa mengingatnya, Tengah malam aku terbangun karena ada sesuatu kurasa di kemaluanku. Aku intip dengan mata setengah tertutup, ternyata Lia mengoralku. Penisku yang tadi tidur jadi bangun dan mengeras. Aku berusaha pura-pura tertidur, menunggu apa yang akan dilakukan Lia.
Setelah mengoral dan aku berusaha menahan diri agar tidak ejakulasi, Lia kemudian bangun dan jongkok di atas penisku. Penisku dibimbingnya ke liang vaginanya dan dia berusaha memasukkan penisku ke vaginanya. Aku diam saja dan mau tahu sampai sejauh apa niatnya. Ternyata dia memaksakan penisku masuk ke vaginanya , walaupun dia berteriak lirih kesakitan, tetapi tetap berusaha menekan vaginanya ke penisku. Meski agak seret dan sulit akhirnya penisku semua terbenam. Lia berhenti sebentar dan dia meraba penisku, mungkin ingin memastikan sudahkah semua terbenam ke dalam vaginanya. Dia lalu menaik-turunkan pinggulnya . Rasanya sempit sekali, sehingga aku tidak mampu bertahan lama maka memancarlah spermaku ke dalam vaginanya. Mungkin Lia tidak tahu, dia tetap menggerak-gerakkan badannya sampai akhirnya penisku lepas dan lemas. Melihat penisku lepas dan lemas dia lalu bangkit dan tidur disebelah memelukku
Nia rupanya sudah terbangun dari tadi dan dia menonton aksi temannya. Mungkin dia terangsang atau memang dia menunggu giliran. Penisku dibersihkan dengan handuk basah oleh Nia. Aku tetap pura-pura tidur. Penisku masih loyo. Nia mulai mengoralku. Mendapat serangan oral, pelan-pelan penisku mengembang sampai akhirnya keras. Nia lalu mengikuti cara Lia tadi Dia jongkok diatasku lalu memegang penisku dan membimbing penisku ke vaginanya. Berkali-kali jika ditekan penisku meleset. “Li nggak bisa masuk, susah. “ kata Nia lirih.
Nia bangkit dan memegang penisku lalu ditepatkan ke depan liang vagina. Dia memerintahkan Nia agar dengan kedua tangannya membuka bibir vaginanya. Lia menginstruksikan agar Nia mulai merendahkan badannya. Penisku terasa menerobos masuk ke gerbang vagina sampai kepalanya terbenam. Nia berhenti dan dia mendesis sambil berkata,” Sakit Li, perih,” kata Nia.
“Tahan aja sebentar, gak apa-apa kok, coba sekarang tekan yang keras, “ kata Lia.
Nia menuruti perintah Nia dan dia berteriak kesakitan, tetapi semua penisku sudah terbenam. “ Aduh Li ngilu, perih,” Nia merintih dan dia tidak melakukan gerakan. Mungkin ada sekitar semenit Nia mulai melakukan gerakan.
“Gimana udah bisa masuk,” tanya Lia.
“Udah tapi masih perih, tapi enak juga ngganjel di dalam,” kata Nia.
Nia mulai menggerakkan badannya naik turun. Kadang-kadang sampai lepas. Tetapi ketika dimasukkan kembali tidak terlalu sulit sudah bisa terbenam lagi. Vagina Nia sudah licin oleh cairan pelumasnya. Dia kemudian bergerak maju mundur dan makin lama makin cepat sambil mendesis-desis, sampai akhirnya dia berteriak mendapat orgasme. “ Aduh enak banget Li, plong rasanya,” kata Nia.
Lia penasaran, karena dia mengaku kepada Nia tidak ada rasa enak, cuma rasa perih saja. “ Coba aja lu cobain sekarang,” kata Nia.
Lia bangkit lagi dan memegang penisku yang masih keras dan digosok-gosokkannya ke clitorisnya. Aku merasa ujung penisku ngilu, tapi tetap bertahan. Lia mulai mencoba memasukkan penisku ke vaginanya. Meski masih agak sulit, tetapi bisa juga masuk sampai terbenam seluruhnya. “ Masih sakit,” kata Lia.
“Sebentar aja juga ilang, coba deh.”
Lia mulai menggoyang badannya naik turun. Seperti dengan Nia Tadi, mungkin karena terlalu hot, penisku berkali-kali lepas. Akhirnya Lia melakukan gerakan maju mundur. Dia mulai mendesis desis. Aku mendengar dia Lia merintih keenakan, nafsuku jadi tinggi, rasanya sudah tidak mampu lagi menahan ejakulasi. Aku berusaha menahannya selama mungkin tetapi akhirnya meledak juga. Namun sesaat kemudian Lia juga mencapai orgasme. Mungkin denyutan semburan spermaku didalam vaginanya mengantar dia mencapai orgasme. Lia ambruk menindih badanku dengan badan penuh keringat.
Aku bangun dan kukatakan kepada mereka bahwa mereka memperkosa aku. “ Abis enak sih pak,” kata Nia.
Keesokan paginya ketika sarapan bersama aku tanyakan kepada mereka, kenapa berani berbuat sejauh itu. Keduanya dengan kepala tertunduk mengatakan bahwa sebenarnya sudah lama keinginan itu. Tapi menurut mereka aku tidak juga tergoda untuk memulai. Nia lalu angkat bicara bahwa mereka mencari cara bagaimana supaya bisa bercumbu dengan aku. Permintaan mereka diajari bercium dan berpacaran sebenarnya adalah strategi untuk aku agar mau bercumbu . “ Maaf ya pak, abis kami sayang banget ama Bapak,” kata Lia menyambung penjelasan Nia.
Setelah itu aku terpaksa membeli pil KB agar mereka tidak sampai hamil. Aku jadi seperti punya dua istri yang sekaligus tidur bersama. Kami aktif melakukan hubungan untuk selanjutnya.
Setelah mereka menyelesaikan kuliah dan bekerja, mereka minta diriku untuk menikahi mereka. Mereka minta dinikahi sekaligus. Aku bingung bagaimana caranya melakukan akad nikahnya, lalu bagaimana duduknya di pelaminan dalam pesta resepsi. Ngaaaaaak kebayaaannng.
Mau Booking Cewek Bispak
Kecil-kecil Suka Masturbasi
Aku ingin mendokumentasikan kisahku, sebab masih sering terbayang-bayang dalam benakku kejadian yang sudah lama sekali. Mudah-mudahan dokumentasi ini menjadi cerita yang menarik juga.Aku mulai mendeskripsikan kehidupanku. Sebagai laku-laki yang baru memiliki anak satu sebetulnya aku sudah tidak suka tinggal di rumah mertuaku. Aku sendiri punya rumah membeli dengan cara nyicil, Istriku juga mendapat fasilitas dari kantornya menyicil rumah. Jadi kami mempunyai dua rumah. Tapi kedua rumah itu tidak kami tempati, malah nebeng di rumah mertua.
Istriku beralasan, anak tidak ada yang mengurus, kalau dia kerja. Kami berdua memang bekerja. Istriku kurang bisa mempercayakan anak diurus oleh baby sitter. Itulah sebabnya kami menempati satu kamar di rumah mertuaku. Anak ku laki-laki yang baru berumur 2 tahun diurus oleh mertuaku dan kakak istriku yang belum menikah. Itulah potret keluargaku.
Suatu saat di rumah ini ada tambahan anggota keluarga baru, seorang anak perempuan berumur 1tahun. Dia adalah anak hasil hubungan diluar nikah dari salah satu keponakan istriku yang tinggal di Surabaya. Anak ini diambil mertuaku dari pembantu. Mungkin karena kehadiran anak ini tidak dikehendaki maka beberapa saat setelah lahir dia diberikan kepada pembantu.
Tragis memang kisahnya, tetapi kupersingkat saja, karena kisah Angel begitu namanya, teralu panjang dan bisa menghilangkan kosentrasiku pada masalah yang akan kuceritakan berikut ini.
Angel sejak usia 1 tahun sudah ikut dengan keluarga mertuaku. Dari raut wajahnya kelihatan bahwa dia keturunan china. Ayahnya memang keturunan China sedang ibunya Jawa.
Pada umur sekitar 5 tahun, ketika dia mulai sekolah di TK, aku dan istriku sering melihat Angel merogoh kemaluannya sambil tidur telungkup. Tangannya masuk ke dalam bajunya dan mungkin jarinya menekan-nekan kemaluan. Kalau sudah gitu aku dan istriku sering melihat dia mengejang sebentar lalu berhenti, sebentar lagi mengejang lalu berhenti lagi. Istriku sering memarahi Angel agar jangan mengobel-ngobel kemaluannya.
Tapi Angel kembali melakukan itu. Jika dia melakukannya di depanku dan hanya kami berdua yang menonton TV aku menikmati pemandangan itu. Angel biasanya nonton TV di karpet. Sedang aku di sofa. Aku membiarkan saja dia melakukan aktifitas masturbasinya, karena akupun menikmati pemandangan betapa dia sedang merasa nikmatnya berkat kemaluan dimainkan oleh tangannya sendiri.
Angel mungkin tidak tahu bahwa hal itu adalah perbuatan yang memalukan. Dia juga tidak menyadari bahwa kegiatannya itu adalah masturbasi. Aku menduga dia menemukan sendiri kegiatan masturbasi itu secara tidak sengaja. Dan itu kelihatannya sudah sejak lama dia lakukan.
Kami semua menyayangi Angel, karena nasibnya yang tragis ketika lahir ke dunia. Aku sering membelikannya mainan, baju dan alat-alat sekolah. Sesungguhnya kebaikanku terhadap Angel itu tidak ada maksud apa-apa, ya tanpa pamrihlah.
Kegiatannya sering bermasturbasi itu membawa aku pada kesimpulan, “mungkin Angel mempunyai nafsu sex yang tinggi.”. Dugaan itulah yang kemudian membuatku penasaran ingin mengetahui setinggi apakah nafsunya. Aku tidak mungkin berduaan dalam kamar di rumah itu, karena rumah itu banyak penghuninya . Aku kemudian berusaha mencari jalan, bagaimana caranya agar aku bisa melihat kemaluannya.
Aku memang sering mengajak dia pergi berdua mengendarai sepeda motor. Aku baru bisa punya motor saat itu. Kami kadang-kadang pergi ke Mall, atau ke tempat permainan anak-anak. Aku belum bisa mengajak anakku serta karena dia masih berumur 2 tahun. Angel seperti menjadi anakku juga kemudian. Semua keluarga di rumahku memaklumi.
Suatu ketika aku mengajaknya ke sumber air panas belerang yang kira-kira kalau pakai motor butuh waktu satu jam. Aku beralasan kepada keluargaku membawa dia kesana, karena badannya banyak bintik=bintik seperti koreng dan gatal. Kulitnya jadi tidak putih mulus. Angel tentu mau saja.
Di tempat pemandian air panas itu tersedia kamar-kamar mandi. Aku menyewa satu kamar mandi. Di dalam aku menyuruh Angel untuk membuka bajunya semua dan aku akan memandikannya. Dia mulanya agak ragu, karena belum pernah bertelanjang didepanku. Umurnya kalau tidak salah ingat waktu itu sekitar 6 tahun. Dia kemudian menurutiku dan membuka semua bajunya. Sementara aku tetap berpakaian lengkap hanya menggulung celana panjangku.
Dengan gayung yang tersedia aku mulai menyiram tubuhnya pelan-pelan sampai dia bisa menyesuaikan diri dengan panasnya air belerang. Aku mengguyurnya berkali-kali. Setelah diguyur aku mulai menggosok badannya dengan tangan. Mulai dari tangannya, badannya, kakinya seperti sedang memandikan bayi. Aku juga membersihkan kemaluannya dengan menggosok sambil menguyurkan air.
Pikirnku sudah tinggi dan kemaluanku menegang, meski yang kupegang hanya kemaluan anak berumur 6 tahun. Masalahnya anak ini menurut dugaanku punya nafsu yang besar. Angel kemudian ku suruh duduk di pinggir bak . Dia naik ke pinggir bak lalu ku suruh jongkok menghadapku. Aku mengatakan kepada dia mungkin di bagian kemaluannya ada luka kecil, atau koreng yang rasanya gatal, sehingga aku perlu melihat sudah seberapa banyak koreng di situ. Dia percaya dan menuruti kemauanku sehingga dia berjongkok di bibir bak. Kemaluannya terbuka dan jelas terlihat. Aku pura-pura mencari koreng di sekitar kemaluannya. Kulihat tidak ada koreng sebenarnya di situ.
Aku menanyakan apa kemaluannya sering terasa gatal. Angel mengangguk. Aku lalu membuka kemaluannya lebih lebar seperti mencari dimana ada koreng. Padahal aku hanya ingin melihat kemaluannya. Kemaluannya kelihatan kecil dengan lubang merah kecil dan lipatan bibir dalam yang menonjol.
Aku pegang-pengang sekitar kemaluannya lalu di bagian clitoris aku tekan pelan lalu melakukan gerakan dalam istilah bahasa jawa diuyek ( sorry belum menemukan padanan katanya dalam bahasa Indonesia). Angel mengejang. Aku tanya kenapa dia seperti orang gregetan, apa ada rasa enak jika bagian situ disentuh dan diuyek. Angel dengan polosnya mengangguk.
Dia lalu kutanyai soal dia suka menguyek bagian situ. Dia membenarkan , kata dia rasanya enak. Posisi jongkok di bibir bak selain labil dan mudah jatuh juga menyulitkan bagiku menguyeknya lebih lama. Dia kuminta berbalik duduk di pinggir bak dengan kaki masuk menyentuk air di dalam bak. Sambil kupeluk aku mulai menguyek clitorisnya. Angel bergetar badannya dan mengejang-ngejang merasakan geli dan enaknya akibat rangsangan yang kuberikan di clitoris. Namun dia mengejang, lalu tenang kemudian mengejang lagi lalu tenang lagi. Aku jadi tidak paham, apa dia orgasme atau hanya merasakan geli nikmat saja.
Aku minta dia berbalik dan duduk menghadapku. Aku katakan aku bisa membuatnya lebih enak lagi. Dia lalu berbalik dan duduk mengangkangiku. Kemaluannya aku jilat dan jilatanku langsung ke clitorisnya. Begitu clitorisnya tersentuh lidahku Angel langsung mengejang-ngejang. Dia terus mengejang-ngejang sambil memegangi kepalaku. Aku terus melakukan oral di clitorisnya sampai dia kemudian mengejang dan berteriak agak tertahan . Kemaluannya berkontraksi. Disini baru aku yakin bahwa dia mencapai orgasme. Dia mengaku rasanya enak sekali. Dia memanggilku mas, Padahal secara hirarki harusnya dia memanggilku kakek. Entah kenapa asal mulanya dia bisa memanggilku mas. Padahal umurku ketika itu baru 28 tahun.
“Enak banget mas,” katanya.
Aku tanyakan apa pernah merasa enak begini. Dia menjawab dengan gelengan kepala. Aku minta dia tidak menceritakan hal ini kepada siapa pun. Dia rupanya paham. Aku jelaskan kepada dia agar jangan melakukan masturbasi di depan siapapun di rumah. Aku yang akan membantunya jika dia ingin bermasturbasi. Dia paham.
Sejak kejadian itu Angel tidak pernah lagi bermasturbasi di depan umum. Dia selalu memberi kode aku jika dia lagi ingin. Kebetulan rumah mertuaku cukup besar dan di belakang rumah ada kebun yang kurang terurus. Di kebun itu sering dijadikan tempat bermain seperti bermain rumah-rumahan dan sebagainya. Di kebun belakang itulah aku sering mengoral dan memasturbasi Angel.
Angel makin manja dan makin dekat denganku. Tapi orang serumah tidak ada yang menyangka bahwa kami telah melakukan kegiatan sex. Angel hampir 2 hari sekali selalu minta dipuaskan. Aku jadi yakin oleh dugaanku sebelum ini bahwa dia hipersex.
Suatu hari aku mengajaknya berenang ke Ancol. Aku menyewa ruang ganti keluarga. Di ruang ganti itulah untuk pertama kalinya aku telanjang di hadapan Angel. Dia heran melihat kemaluanku yang ngacung. Aku menyuruh dia untuk memegang. Sambil duduk dilantai dia memegang-megang barangku. Keinginanku meningkat ingin pula di oral. Dia lalu kuajari mengoral batang penisku. Dia tidak menolak sama sekali, malah dengan segera dia mengulum penisku. Namun kulumannya masih belum tepat sehingga harus kuajari cara yang harus dilakukan sebenarnya.
Sebentar saja ditraining dia sudah bisa melakukan dengan benar. Rasa enaknya sampai ke ubun-ubun. Kalau dikulum rasanya tidak ada bedanya antara yang melakukan wanita dewasa atau anak-anak. Menjelang akan ejakulasi kepalanya kutarik dan kujauhkan dari penisku. Spermaku menyembur berkali-kali. Angel heran kenapa kencing warnya putih dan kental. Aku jelaskan soal ejakulasi dan sperma sampai akhirnya dia mengerti.
Dia rupanya terangsang oleh aktifitas mengulum dan melihat ejakulasiku. Dia minta kembali dioral. Aku lalu mengoralnya sampai dia orgasme. Aku jadi ingin memasukkan penisku ke kemaluannya. Sebenarnya aku tidak yakin apakah kemaluan anak umur 6 menjelang 7 tahun sudah bisa diterobos oleh penis.
Namun nafsu mengalahkan semuanya. Saat penisku mulai menegang aku mencoba memasukkan penisku ke vagina Angel. Sulit sekali masuknya dan dia kesakitan Aku berkali-kali mencoba dan melumuri kepala penisku dengan ludah tapi masih belum berhasil. Aku mengehentikan usahaku. Kami kemudian berenang sampai puas.
Selesai berenang di ruang ganti aku mencoba lagi dengan melumuri kepala penisku dengan ludah tetap sulit meski kepala penisku sudah mulai masuk. Namun tidak bisa maju lagi, karena Angel kesakitan dan penisku juga seperti menemui lubang buntu,.
Kami pulang dan aku memendanm kecewaan sekaligus penasaran. Pada saat itu aku belum pernah mendapat bacaan bahwa anak umur 7 tahun yang disetubuhi. Internet di masa itu belum ada, bahkan handphone saja belum pernah kudengar.
Aku masih memasturbasi Angel, karena dia suka sekali dengan kegiatan itu. Aku suka juga tetapi penasaran. Pernah suatu kali aku coba memasukkan kepala penisku yang telah kulumuri cream dan lubang vaginanya juga aku lumuri. Dia kupangku, dan kucoba menusuk vaginanya dengan cara Angel merendahkan badannya, Batas masuknya cuma kepala penisku saja. Itupun kulihat kemaluannya seperti terkuak secara paksa. Namun Angel tidak mengeluh sakit seperti pada waktu awal penetrasi. Rasa sakit memang masih dikeluhkan, tetapi dia tidak menolak kalau kuajak beradu kelamin.
Sebulan kemudian aku mengajaknya berenang lagi di Ancol. Kali ini aku mempersiapkan cream pelicin. Di kamar ganti aku memulai lagi usaha penetrasi. Angel tidak merasa sakit. Aku memainkan keluar masuk kepala penisku. Rasanya nikmat juga meski hanya membenamkan kepala penis. Aku mencoba menyodok lebih dalam tapi masih terasa buntu. Aku bertahan pada posisi terjauh masuknya penisku, walau itupun cuma bagian kepala saja. Pada posisi itu aku berkontraksi sambil agak menekan sedikit. Penisku berhasil masuk sedikit, lalu buntu lagi. Aku berkontraksi, tetapi tidak memaksa mendorong. Sampai rasa sakit di vagina Angel reda, baru aku dorong sedikit. Aku merasa seperti ada yang pecah atau patah, pokoknya kesannya krek dan penisku lolos masuk kedalam . Angel menangis katanya sakit sekali. Aku minta dia sabar dulu. Aku pun diam tidak melakukan gerakan sampai nangisnya reda. Penisku memang terasa sekali memasuki lubang yang sempit. Rasa nikmat menjalari tubuhku meskipun aku tidak menggerakkan penisku. Aku tidak bisa menahan lagi dan ejakulasiku pecah di dalam vagina Angel. Sampai selesai aku berejakulasi baru pelan-pelan aku mencabut penisku.
Vaginanya berdarah dan aku berusaha meredakan tangisnya. Setelah dia reda aku menghiburnya dengan mengucel clitorisnya. Angel terangsang sampai dia mencapai orgasme. Melihat Angel orgasme aku jadi terangsang dan penisku menegang kembali.
Aku ingin mencoba lagi, meski Angel agak takut. Namun aku bujuk sampai akhirnya dia merelakan. Kemalauan Angel yang basah oleh cairan maniku dan cairan dari vaginanya membuat jalan masuk jadi licin. Dengan mudah aku bisa membenamkan penisku sampai bagian kepala sampai setengah batang. Selanjutnya masih sempit dan Angel merasa perih. Aku coba mendorong, penisku relatif lebih mudah maju ke dalam. Aku coba menarik sedikit dan mendorongnya lagi sedikit, ternyata agak lancar aku lakukan gerakan agak jauh, ternyata bisa. Aku lalu mengenjot pelan-pelan penisku kedalam rasanya nikmat sekali dan sempit sekali. Aku tidak mampu bertahan lama dan meledak kembali ejakulasiku sampai vaginanya banjir oleh air spermaku.
Aku menyudahi permainan dan mencuci kemaluan Angel sampai bersih dari spermaku. Dia mengeluh perih ketika disiram air. Saat berjalan ke kolam renang katanyanya kemaluannya masih terasa perih, sehingga jalannya agak aneh.
Kami berendam lama di kolam renang sampai Angel merasa kemaluannya tidak perih lagi. Ketika jalan kembali ke ruang ganti, katanya kemaluannya masih agak perih, tapi tidak seperti waktu pertama jalan tadi. Jalannya juga tidak janggal lagi, sudah agak normal.
Di ruang ganti aku memerlukan melihat kemaluan Angel. Kemaluannya seperti berlobang agak besar. Mungkin bekas terobosan penisku tadi. Namun tidak ada lagi darah yang keluar dari kemaluannya.
Sejak keberhasilanku di kolam renang itu, ketika dirumah seminggu kemudian aku mulai agak leluasa menjebloskan penisku ke dalam vagina Angel, meski tetap harus dibantu cream pelicin. Angel sudah tidak merasakan sakit lagi ketika kusetubuhi. Sampai akhirnya tanpa cream pun aku bisa mempenetrasi penisku ke dalam vaginanya.
Sejauh itu, Angel belum merasakan nikmatnya disetubuhi, namun jika kuminta bersetubuh dia tidak menolak. Mungkin 3 bulan lebih baru aku benar-benar bisa lancar menyetubuhi Angel. Dia pun kelihatannya sudah bisa merasakan nikmatnya disetubuhi.
Sampai umur 9 tahun aku masih menyetubuhi dia . Di umur 10 tahun payudaranyanya mulai kelihatan tumbuh, sampai dia berumur 12 tahun bentuk payudaranya mulai jelas kelihatan. Kemaluannya juga mulai ada rambut halus. Pada usia 12 tahun Angel baru bisa mencapai orgasme melalui persetubuhan. Pada usia itu dia mulai mendapatkan haid. Sejak dia mendapat haid aku tidak berani melepas spermaku ke dalam vaginanya.
Sampai lulus SMA, kami masih berhubungan. Aku tidak lagi berani melakukannya di rumah, sebab aku sudah menempati rumah baru yang tidak mempunyai tempat tersembunyi untuk kami melakukan aktifitas sex. Aku biasanya memanfaatkan waktu dia pulang sekolah atau bolos sekolah untuk melakukan aktifitas persetubuhan kami di motel.
Setelah dia lulus D 3, Angel sempat bekerja lalu dipersunting oleh pacarnya. Kini dia sudah mempunyai 3 anak. Sejak dia menikah aku tidak lagi berhubungan badan dengannya. Hubungan kami tetap mesra. Keluarga kami tidak ada yang tahu hubungan terlarang itu
Mau Booking Cewek Bispak
Pengalaman Waktu Kecil
Ini pengalamanku ketika masih kecil. Aku adalah anak-satu-satunya dan kami tinggal di rumah susun di lantai paling atas. Kedua orang tuaku kerja, sehingga sepulang sekolah aku selalu sendirian di rumah. Aku waktu itu masih kelas 5 SD. Biasanya makan sudah disediakan ibuku nasi di magic jar dan lauknya biasanya, nugget, telor . Kalau lauk tidak ada biasanya aku ngambil di warung di bawah yang beda blok. Ibuku memang sudah pesan kepada Mpok warung untuk mencatat saja apa yang aku ambil.
Sepulang sekolah aku biasa bermain dengan teman-teman sebayaku. Sayangnya di lantai atas tidak ada sebaya ku. Penghuninya semua ngontrak. Di lantai bawah juga tidak ada anak-anak sebayaku. Bahkan di blok ku tidak ada anak yang bisa kuajak bermain. Aku harus jalan ke beberapa blok untuk menemui teman-temanku. Itulah keseharianku.
Suatu hari unit di depan rumahku ditempati orang baru. Ketika datang berkenalan ke rumah ku, mereka kuketahui adalah Ibu muda yang baru bercerai, mempunyai anak satu orang cewek, sepantaran dengan aku, namannya Nita.
Ibu muda itu juga bekerja, sehingga Nita juga ditinggal sendiri di rumah jika siang hari. Ibunya mengikuti cara ibuku yakni meminta anaknya beli lauk atau bahkan termasuk nasinya di bawah di warung Mpok warung.
Awalnya aku malu mau mengajak main Nita, karena dia cewek, sedang aku cowok. Namun Nita yang mulai mengajakku main. Dia mulanya menunjukkan kepada ku beberapa mainannya. Dia tidak seperti anak cewek sebab mainannya bukan boneka, tetapi robot-robot dan mobil model. Aku tentu saja senang bermain seperti itu, karena aku juga suka robot-robotan dan mobil-mobilan. Kami akhirnya setiap hari main berdua. Karena pintu rumah kami berhadap-hadapan, jadi kalau tidak main di rumahnya maka dialah yang main ke rumah ku.
Meski dia cewek dan aku cowok, tidak ada rasa seperti orang berpacaran. Mungkin karena umur kami masih muda maka hal-hal seperti itu tidak terpikirkan. Malah kadang-kadang aku tidur bareng, maksudku karena ngantuk kami sering tidur di sofa, tapi bukan tidur berhimpitan. Kadang aku tidur di bawah dia tidur di sofa.
Lantai atas rumah susun tempat kami kalau siang sepi sekali. Selain karena tidak ada anak-anak yang main naik sampai ke lantai atas, penghuni rumah susun semuanya bekerja.
Kami sering memutar vcd, tetapi ya cerita yang berkaitan dengan kegemaran anak-anak. Sampai suatu hari aku secara tidak sengaja menemukan VCD porno yang tertinggal di dalam player. Aku terkejut dan antusias sekali menonton tayangan yang baru pertama kali kulihat. Meski masih kecil aku terangsang juga melihat adegan-adegan yang ditayangkan.
Setelah selesai menonton aku penasaran ingin memberitahu Nita mengenai film porno. Aku mengajaknya menonton film porno. Aku memberi tahu Nita bahwa aku punya film baru yang bagus. Selesai makan siang aku mulai memutar film porno itu. Mulanya adegan mesra, aku mengenalnya setelah dewasa adegan awal itu adalah x satu. Filmnya memang mempunyai alur cerita, menjelang pertengahan kemesraan bertambah hot dan adegan pasangan mulai bugil. Nita menutup mata, katanya jorok. Tapi itu hanya sebentar, karena aku biarkan saja dia menutup matanya. Setelah itu kemudian dia juga nonton lagi. Menjelang bagian akhir terpampanglah adegan XXX yang memperlihatkan adegan orang berhubungan sex dengan tayangan yang detil mengenai alat kelamin pria dan wanita. Nita kembali menjerit dan menutup mata, tapi dia nonton lagi sampai filmnya habis.
Selesai menonton kami terdiam. Aku tanya Nita, apa dia pernah menonton film seperti itu. Dia hanya menggelengkan kepala. Nita kelihatannya shock dengan adegan-adegan film itu.
Setelah menonton film kami kembali bermain seperti biasa. Dan tidak ada kejadian yang aneh. Besoknya Nita tanya, apa ada lagi film seperti yang kemarin. Aku mencari di tumpukan VCD, tidak ada lagi. Bahkan film yang kemarin pun sudah tidak tahu disimpan dimana.
Aku memang penasaran dengan film porno, maka aku mencari-cari di lemari orang tuaku, sampai ke koper yang diletakkan di bagian atas. Ternyata di koper itu banyak sekali film-film porno. Orang tuaku berpikir mungkin aku tidak bakal menjangkau koper di atas lemari, karena tempat tinggi tidak mungkin dijangkau oleh anak sebesar aku.
Aku datangi Nita dan mengatakan bahwa aku punya film porno lagi. Dia antusias mengajakku menonton lagi. Aku memutar film-film koleksi orang tuaku. Akhirnya hampir setiap siang kami berdua kerjanya menonton film porno. Aku memang terangsang karena penisku berdiri waktu menyaksikan adegan sex, aku tidak tahu Nita apakah dia juga terangsang. Aku pikir perempuan tidak terangsang, karena setahuku tidak punya penis jadi tidak ada yang menegang.
Sejak menonton film porno rasa ingin tahuku mengenai sex jadi menggebu-gebu. Aku ingin melihat kemaluan wanita itu sesungguhnya seperti apa. Mungkinkah Nita bisa dibujuk untuk memperlihatkan kemaluannya, rasanya aku tidak punya keberanian meminta hal seperti itu kepada Nita.
Sampai suatu hari Nita bertanya kepadaku, bagaimana sih bentuk kemaluan laki-laki. Aku terkesiap dan menjawab, ya seperti yang difilm itu. “Boleh nggak aku lihat kamu punya, “ katanya.
Mendengar pertanyaannya penisku langsung menegang. Dalam benakku aku juga ingin melihat kemaluan Nita. Aku bilang boleh-boleh aja, tetapi tutup dulu pintu rumahmu dan di kunci, lalu aku pun menutup pintu rumah ku dan ku kunci.
Dengan berdebar-debar aku duduk di sofa dan pelan-pelan menurunkan celanaku. Penisku terpampang berdiri tegak. Nita memperhatikan penisku dari dekat. Kata dia bentuknya lain tidak seperti di film dan aku punya kecil dan tidak berbulu. Aku katakan karena masih anak-anak maka belum tumbuh bulu dan juga sesuai dengan besar badan anak-anak. Aku memang sudah sunat sejak kelas 4 maka penisku mengkilat di ujungnya.
“Ih lucu bentuknya, aku boleh pegang nggak,” katanya. Sebelum aku menjawab tangannya sudah meraih penisku. Jarinya menekan-nekan penisku yang sedang keras. Aku merasakan sensasi kenikmatan sampai aku tidak sadar mendesis. Nita terkejut. Dia bertanya, apakah aku merasa sakit waktu dia pegang. Aku katakan bukan sakit tapi rasanya enak.
Dia kemudian tidak hanya memegang batang penisku tapi juga menyentuh kantong zakarku. Aku merasa makin nikmat. Nita heran, kenapa keras seperti ada tulangnya dan dia bertanya mengenai kantung zakar. “Ini apaan ,” katanya sambil meraba kantong zakarku. Kujelaskan bahwa itu buah pelir, didalamnya ada sepasang buah pelir. Diberitahu seperti itu Nita malah menekan-nekan kantungku untuk meyakinkan apa memang benar ada dua buah di dalamnya. “ Ih lucu ya nggak kayak aku punya,”.
Setelah dia puas memandangiku celana kunaikkan lagi. Rasa nikmat masih menjalari tubuhku. Rasanya sentuhan Nita tadi masih berbekas di kemaluanku. Aku lalu minta Nita juga memperlihatkan kemaluannya. Dia menolak, malu katanya. Aku langsung protes, karena Nita curang.
“Gimana ya, tapi sebentar aja ya,” katanya.
Aku menganggukkan kepala.
Nita menurunkan celananya sampai ke lutut, lalu dia duduk di sofa. Roknya diangkat sampai ke pinggang. Aku melihat kemaluan Nita seperti belahan pantat tetapi kecil. Kemaluan Nita juga tidak ada bulunya. Aku makin penasaran karena yang terlihat hanya seperti belahan pantat saja. Aku minta Nita membuka lebar kakinya, tapi dia menolak malah menaikkan celananya kembali.
Aku kembali protes, karena Nita tadi kuperbolehkan memegang aku punya, sedangkan dia hanya memperlihatkan sebentar saja. Aku minta dia membuka kembali celananya sampai ke bawah sehingga bisa melebarkan kakinya. Nita terdiam sebentar lalu berdiri dan melepas seluruh celana dalamnya. Dia duduk di sofa sambil mengangkang. Aku merangkak di depan kemaluan Nita. Terlihat bagian dalamnya berwarna merah dan di bagian bawah ada celah. Aku juga ingin memegang kemaluan Nita. Ketika tanganku meraih kemaluannya, dia menepisku. Aku kembali protes. Dia lalu membolehkan. Nita duduk bersandar sambil menutup kedua matanya dengan tangan.
Kemaluan Nita aku buka, sehingga terlihat bagian dalamnya seperti ada daging tumbuh memanjang ke bawah. Lubang kemaluannya aku buka, Nita protes katanya sakit. Jariku menekan-nekan bagian dalam kemaluannya . Pada bagian atas ketika aku tekan-tekan Nita mendesis dan katanya geli. Aku berpikir aneh sekali kemaluan wanita bentuknya tidak beraturan dan lubang kencingnya besar. Aku mengira-ngira bagian lubang kencing itulah yang kalau difilm dimasuki oleh kemaluan laki-laki.
Aku mencoba mencolok lubang kencing itu, tetapi tanganku ditarik Nita, katanya sakit. Tanganku terasa agak basah terkena cairan kemaluan Nita. Aku kembali menekan-nekan daging yang seperti kelopak, kaku di atasnya. Setiap kali kusentuh bagian atas itu, Nita mendesis dan katanya geli sekali.
Itulah awal kami melihat kemaluan, masing-masing . Kejadian siang itu terus terbayang-bayang. Aku kemudian tahu setelah dewasa bahwa yang ku kira lubang kencing itu adalah vagina.
Kami masih sering nonton film porno. Aku tanya kepada Nita bahwa kelihatannya permainan di film itu orangnya seperti merasa enak. Dia menjawab “kayaknya memang iya, apa nggak sakit ya.” Sebab menurut Nita ketika tanganku mencolok bagian dalamnya dia merasa sakit. Tapi dia mengaku ada bagian yang kalau aku sentuh rasanya geli-geli enak. Aku jadi penasaran ingin tahu bagian yang mana yang dia maksud.
Aku memintanya kembali memperlihatkan kemaluannya untuk kuperiksa bagian mana yang katanya kalau disentuh rasanya enak. Nita sekarang sudah tidak malu lagi, dia langsung membuka celananya dan duduk mengangkang di depanku. Dia menunjukkan bagian yang selalu terasa enak kalau disentuh. Aku kemudian menekan-nekan bagian itu dengan satu jari. Nita setiap kali aku tekan-tekan dia mendesis-desis, katanya enak sekali tapi juga geli. Aku menekan-nekan terus, tapi lama-lama aku bosan. Aku minta Nita gantian memegang-pegang kemaluanku.
Kupelorotkan celanaku dan nita mulai mmegang-megang kemaluanku. Awalnya hanya ditekan-tekan dengan dua jari, Aku kemudian minta dia menggenggam. Penisku rasanya makin nikmat digenggam tangan Nita. Aku minta dia menggoyang-goyangkan tangan dengan gerakan seperti mengocok. Aku sebenarnya waktu itu belum mengerti soal onani. Perintahku agar Nita mengocok waktu itu mungkin hanya naluriku saja, yang menginginkan begitu.
Aku minta dia terus mengocok sampai datang rasa dorongan dari dalam seperti stroom dan penisku berkedut-kedut. Setelah dewasa aku tahu waktu itu aku mengalami orgasme. Tapi kuingat waktu itu tidak ada sperma yang keluar. Aku memang belum akil balik, sehingga mungkin belum mempunyai sperma.
Aku ketika orgasme setengah berteriak. Nita terkejut dan dia langsung berhenti. Lalu bertanya. Aku jawab rasanya enak banget, sampai diubun-ubun rasa enaknya, kata ku. “Enak gimana sih,” tanya Nita penasaran.
Aku tidak bisa menggambarkan bagaimana rasa enaknya, tapi pokoknya enak banget. Sejak itu setiap hari aku minta dikocok sama Nita. Dia mau saja ku suruh begitu. Aku kemudian ingin seperti di film, penisku ingin dioral, penasaran mau tahu rasanya.
Nita ketika akan meniru seperti yang difilm, dia menolak, katanya jijik. Aku bilang aku cuci dulu pakai sabun sampai bersih. Lama aku membujuknya sampai akhirnya dia mau setelah kubersihkan dengan sabun. Pertama rasanya kurang enak dan agak sakit. Sebab penisku seperti dia gigit. Aku minta dia jangan menggigit, rasanya nggak enak, pakai bibir saja dan dijilat dan disedot. Nita yang mulanya agak jijik, lama-kelamaan bisa juga mengoral penisku.
Aku merasa lebih nikmat dibandingkan dengan menggunakan tangan. Semula Nita berhenti sebelum aku mencapai nikmat. Lalu dia kuminta sampai aku mencapai nikmat. Aku mengerang-erang ketika orgasmeku tiba.
Berkali-kali kemudian aku selalu dioral Nita. Dia akkhirnya penasaran, mengenai bagaimana enaknya. Aku menawarkan menjilati kemaluannya, tapi ku minta dicuci dulu. Dia menuruti dan setelah itu duduk mengangkang di sofa. Aku duduk di bawahnya dan mulai mencoba menjilati. Mulanya aku juga merasa jijik. Tapi karena tidak ada baunya aku teruskan menjilat-jilat semua bagian kemaluannya. Nita merasa tidak nikmat, kecuali kalau lidahku menyentuh satu bagian. Dia tunjukkan bagian yang dia rasa nikmat tapi geli. Aku mencoba menjilati bagian itu. Nita mengelinjang-gelinjang. Aku kira dia kegelian. Aku teruskan , tapi lama-lama lidahku capek . Ketika aku berhenti Nita malah menekan kepalaku dan menyuruh melanjutkan. Supaya lidahku tidak capek menjulur keluar mulut, maka mulutku kubekapkan saja ke kemaluan Nita, lalu lidahku kembali menjilati bagian yang diinginkan Nita. Nita kembali menggelinjang-gelinjang. Aku memperhatikan bagian yang jika disentuh dia menggelinjang. Bagian itu terus aku jilati sampai tiba-tiba Nita menekan kepalaku dan dia minta aku berhenti, “Stop-stop,” katanya.
Nita juga mengerang lirih. Aku bertanya mungkin dia merasa sakit. Kata dia nikmat sekali. “ Kayak gini ya enaknya yang kamu rasakan kalau aku isap, “kata Nita setelah itu.
“Enak banget ya.” Katanya.
Setelah itu rutinitas kami selalu melakukan oral. Kadang-kadang aku lupa habis makan pedas lalu mengoral Nita, Dia mengeluh kemaluannya terasa pedas. Aku pun pernah begitu. Kami kemudian sepakat untuk gosok gigi dulu sebelum mengoral.
Kami sebaya belum genap berusia 10 tahun, tetapi sudah ahli mengoral masing-masing pasangan. Jika pertama dulu kami melakukannya dengan tetap memakai baju, sekarang ikut seperti di film kami telanjang bulat. Pada waktu itu kuingat Nita belum membesar payudaranya, masih rata.
Setelah mengoral kami sepakat untuk mencoba memasukkan penisku ke lubang vaginanya. Nita juga ingin tahu rasanya. Setelah kami merasakan nikmatnya oral kami penasaran rasa nikmatnya jika kemaluan kami beradu.
Mengikuti apa yang digambarkan di film, aku mencoba menekan kemaluanku ke vagina Nita tapi selalu tidak berhasil. Nita juga merasa kesakitan. Setelah sekian kali gagal aku berpikir mungkin perlu pelicin. Aku mengolesi kepala penisku dengan hand body lotion.
Aku mencoba lagi dan menekan pelan-pelan tepat di lubang vagina Nita. Kepala penisku tenggelam. Nikmat mulai menjalar di tubuhku. Aku menekan terus, tetapi Nita menjerit kesakitan. Dia menangis, sakit, katanya. Kami pun berhenti. Aku kecewa karena rasa nikmat ketika kepala penisku tadi masuk tidak tuntas.
Besoknya aku masih penasaran. Kami mencoba lagi dengan aku mengolesi cream. Kepala penisku bisa terbenam, Nita tetap mengeluh sakit, tetapi tidak seperti kemarin. Ketika kudorong lagi, Nita menahanku, katanya sakit sekali. Padahal penisku terasa lebih banyak tengelam di vagina Nita. Kami berhenti lagi dan aku kembali kecewa.
Kami lakukan hal itu berulang-ulang sampai mungkin seminggu. Ketika sudah seminggu penisku bisa masuk sekitar setengah batang. Aku tidak bisa maju lagi karena rasanya seperti buntu. Jika kupaksakan kata Nita sakit. Tapi kalau tidak kupaksa dia tidak merasa sakit. Aku kemudian memaju mundurkan setengah batangku keluar masuk. Nikmatnya luar biasa, lebih nikmat dari pada di oral. Aku sampai mencapai orgasme.
Aku mengira lubang vagina Nita sudah buntu karena masih kecil. Jadi belum bisa menerima penisku sepenuhnya. Nita tidak merasakan nikmat, jika aku masukkan penisku. Tapi aku merasa nikmat sekali. Oleh karena itu aku selalu memintanya.
Kami setiap waktu selalu melakukan hubungan, sampai suatu waktu aku tanpa sengaja dalam bergerak keluar masuk terlalu keras mendorong penisku ke dalam vagina. Nita menjerit dan aku pun terkejut, sebab kemaluanku bisa masuk semua. Aku berhenti dan mengeluarkan batang penisku. Ada darah di seputar penisku, kemaluan Nita berdarah. Dia menangis lalu ke kamar mandi mencuci darah. Jalannya agak aneh, kata dia kemaluannya sakit.
Aku jadi takut. Kalau dia berjalan seperti itu, nanti ibunya curiga dan tanya kenapa jalannya agak ngengkang. Nita kuajak latihan jalan dan turun tanggal lalu jalan ke sekitar kompleks. Lama-lama jalannya mulai normal dan kami kembali ke rumah.
Sejak saat itu hampir sebulan kami tidak melakukan aktivitas sex. Namun karena sudah mengenal rasa yang nikmat aku kembali mengajak Nita untuk berkativitas sex lagi. Nita tidak menolak dan kata dia sakitnya sudah hilang. Aku kembali mencoba memasukkan penisku, tetapi gagal. Baru kuingat harus dioelsi cream. Setelah dioles cream, penisku lebih mudah masuk ke dalam vagina Nita. Aku pelan-pelan mendorong masuk penisku dan ternyata sampai semua masuk tertelan. Aku merasakan sensasi rasa yang nikmat. Nita masih merasakan sakit, tetapi katanya sudah tidak terlalu sakit seperti yang dulu. Aku perlahan-lahan melakukan gerakan memompa, rasanya enak sekali. Gerakan aku percepat dan tidak lama kemudian aku menapai orgasme dan penisku melemas di dalam vagina Nita. Nita mengatakan dia tidak merasakan enak. Malah dia bilang lebih enak dioral, dari pada ditusuk-tusuk. Dia minta aku mengoral setelah aku mencapai orgasme tadi.
Kegiatan kami selanjutnya hampir setiap hari selalu melakukan hubungan badan, tetapi Nita minta dioral dulu. Aku merasakan jika aku oral dulu, penisku lebih mudah masuk karena vaginanya terasa lebih licin.
Kami tidak lagi menonton film porno karena sudah tahu dan merasakan nikmatnya seperti yang dimainkan di film itu. Kami semakin akrab dan berlangsung sampai ke kelas 6. Badan Nita sudah semakin besar dan dia mulai mempunyai payudara, meski pun kecil.
Suatu hari Nita memperkenalkan temannya, Amanda. Dia tinggal di kompleks rumah susun ini tetapi agak jauh dari blok kami. Amanda adalah teman sekelas Nita. Amanda cantik, lebih putih dan kelihatannya lebih berkembang dibanding Nita.
Nita membocorkan kepada Amanda, bahwa kami sering nonton film porno. Amanda menurut Nita belum pernah nonton film gituan. Dia ingin tahu seperti apa, film porno. Nita memintaku memutar film porno. Rumah kami kunci dan aku memilih film porno Asia.
Suara dari TV kami kecilkan, khawatir ada orang bisa mendengar dari luar. Amanda duduk berdekatan dengan Nita sedang aku duduk di kursi terpisah. Amanda menutup mulut dan hidungnya setiap kali ada adegan yang vulgar. Reaksinya berbeda dengan Nita yang waktu itu menutup matanya.
Setelah film selesai diputar muka Amanda kelihatan bersemu merah. “ Serem,” katanya. Kami kemudian terlibat ngobrol seperti biasa obrolan anak-anak. Menjelang sore Amanda pamit pulang.
Aku menarik Nita, dan menegurnya kenapa dia sampai membocorkan rahasia di rumah ini. Kalau ketahuan apalagi di sekolah. Kita bisa malu. Nita mengatakan bahwa Amanda adalah teman sebangkunya. Amanda sendiri yang bercerita bahwa dia pengin melihat film porno. Menurut istilah mereka bokep. Di rumahnya meski ada DVD tapi karena banyak orang tidak mungkin memutar film seperti itu. Di sekolah banyak temen-temennya punya film bokep. “ Jadi aku tawari, kalau mau nonton film gituan, di rumah ku ada,” kata Nita.
Dia berjanji akan menjaga rahasia. “ Anak cewek kan malu kalau cerita-cerita soal film bokep, emang cowok yang mulutnya ngablak,” kata Nita. Perkataan Nita ada benarnya, cewek lebih kuat menjaga rahasia soal onerdil dalam.
Acara kami jadi berubah sering nonton film bokep. Kami jadi terbiasa dan muka Amanda tidak merah lagi. Sampai suatu hari Amanda ngomong, “gimana sih rasanya, kok kelihatannya mereka keenakan.”
Aku langsung terdiam dan saling pandang dengan Nita. “ Emangnya kamu pengin tahu rasanya “ tanya Nita.
“Ehmm gimana ya, pengin tahu aja, abis penasaran liatnya kok mereka sampai teriak-teriak,” kata Amanda polos.
Nita lancang sekali rasanya waktu itu. Dia bilang ama Amanda, kalau mau tahu rasanya harus bisa pegang rahasia. “ Emang rasanya bisa dirahasiakan, gimana sih gue nggak ngerti,” kata Amanda polos.
Dasar kami pada waktu itu masih anak-anak polos, jadi kurang bisa berbicara diplomatis. “ Kalau kamu janji pegang rahasia, nanti bakal tahu rasanya,” kata Nita. Aku berdebar-debar dan salah tingkah. Aku tidak menyangka Nita bisa bicara senekat itu.
“Ya deh gue swuer bakal pegang rahasia, tapi apaan sih,” kata Amanda polos.
Nita menjelaskan kepada Amanda bahwa aku bisa mengajari Amanda untuk merasakan. Nita nyrocos begitu saja tanpa minta persetujuan ku. Aku jadi belingsatan. Aku merasa rikuh dan tidak tahu harus ngomong apa. “ emang kamu ngerti bisa ngajari aku supaya tahu rasa kayak yang difilm itu,” tanya Amanda.
Belum aku menjawab, Nita sudah memotong pembicaraan dengan mengatakan, “udahlah tenang aja.”
Nita menjelaskan untuk mau diajari, Amanda tidak boleh malu, harus mau telanjang seperti di film itu. Amanda terperanjat, mukanya merah. Tapi dia sepertinya sudah terjebak oleh kata-katanya sendiri, sehingga tidak bisa berkata apa-apa. Nita mulai membuka kancing baju Amanda. Diperlakukan begitu Amanda bingung. Dia agak menahan-nahan gerak Nita.
Melihat keraguan Amanda, Nita lalu berdiri dan segera membuka semua bajunya sendiri dan celana dalamnya sampai dia telanjang bulat. Amanda makin bingung dan terpaksa merelakan tubuhnya dikuliti Nita. Setelah mereka telanjang bulat, Nita mengajak Amanda ke kamar mandi untuk mencuci bagian vitalnya. Amanda kembali dan berjalan sambil menutup kemaluan dan dadanya.
Nita memerintahkan Amanda yang masih kebingungan untuk duduk di sofa dan merenggangkan kedua kakinya. Tangannya masih tetap menutup kemaluannya. Amanda lalu memerintahkan aku untuk mengoral Amanda. Aku meski rikuh tapi terangsang juga. Body Amanda harus kuakui lebih bagus dari Nita yang cenerung kerempeng. Amanda lebih berisi.
“Lu diam saja dan kalau malu tutup mata,” kata Nita sambil mendorong tubuh Amanda agar bersandar ke sofa. Nita memerintahkan aku segera memulai. Ku pegang kedua paha amanda. Amanda terkejut, lalu diam. Badannya kaku dan dingin.
Ketrampilanku mengoral sudah canggih berkat latihan lama bersama Nita. Aku mulai menjilati sekitar kemaluan Amanda yang tampak gemuk dan gundul. Amanda memegang kepalaku seperti gerakan menahan. Dia merasa kegelian. Aku tahu karena mungkin belum dicium teteknya. Aku lalu naik memegang kedua payudaranya yang sudah tumbuh cukup besar, paling tidak lebih besar dari milik Anita yang baru tumbuh.
Ketika tanganku meremas payudara Amanda, tanggannya seperti agak menahan tanganku, tapi aku tetap bisa meremas kedua payudaranya. Aku kemudian mulai menjilati kedua putingnya yang kecil. Amanda merintih kegelian. Namun tidak lama kemudian dia memegang kedua kepala ku dan badannya mengeliat-geliat. Payudara Amanda rasanya kenyal sekali, aku suka sekali.
Sambil menyiumi kedua susunya, tanganku memainkan kemaluannya dan menyentuh di bagian yang pada Nita dirasa paling geli dan enak. Setiap kali bagian itu tersentuh, Amanda menggelinjang.
Setelah puas menciumi payudara, aku mulai turun ke perut dan langsung ke bagian kemaluan yang membuat Amanda selalu bergelinjang jika tersentuh. Amanda bingung, sampai dia bangkit ingin melihat apa yang akan aku lakukan. “ Ih apa nggak jorok sih,” katanya. Nita mendorong tubuh Amanda sampai dia bersandar lagi.
Aku mulai memainkan lidah di kemaluan Amanda . aku paham benar bagian mana yang harus dijilat. Amanda mengelinjang sambil terus berdesis-desis. Dia berkata lirih, “ aduh enak banget….”
Tidak lama kemudian amanda berteriak “ aku mau pipis, aduh-aduh.”
Aku tahu bahwa dia akan mencapai kepuasan, maka aku terus membenamkan kepala keselangkangannya. Amanda lalu bergetar badannya dan kakinya menjepit kepalaku lalu tangannya menekan kepalaku. Kemaluannya berdenyut-denyut.
Selesai orgasme Amanda terduduk lemas. Nita menanyakan gimana rasanya, “Enak ?”
Amanda hanya mengangguk . “ Gila enak bener, seumur-umur gua belum pernah ngrasain yang kayak gini.,” kata Amanda.
Aku lalu duduk kembali di kursi dan membiarkan kedua cewek itu jalan ke kamar mandi. Mereka mencuci onderdilnya.
Sejak saat itu Amanda rajin main bersama kami dan selalu mendapat service oral. Dia kemudian juga mengoralku diajari Nita. Namun aku sekarang jadi melayani dua cewek. Nggak disangka ternyata nafsu Amanda lebih besar dari Nita. Sebab dia kadang-kadang minta sampai dua kali dioral dalam sehari. Lidahku jadi kelu menuruti kemauannya.
Aku menawarkan Amanda untuk bermain seperti di film yaitu memasukkan penis ke dalam vaginanya. Amanda ragu, karena dia merasa dia tidak punya lubang vagina sebesar yang tampil di film. Aku bilang bahwa milikku juga tidak sebesar yang difilm. Mungkin karena nafsunya dan rasa penasaran, Amanda kemudian bersedia mencoba.
Seperti juga Nita, aku tidak bisa sekali jalan membenamkan penisku . Perlu waktu sampai hampir sebulan penisku baru masuk penuh kedalam vagina Amanda. Jadinya Amanda malah ketagihan. Aku pada waktu itu tidak mengerti bahwa wanita juga harus dilayani orgasmenya dalam persetubuhan. Tapi aku perhatikan kadang-kadang Amanda menjerit lirih, tapi kadang-kadang usai permainan dia diam saja. Amanda hampir setiap hari selalu minta jatah. Kami sering main bertiga. Jadi aku bisa sampai orgasme dua kali.
Sejauh itu aku belum mengeluarkan sperma pada saat orgasme. Namun kuperhatikan penisku selalu basah kuyup jika kulepas dari gengaman vagina mereka berdua. Katanya mereka juga belum mendapat haid.
Kami terus berintim ria sampai aku SMP dan mulai memancarkan sperma dan Mereka mendapat haid. Aku tidak tahu bahwa sperma yang kulepas di dalam vagina merka bisa mengakibatkan hamil. Tapi sejauh itu mereka tidak hamil, sampai akhirnya aku pindah bersama orang tuaku yang membeli rumah baru agak di pinggir kota. Nita pun kabarnya juga sudah tidak tinggal di rumah susun. Bagi Nita dan Amanda jika membaca cerita ini, aku minta maaf menyebut nama kamu tanpa kuganti. Kurasa tidak bakal ada orang yang tahu kisah kita. Itu juga sudah terjadi lama sekali, ketika kita masih kanak-kanak.
Mau Booking Cewek Bispak
Sepulang sekolah aku biasa bermain dengan teman-teman sebayaku. Sayangnya di lantai atas tidak ada sebaya ku. Penghuninya semua ngontrak. Di lantai bawah juga tidak ada anak-anak sebayaku. Bahkan di blok ku tidak ada anak yang bisa kuajak bermain. Aku harus jalan ke beberapa blok untuk menemui teman-temanku. Itulah keseharianku.
Suatu hari unit di depan rumahku ditempati orang baru. Ketika datang berkenalan ke rumah ku, mereka kuketahui adalah Ibu muda yang baru bercerai, mempunyai anak satu orang cewek, sepantaran dengan aku, namannya Nita.
Ibu muda itu juga bekerja, sehingga Nita juga ditinggal sendiri di rumah jika siang hari. Ibunya mengikuti cara ibuku yakni meminta anaknya beli lauk atau bahkan termasuk nasinya di bawah di warung Mpok warung.
Awalnya aku malu mau mengajak main Nita, karena dia cewek, sedang aku cowok. Namun Nita yang mulai mengajakku main. Dia mulanya menunjukkan kepada ku beberapa mainannya. Dia tidak seperti anak cewek sebab mainannya bukan boneka, tetapi robot-robot dan mobil model. Aku tentu saja senang bermain seperti itu, karena aku juga suka robot-robotan dan mobil-mobilan. Kami akhirnya setiap hari main berdua. Karena pintu rumah kami berhadap-hadapan, jadi kalau tidak main di rumahnya maka dialah yang main ke rumah ku.
Meski dia cewek dan aku cowok, tidak ada rasa seperti orang berpacaran. Mungkin karena umur kami masih muda maka hal-hal seperti itu tidak terpikirkan. Malah kadang-kadang aku tidur bareng, maksudku karena ngantuk kami sering tidur di sofa, tapi bukan tidur berhimpitan. Kadang aku tidur di bawah dia tidur di sofa.
Lantai atas rumah susun tempat kami kalau siang sepi sekali. Selain karena tidak ada anak-anak yang main naik sampai ke lantai atas, penghuni rumah susun semuanya bekerja.
Kami sering memutar vcd, tetapi ya cerita yang berkaitan dengan kegemaran anak-anak. Sampai suatu hari aku secara tidak sengaja menemukan VCD porno yang tertinggal di dalam player. Aku terkejut dan antusias sekali menonton tayangan yang baru pertama kali kulihat. Meski masih kecil aku terangsang juga melihat adegan-adegan yang ditayangkan.
Setelah selesai menonton aku penasaran ingin memberitahu Nita mengenai film porno. Aku mengajaknya menonton film porno. Aku memberi tahu Nita bahwa aku punya film baru yang bagus. Selesai makan siang aku mulai memutar film porno itu. Mulanya adegan mesra, aku mengenalnya setelah dewasa adegan awal itu adalah x satu. Filmnya memang mempunyai alur cerita, menjelang pertengahan kemesraan bertambah hot dan adegan pasangan mulai bugil. Nita menutup mata, katanya jorok. Tapi itu hanya sebentar, karena aku biarkan saja dia menutup matanya. Setelah itu kemudian dia juga nonton lagi. Menjelang bagian akhir terpampanglah adegan XXX yang memperlihatkan adegan orang berhubungan sex dengan tayangan yang detil mengenai alat kelamin pria dan wanita. Nita kembali menjerit dan menutup mata, tapi dia nonton lagi sampai filmnya habis.
Selesai menonton kami terdiam. Aku tanya Nita, apa dia pernah menonton film seperti itu. Dia hanya menggelengkan kepala. Nita kelihatannya shock dengan adegan-adegan film itu.
Setelah menonton film kami kembali bermain seperti biasa. Dan tidak ada kejadian yang aneh. Besoknya Nita tanya, apa ada lagi film seperti yang kemarin. Aku mencari di tumpukan VCD, tidak ada lagi. Bahkan film yang kemarin pun sudah tidak tahu disimpan dimana.
Aku memang penasaran dengan film porno, maka aku mencari-cari di lemari orang tuaku, sampai ke koper yang diletakkan di bagian atas. Ternyata di koper itu banyak sekali film-film porno. Orang tuaku berpikir mungkin aku tidak bakal menjangkau koper di atas lemari, karena tempat tinggi tidak mungkin dijangkau oleh anak sebesar aku.
Aku datangi Nita dan mengatakan bahwa aku punya film porno lagi. Dia antusias mengajakku menonton lagi. Aku memutar film-film koleksi orang tuaku. Akhirnya hampir setiap siang kami berdua kerjanya menonton film porno. Aku memang terangsang karena penisku berdiri waktu menyaksikan adegan sex, aku tidak tahu Nita apakah dia juga terangsang. Aku pikir perempuan tidak terangsang, karena setahuku tidak punya penis jadi tidak ada yang menegang.
Sejak menonton film porno rasa ingin tahuku mengenai sex jadi menggebu-gebu. Aku ingin melihat kemaluan wanita itu sesungguhnya seperti apa. Mungkinkah Nita bisa dibujuk untuk memperlihatkan kemaluannya, rasanya aku tidak punya keberanian meminta hal seperti itu kepada Nita.
Sampai suatu hari Nita bertanya kepadaku, bagaimana sih bentuk kemaluan laki-laki. Aku terkesiap dan menjawab, ya seperti yang difilm itu. “Boleh nggak aku lihat kamu punya, “ katanya.
Mendengar pertanyaannya penisku langsung menegang. Dalam benakku aku juga ingin melihat kemaluan Nita. Aku bilang boleh-boleh aja, tetapi tutup dulu pintu rumahmu dan di kunci, lalu aku pun menutup pintu rumah ku dan ku kunci.
Dengan berdebar-debar aku duduk di sofa dan pelan-pelan menurunkan celanaku. Penisku terpampang berdiri tegak. Nita memperhatikan penisku dari dekat. Kata dia bentuknya lain tidak seperti di film dan aku punya kecil dan tidak berbulu. Aku katakan karena masih anak-anak maka belum tumbuh bulu dan juga sesuai dengan besar badan anak-anak. Aku memang sudah sunat sejak kelas 4 maka penisku mengkilat di ujungnya.
“Ih lucu bentuknya, aku boleh pegang nggak,” katanya. Sebelum aku menjawab tangannya sudah meraih penisku. Jarinya menekan-nekan penisku yang sedang keras. Aku merasakan sensasi kenikmatan sampai aku tidak sadar mendesis. Nita terkejut. Dia bertanya, apakah aku merasa sakit waktu dia pegang. Aku katakan bukan sakit tapi rasanya enak.
Dia kemudian tidak hanya memegang batang penisku tapi juga menyentuh kantong zakarku. Aku merasa makin nikmat. Nita heran, kenapa keras seperti ada tulangnya dan dia bertanya mengenai kantung zakar. “Ini apaan ,” katanya sambil meraba kantong zakarku. Kujelaskan bahwa itu buah pelir, didalamnya ada sepasang buah pelir. Diberitahu seperti itu Nita malah menekan-nekan kantungku untuk meyakinkan apa memang benar ada dua buah di dalamnya. “ Ih lucu ya nggak kayak aku punya,”.
Setelah dia puas memandangiku celana kunaikkan lagi. Rasa nikmat masih menjalari tubuhku. Rasanya sentuhan Nita tadi masih berbekas di kemaluanku. Aku lalu minta Nita juga memperlihatkan kemaluannya. Dia menolak, malu katanya. Aku langsung protes, karena Nita curang.
“Gimana ya, tapi sebentar aja ya,” katanya.
Aku menganggukkan kepala.
Nita menurunkan celananya sampai ke lutut, lalu dia duduk di sofa. Roknya diangkat sampai ke pinggang. Aku melihat kemaluan Nita seperti belahan pantat tetapi kecil. Kemaluan Nita juga tidak ada bulunya. Aku makin penasaran karena yang terlihat hanya seperti belahan pantat saja. Aku minta Nita membuka lebar kakinya, tapi dia menolak malah menaikkan celananya kembali.
Aku kembali protes, karena Nita tadi kuperbolehkan memegang aku punya, sedangkan dia hanya memperlihatkan sebentar saja. Aku minta dia membuka kembali celananya sampai ke bawah sehingga bisa melebarkan kakinya. Nita terdiam sebentar lalu berdiri dan melepas seluruh celana dalamnya. Dia duduk di sofa sambil mengangkang. Aku merangkak di depan kemaluan Nita. Terlihat bagian dalamnya berwarna merah dan di bagian bawah ada celah. Aku juga ingin memegang kemaluan Nita. Ketika tanganku meraih kemaluannya, dia menepisku. Aku kembali protes. Dia lalu membolehkan. Nita duduk bersandar sambil menutup kedua matanya dengan tangan.
Kemaluan Nita aku buka, sehingga terlihat bagian dalamnya seperti ada daging tumbuh memanjang ke bawah. Lubang kemaluannya aku buka, Nita protes katanya sakit. Jariku menekan-nekan bagian dalam kemaluannya . Pada bagian atas ketika aku tekan-tekan Nita mendesis dan katanya geli. Aku berpikir aneh sekali kemaluan wanita bentuknya tidak beraturan dan lubang kencingnya besar. Aku mengira-ngira bagian lubang kencing itulah yang kalau difilm dimasuki oleh kemaluan laki-laki.
Aku mencoba mencolok lubang kencing itu, tetapi tanganku ditarik Nita, katanya sakit. Tanganku terasa agak basah terkena cairan kemaluan Nita. Aku kembali menekan-nekan daging yang seperti kelopak, kaku di atasnya. Setiap kali kusentuh bagian atas itu, Nita mendesis dan katanya geli sekali.
Itulah awal kami melihat kemaluan, masing-masing . Kejadian siang itu terus terbayang-bayang. Aku kemudian tahu setelah dewasa bahwa yang ku kira lubang kencing itu adalah vagina.
Kami masih sering nonton film porno. Aku tanya kepada Nita bahwa kelihatannya permainan di film itu orangnya seperti merasa enak. Dia menjawab “kayaknya memang iya, apa nggak sakit ya.” Sebab menurut Nita ketika tanganku mencolok bagian dalamnya dia merasa sakit. Tapi dia mengaku ada bagian yang kalau aku sentuh rasanya geli-geli enak. Aku jadi penasaran ingin tahu bagian yang mana yang dia maksud.
Aku memintanya kembali memperlihatkan kemaluannya untuk kuperiksa bagian mana yang katanya kalau disentuh rasanya enak. Nita sekarang sudah tidak malu lagi, dia langsung membuka celananya dan duduk mengangkang di depanku. Dia menunjukkan bagian yang selalu terasa enak kalau disentuh. Aku kemudian menekan-nekan bagian itu dengan satu jari. Nita setiap kali aku tekan-tekan dia mendesis-desis, katanya enak sekali tapi juga geli. Aku menekan-nekan terus, tapi lama-lama aku bosan. Aku minta Nita gantian memegang-pegang kemaluanku.
Kupelorotkan celanaku dan nita mulai mmegang-megang kemaluanku. Awalnya hanya ditekan-tekan dengan dua jari, Aku kemudian minta dia menggenggam. Penisku rasanya makin nikmat digenggam tangan Nita. Aku minta dia menggoyang-goyangkan tangan dengan gerakan seperti mengocok. Aku sebenarnya waktu itu belum mengerti soal onani. Perintahku agar Nita mengocok waktu itu mungkin hanya naluriku saja, yang menginginkan begitu.
Aku minta dia terus mengocok sampai datang rasa dorongan dari dalam seperti stroom dan penisku berkedut-kedut. Setelah dewasa aku tahu waktu itu aku mengalami orgasme. Tapi kuingat waktu itu tidak ada sperma yang keluar. Aku memang belum akil balik, sehingga mungkin belum mempunyai sperma.
Aku ketika orgasme setengah berteriak. Nita terkejut dan dia langsung berhenti. Lalu bertanya. Aku jawab rasanya enak banget, sampai diubun-ubun rasa enaknya, kata ku. “Enak gimana sih,” tanya Nita penasaran.
Aku tidak bisa menggambarkan bagaimana rasa enaknya, tapi pokoknya enak banget. Sejak itu setiap hari aku minta dikocok sama Nita. Dia mau saja ku suruh begitu. Aku kemudian ingin seperti di film, penisku ingin dioral, penasaran mau tahu rasanya.
Nita ketika akan meniru seperti yang difilm, dia menolak, katanya jijik. Aku bilang aku cuci dulu pakai sabun sampai bersih. Lama aku membujuknya sampai akhirnya dia mau setelah kubersihkan dengan sabun. Pertama rasanya kurang enak dan agak sakit. Sebab penisku seperti dia gigit. Aku minta dia jangan menggigit, rasanya nggak enak, pakai bibir saja dan dijilat dan disedot. Nita yang mulanya agak jijik, lama-kelamaan bisa juga mengoral penisku.
Aku merasa lebih nikmat dibandingkan dengan menggunakan tangan. Semula Nita berhenti sebelum aku mencapai nikmat. Lalu dia kuminta sampai aku mencapai nikmat. Aku mengerang-erang ketika orgasmeku tiba.
Berkali-kali kemudian aku selalu dioral Nita. Dia akkhirnya penasaran, mengenai bagaimana enaknya. Aku menawarkan menjilati kemaluannya, tapi ku minta dicuci dulu. Dia menuruti dan setelah itu duduk mengangkang di sofa. Aku duduk di bawahnya dan mulai mencoba menjilati. Mulanya aku juga merasa jijik. Tapi karena tidak ada baunya aku teruskan menjilat-jilat semua bagian kemaluannya. Nita merasa tidak nikmat, kecuali kalau lidahku menyentuh satu bagian. Dia tunjukkan bagian yang dia rasa nikmat tapi geli. Aku mencoba menjilati bagian itu. Nita mengelinjang-gelinjang. Aku kira dia kegelian. Aku teruskan , tapi lama-lama lidahku capek . Ketika aku berhenti Nita malah menekan kepalaku dan menyuruh melanjutkan. Supaya lidahku tidak capek menjulur keluar mulut, maka mulutku kubekapkan saja ke kemaluan Nita, lalu lidahku kembali menjilati bagian yang diinginkan Nita. Nita kembali menggelinjang-gelinjang. Aku memperhatikan bagian yang jika disentuh dia menggelinjang. Bagian itu terus aku jilati sampai tiba-tiba Nita menekan kepalaku dan dia minta aku berhenti, “Stop-stop,” katanya.
Nita juga mengerang lirih. Aku bertanya mungkin dia merasa sakit. Kata dia nikmat sekali. “ Kayak gini ya enaknya yang kamu rasakan kalau aku isap, “kata Nita setelah itu.
“Enak banget ya.” Katanya.
Setelah itu rutinitas kami selalu melakukan oral. Kadang-kadang aku lupa habis makan pedas lalu mengoral Nita, Dia mengeluh kemaluannya terasa pedas. Aku pun pernah begitu. Kami kemudian sepakat untuk gosok gigi dulu sebelum mengoral.
Kami sebaya belum genap berusia 10 tahun, tetapi sudah ahli mengoral masing-masing pasangan. Jika pertama dulu kami melakukannya dengan tetap memakai baju, sekarang ikut seperti di film kami telanjang bulat. Pada waktu itu kuingat Nita belum membesar payudaranya, masih rata.
Setelah mengoral kami sepakat untuk mencoba memasukkan penisku ke lubang vaginanya. Nita juga ingin tahu rasanya. Setelah kami merasakan nikmatnya oral kami penasaran rasa nikmatnya jika kemaluan kami beradu.
Mengikuti apa yang digambarkan di film, aku mencoba menekan kemaluanku ke vagina Nita tapi selalu tidak berhasil. Nita juga merasa kesakitan. Setelah sekian kali gagal aku berpikir mungkin perlu pelicin. Aku mengolesi kepala penisku dengan hand body lotion.
Aku mencoba lagi dan menekan pelan-pelan tepat di lubang vagina Nita. Kepala penisku tenggelam. Nikmat mulai menjalar di tubuhku. Aku menekan terus, tetapi Nita menjerit kesakitan. Dia menangis, sakit, katanya. Kami pun berhenti. Aku kecewa karena rasa nikmat ketika kepala penisku tadi masuk tidak tuntas.
Besoknya aku masih penasaran. Kami mencoba lagi dengan aku mengolesi cream. Kepala penisku bisa terbenam, Nita tetap mengeluh sakit, tetapi tidak seperti kemarin. Ketika kudorong lagi, Nita menahanku, katanya sakit sekali. Padahal penisku terasa lebih banyak tengelam di vagina Nita. Kami berhenti lagi dan aku kembali kecewa.
Kami lakukan hal itu berulang-ulang sampai mungkin seminggu. Ketika sudah seminggu penisku bisa masuk sekitar setengah batang. Aku tidak bisa maju lagi karena rasanya seperti buntu. Jika kupaksakan kata Nita sakit. Tapi kalau tidak kupaksa dia tidak merasa sakit. Aku kemudian memaju mundurkan setengah batangku keluar masuk. Nikmatnya luar biasa, lebih nikmat dari pada di oral. Aku sampai mencapai orgasme.
Aku mengira lubang vagina Nita sudah buntu karena masih kecil. Jadi belum bisa menerima penisku sepenuhnya. Nita tidak merasakan nikmat, jika aku masukkan penisku. Tapi aku merasa nikmat sekali. Oleh karena itu aku selalu memintanya.
Kami setiap waktu selalu melakukan hubungan, sampai suatu waktu aku tanpa sengaja dalam bergerak keluar masuk terlalu keras mendorong penisku ke dalam vagina. Nita menjerit dan aku pun terkejut, sebab kemaluanku bisa masuk semua. Aku berhenti dan mengeluarkan batang penisku. Ada darah di seputar penisku, kemaluan Nita berdarah. Dia menangis lalu ke kamar mandi mencuci darah. Jalannya agak aneh, kata dia kemaluannya sakit.
Aku jadi takut. Kalau dia berjalan seperti itu, nanti ibunya curiga dan tanya kenapa jalannya agak ngengkang. Nita kuajak latihan jalan dan turun tanggal lalu jalan ke sekitar kompleks. Lama-lama jalannya mulai normal dan kami kembali ke rumah.
Sejak saat itu hampir sebulan kami tidak melakukan aktivitas sex. Namun karena sudah mengenal rasa yang nikmat aku kembali mengajak Nita untuk berkativitas sex lagi. Nita tidak menolak dan kata dia sakitnya sudah hilang. Aku kembali mencoba memasukkan penisku, tetapi gagal. Baru kuingat harus dioelsi cream. Setelah dioles cream, penisku lebih mudah masuk ke dalam vagina Nita. Aku pelan-pelan mendorong masuk penisku dan ternyata sampai semua masuk tertelan. Aku merasakan sensasi rasa yang nikmat. Nita masih merasakan sakit, tetapi katanya sudah tidak terlalu sakit seperti yang dulu. Aku perlahan-lahan melakukan gerakan memompa, rasanya enak sekali. Gerakan aku percepat dan tidak lama kemudian aku menapai orgasme dan penisku melemas di dalam vagina Nita. Nita mengatakan dia tidak merasakan enak. Malah dia bilang lebih enak dioral, dari pada ditusuk-tusuk. Dia minta aku mengoral setelah aku mencapai orgasme tadi.
Kegiatan kami selanjutnya hampir setiap hari selalu melakukan hubungan badan, tetapi Nita minta dioral dulu. Aku merasakan jika aku oral dulu, penisku lebih mudah masuk karena vaginanya terasa lebih licin.
Kami tidak lagi menonton film porno karena sudah tahu dan merasakan nikmatnya seperti yang dimainkan di film itu. Kami semakin akrab dan berlangsung sampai ke kelas 6. Badan Nita sudah semakin besar dan dia mulai mempunyai payudara, meski pun kecil.
Suatu hari Nita memperkenalkan temannya, Amanda. Dia tinggal di kompleks rumah susun ini tetapi agak jauh dari blok kami. Amanda adalah teman sekelas Nita. Amanda cantik, lebih putih dan kelihatannya lebih berkembang dibanding Nita.
Nita membocorkan kepada Amanda, bahwa kami sering nonton film porno. Amanda menurut Nita belum pernah nonton film gituan. Dia ingin tahu seperti apa, film porno. Nita memintaku memutar film porno. Rumah kami kunci dan aku memilih film porno Asia.
Suara dari TV kami kecilkan, khawatir ada orang bisa mendengar dari luar. Amanda duduk berdekatan dengan Nita sedang aku duduk di kursi terpisah. Amanda menutup mulut dan hidungnya setiap kali ada adegan yang vulgar. Reaksinya berbeda dengan Nita yang waktu itu menutup matanya.
Setelah film selesai diputar muka Amanda kelihatan bersemu merah. “ Serem,” katanya. Kami kemudian terlibat ngobrol seperti biasa obrolan anak-anak. Menjelang sore Amanda pamit pulang.
Aku menarik Nita, dan menegurnya kenapa dia sampai membocorkan rahasia di rumah ini. Kalau ketahuan apalagi di sekolah. Kita bisa malu. Nita mengatakan bahwa Amanda adalah teman sebangkunya. Amanda sendiri yang bercerita bahwa dia pengin melihat film porno. Menurut istilah mereka bokep. Di rumahnya meski ada DVD tapi karena banyak orang tidak mungkin memutar film seperti itu. Di sekolah banyak temen-temennya punya film bokep. “ Jadi aku tawari, kalau mau nonton film gituan, di rumah ku ada,” kata Nita.
Dia berjanji akan menjaga rahasia. “ Anak cewek kan malu kalau cerita-cerita soal film bokep, emang cowok yang mulutnya ngablak,” kata Nita. Perkataan Nita ada benarnya, cewek lebih kuat menjaga rahasia soal onerdil dalam.
Acara kami jadi berubah sering nonton film bokep. Kami jadi terbiasa dan muka Amanda tidak merah lagi. Sampai suatu hari Amanda ngomong, “gimana sih rasanya, kok kelihatannya mereka keenakan.”
Aku langsung terdiam dan saling pandang dengan Nita. “ Emangnya kamu pengin tahu rasanya “ tanya Nita.
“Ehmm gimana ya, pengin tahu aja, abis penasaran liatnya kok mereka sampai teriak-teriak,” kata Amanda polos.
Nita lancang sekali rasanya waktu itu. Dia bilang ama Amanda, kalau mau tahu rasanya harus bisa pegang rahasia. “ Emang rasanya bisa dirahasiakan, gimana sih gue nggak ngerti,” kata Amanda polos.
Dasar kami pada waktu itu masih anak-anak polos, jadi kurang bisa berbicara diplomatis. “ Kalau kamu janji pegang rahasia, nanti bakal tahu rasanya,” kata Nita. Aku berdebar-debar dan salah tingkah. Aku tidak menyangka Nita bisa bicara senekat itu.
“Ya deh gue swuer bakal pegang rahasia, tapi apaan sih,” kata Amanda polos.
Nita menjelaskan kepada Amanda bahwa aku bisa mengajari Amanda untuk merasakan. Nita nyrocos begitu saja tanpa minta persetujuan ku. Aku jadi belingsatan. Aku merasa rikuh dan tidak tahu harus ngomong apa. “ emang kamu ngerti bisa ngajari aku supaya tahu rasa kayak yang difilm itu,” tanya Amanda.
Belum aku menjawab, Nita sudah memotong pembicaraan dengan mengatakan, “udahlah tenang aja.”
Nita menjelaskan untuk mau diajari, Amanda tidak boleh malu, harus mau telanjang seperti di film itu. Amanda terperanjat, mukanya merah. Tapi dia sepertinya sudah terjebak oleh kata-katanya sendiri, sehingga tidak bisa berkata apa-apa. Nita mulai membuka kancing baju Amanda. Diperlakukan begitu Amanda bingung. Dia agak menahan-nahan gerak Nita.
Melihat keraguan Amanda, Nita lalu berdiri dan segera membuka semua bajunya sendiri dan celana dalamnya sampai dia telanjang bulat. Amanda makin bingung dan terpaksa merelakan tubuhnya dikuliti Nita. Setelah mereka telanjang bulat, Nita mengajak Amanda ke kamar mandi untuk mencuci bagian vitalnya. Amanda kembali dan berjalan sambil menutup kemaluan dan dadanya.
Nita memerintahkan Amanda yang masih kebingungan untuk duduk di sofa dan merenggangkan kedua kakinya. Tangannya masih tetap menutup kemaluannya. Amanda lalu memerintahkan aku untuk mengoral Amanda. Aku meski rikuh tapi terangsang juga. Body Amanda harus kuakui lebih bagus dari Nita yang cenerung kerempeng. Amanda lebih berisi.
“Lu diam saja dan kalau malu tutup mata,” kata Nita sambil mendorong tubuh Amanda agar bersandar ke sofa. Nita memerintahkan aku segera memulai. Ku pegang kedua paha amanda. Amanda terkejut, lalu diam. Badannya kaku dan dingin.
Ketrampilanku mengoral sudah canggih berkat latihan lama bersama Nita. Aku mulai menjilati sekitar kemaluan Amanda yang tampak gemuk dan gundul. Amanda memegang kepalaku seperti gerakan menahan. Dia merasa kegelian. Aku tahu karena mungkin belum dicium teteknya. Aku lalu naik memegang kedua payudaranya yang sudah tumbuh cukup besar, paling tidak lebih besar dari milik Anita yang baru tumbuh.
Ketika tanganku meremas payudara Amanda, tanggannya seperti agak menahan tanganku, tapi aku tetap bisa meremas kedua payudaranya. Aku kemudian mulai menjilati kedua putingnya yang kecil. Amanda merintih kegelian. Namun tidak lama kemudian dia memegang kedua kepala ku dan badannya mengeliat-geliat. Payudara Amanda rasanya kenyal sekali, aku suka sekali.
Sambil menyiumi kedua susunya, tanganku memainkan kemaluannya dan menyentuh di bagian yang pada Nita dirasa paling geli dan enak. Setiap kali bagian itu tersentuh, Amanda menggelinjang.
Setelah puas menciumi payudara, aku mulai turun ke perut dan langsung ke bagian kemaluan yang membuat Amanda selalu bergelinjang jika tersentuh. Amanda bingung, sampai dia bangkit ingin melihat apa yang akan aku lakukan. “ Ih apa nggak jorok sih,” katanya. Nita mendorong tubuh Amanda sampai dia bersandar lagi.
Aku mulai memainkan lidah di kemaluan Amanda . aku paham benar bagian mana yang harus dijilat. Amanda mengelinjang sambil terus berdesis-desis. Dia berkata lirih, “ aduh enak banget….”
Tidak lama kemudian amanda berteriak “ aku mau pipis, aduh-aduh.”
Aku tahu bahwa dia akan mencapai kepuasan, maka aku terus membenamkan kepala keselangkangannya. Amanda lalu bergetar badannya dan kakinya menjepit kepalaku lalu tangannya menekan kepalaku. Kemaluannya berdenyut-denyut.
Selesai orgasme Amanda terduduk lemas. Nita menanyakan gimana rasanya, “Enak ?”
Amanda hanya mengangguk . “ Gila enak bener, seumur-umur gua belum pernah ngrasain yang kayak gini.,” kata Amanda.
Aku lalu duduk kembali di kursi dan membiarkan kedua cewek itu jalan ke kamar mandi. Mereka mencuci onderdilnya.
Sejak saat itu Amanda rajin main bersama kami dan selalu mendapat service oral. Dia kemudian juga mengoralku diajari Nita. Namun aku sekarang jadi melayani dua cewek. Nggak disangka ternyata nafsu Amanda lebih besar dari Nita. Sebab dia kadang-kadang minta sampai dua kali dioral dalam sehari. Lidahku jadi kelu menuruti kemauannya.
Aku menawarkan Amanda untuk bermain seperti di film yaitu memasukkan penis ke dalam vaginanya. Amanda ragu, karena dia merasa dia tidak punya lubang vagina sebesar yang tampil di film. Aku bilang bahwa milikku juga tidak sebesar yang difilm. Mungkin karena nafsunya dan rasa penasaran, Amanda kemudian bersedia mencoba.
Seperti juga Nita, aku tidak bisa sekali jalan membenamkan penisku . Perlu waktu sampai hampir sebulan penisku baru masuk penuh kedalam vagina Amanda. Jadinya Amanda malah ketagihan. Aku pada waktu itu tidak mengerti bahwa wanita juga harus dilayani orgasmenya dalam persetubuhan. Tapi aku perhatikan kadang-kadang Amanda menjerit lirih, tapi kadang-kadang usai permainan dia diam saja. Amanda hampir setiap hari selalu minta jatah. Kami sering main bertiga. Jadi aku bisa sampai orgasme dua kali.
Sejauh itu aku belum mengeluarkan sperma pada saat orgasme. Namun kuperhatikan penisku selalu basah kuyup jika kulepas dari gengaman vagina mereka berdua. Katanya mereka juga belum mendapat haid.
Kami terus berintim ria sampai aku SMP dan mulai memancarkan sperma dan Mereka mendapat haid. Aku tidak tahu bahwa sperma yang kulepas di dalam vagina merka bisa mengakibatkan hamil. Tapi sejauh itu mereka tidak hamil, sampai akhirnya aku pindah bersama orang tuaku yang membeli rumah baru agak di pinggir kota. Nita pun kabarnya juga sudah tidak tinggal di rumah susun. Bagi Nita dan Amanda jika membaca cerita ini, aku minta maaf menyebut nama kamu tanpa kuganti. Kurasa tidak bakal ada orang yang tahu kisah kita. Itu juga sudah terjadi lama sekali, ketika kita masih kanak-kanak.
Mau Booking Cewek Bispak
Cerita Anak Gembala
Pembaca yang tidak pernah tinggal di desa atau di kampung akan sulit membayangkan situasi dimana aku bercerita. Sedangkan mereka yang masa kecilnya tinggal di desa mungkin akan lebih mudah mencerna ceritaku.
Aku bukan berasal dari keluarga berada. Orang tuaku adalah petani biasa yang memiliki sebidang tanah dan 2 ekor sapi. Sepulang sekolah dasar, aku menggiring sapi-sapiku ke lahan di tepi hutan. Disana biasanya sudah ada Adi dan Sumadi. Mereka juga menggembalakan sapi. Sambil menunggu sapi-sapi merumput kami bertiga melakukan berbagai aktivitas, seperti mencari ikan di sungai, atau menguras parit-parit kecil ( kami menyebutnya nawu)yang ada ikannya, mencari buah-buahan yang dapat dimakan seperti jambu biji, petai cina atau tebu. Anak gembala memang agak rakus, yang kami biasa menyebutnya nggragas.
Aku, Adi dan Sumadi kira-kira sebaya lah antara 9 sampai 11 tahun. Aku sendiri umurnya 10 tahun. Jika hari libur sekolah kami bisa seharian berada di daerah penggembalaan. Pada jam-jam makan saja kami kembali ke rumah yang memang tidak terlalu jauh.
Selain kami bertiga kami juga sering bermain dengan anak perempuan . Mereka adalah Ina dan Rini. Kedua mereka setiap hari mencari kayu bakar di hutan dekat kami menggembala. Kadang kala kalau kami mendapat ikan, dan kami bakar, mereka ikut makan. Aku dan teman-teman juga sering membantu mereka mengumpulkan kayu bakar. Pada waktu itu tidak ada perasaan perbedaan gender. Mungkin karena kami masih anak-anak.
Bahkan kalau kami mandi di sungai mereka ikut bergabung. Kami kalau mandi tidak pernah pakai basahan, atau celana. Kami mandi telanjang. Biasanya ketika melepas celana, burung kami tutup dengan menangkupkan tangan ke bagian kemaluan lalu buru-buru terjun ke air. Ina dan Rini mereka mandi masih pakai basahan, yaitu celana dalam mereka.
Meskipun mereka tidak menutup bagian dada mereka, tetapi kami tidak tertarik memandangi tetek mereka. Seingatku tetek mereka berdua belum besar, meski agak sedikit lebih bengkak dari milik kami yang laki-laki.
Mungkin karena kami orang desa yang jauh dari informasi kota, jadi tidak ada rasa malu kami mandi bersama. Pada waktu itu, televisi masih terbatas hitam putih, dan masih sangat jarang orang yang memiliki. Aku sesekali menonton televisi di balai desa. Itupun di layarnya seperti banyak semutnya.
Aku ingat pada waktu itu Ina dan Rini masih duduk di kelas empat. Aku juga kelas empat tetapi beda sekolah.
Kami berlima sangat kompak dan saling membantu. Meski mereka cewek, tetapi mereka mau membantu menarik atau menggiring-sapi-sapi gembalaanku.
Namun kekompakan kami tidak berlangsung lama, karena ketika aku naik ke kelas lima Sumadi tidak lagi memiliki sapi, karena dijual orang tuanya. Sumadi sendiri kemudian diminta membantu bertani oleh ayahnya. Adi juga tidak lagi menggembala, karena orang tuanya ikut transmigrasi.
Tinggallah aku dan Rini serta Ani. Kami masih kompak bertiga. Karena aku tidak mempunyai teman menggembala, maka mereka sering menemani main di daerah gembalaan. Kuingat waktu itu orang tuaku menukar sapinya dengan 3 ekor kerbau. Aku lebih senang menggembala kerbau karena lebih menurut dan yang paling asyik bisa kami naiki. Rini dan Ani paling senang ikut jalan pulang sambil menaiki kerbauku.
Kegiatan kami bertiga masih seperti dulu termasuk mandi di sungai sambil menunggu kerbau berendam di air.
Ada yang agar berbeda setelah kedua cewek itu kelas 5, mereka sekarang kalau mandi pakai basahan atasan seperti singlet atau kaus oblong. Aku mulanya tidak menghiraukan, tetapi akhirnya mataku menangkap bahwa dibalik basahan atas itu ada menyembul tetek mereka yang mungkin tumbuh lebih besar.
Kedua cewek itu meski suka mandi di sungai, tetapi mereka tidak bisa berenang. Sedang aku sangat mahir berenang, terutama gaya bebas atau gaya berenang kali. Sungai yang suka kami jadikan tempat mandi bukanlah sungai yang terlalu besar. Lebarnya hanya sekitar 10 meter dan juga tidak terlalu deras dan banyak bagian yang dangkal. Aku bersama kedua cewek itu sering mencari kijing, semacam kerang yang hidup di sungai. Kami mencarinya dengan meraba-raba dibagian bawah pasir. Jika dapat banyak kami bawa pulang dan menyerahkan ke emak untuk dibuat masakan. Tetapi jika tidak banyak biasanya kami kumpulkan di bagian tepi sungai lalu kami pagari agar tidak hanyut.
Mencari kijing sering kali di area yang agak dalam yakni airnya setinggi dada anak-anak. Aku biasanya harus menyelam dan hasilnya aku berikan kepada mereka yang menunggu sambil berdiri.
Pada waktu menyelam aku sering memandangi kemaluan mereka yang terbungkus celana dalam putih. Jika terendam air, maka belahan kemaluan mereka terlihat agak jelas. Entah kenapa aku senang melihat belahan memek mereka yang terendam air. Kalau mereka mentas aku tidak bisa leluasa menatap ke memek mereka. Mungkin dengan pertambahan usia ada dorongan lebih besar untuk mengetahui kemaluan lawan jenis serta mungkin rangsangan sex mulai tumbuh juga. Dulu ketika kelas 4 aku masih tidak peduli dengan perempuan. Tapi setelah kelas 5 ada rasa malu, tapi ada rasa penasaran ingin tahu.
Kebetulan badanku agak bongsor dibanding Ani dan Rini meskipun usia kami sebaya, tetapi tinggiku sejengkal lebih dari mereka.
Karena badanku agak tinggi maka mereka sangat mengandalkan aku mencari kayu bakar. Aku bisa memanjat pohon untuk menarik dahan-dahan kering, atau menarik batang kayu lalu memotongnya dengan golok. Entah kenapa menurut anggapanku, tenaga perempuan sangat lemas, sehingga untuk memotong kayu kering mereka kelihatannya kurang kuat. Pertolonganku sangat mereka berdua dambakan.
Tidak ada pamrih apa-apa atas pertolonganku kepada mereka, Aku hanya senang bersahabat, senang menolong mereka. Aku kadang-kadang membawa jajanan, seperti ubi rebus, pisang rebus buatan emak. Keluarga ku termasuk lebih baik ekonominya dibandingkan keluarga Ani dan Rini.
Di luar areal penggembalaan, kami juga berteman akrab. Beberapa kali aku membantu menimba air dari sumur di rumah Rini dan Ani. Maklum orang tua mereka janda. Aku jadi akrab dengan keluarga mereka.
Cerita erotisnya bermula dari kejadian ketika seperti biasa aku mengajak mereka mandi sungai setelah selesai mengumpulkan kayu dan aku sekalian menunggu kerbau berendam. Ani menolak, karena katanya dia tidak punya ganti. Dia tidak pakai daleman, artinya tidak pakai celana dalam dan kaus singlet.
Pada waktu itu aku berpikir polos saja, tanpa maksud macam-macam. Aku menawarkan bertiga mandi telanjang. Mulanya Rini dan Ani agak keberatan karena katanya malu. Aku beralasan tidak perlu malu karena tidak ada orang lain di situ. Selain itu kita bertiga kan sudah lama kenal bahkan sejak kecil. Jadi sudah biasalah melihat masing-masing telanjang.
Mereka tetap merasa malu. Namun sebenarnya mereka memang ingin mandi karena badannya gatal, mungkin karena tadi terkena bulu bambu (lugud) Mereka malu terhadapku. Waktu itu aku menemukan solusi. Aku menawarkan untuk menjauh dari mereka ketika mereka buka baju dan masuk ke air. Aku berenang ke hilir, menghampiri kerbauku dan aku waktu itu memulai membuang rasa malu dengan langsung telanjang di depan mereka. Ani dan Rini membuang muka ketika tahu aku mau bertelanjang Aku berenang ke hilir.
Jaraknya tidak terlalu jauh, tetapi karena sungainya berbelok, jadi aku memang tidak bisa melihat mereka. Setelah mereka memberi aba-aba telah nyemplung ke air, barulah aku kembali menghampiri mereka.
Kami bercanda, siram-siraman air, dan yang istimewa hari itu kami bertiga telanjang mandi di sungai. Aku mengajari mereka ciblon ( atau main air yang menimbulkan suara). Untuk bisa melakukan ciblon badan harus terendam air paling tinggi sepinggang, sehingga leluasa melakukan gerakan.
Mereka ingin melakukan ciblon, tetapi malu karena tetek yang baru numbuh akan terlihat oleh ku. Aku biarkan saja mereka bertahan dengan rasa malu, karena tidak mungkin dipaksa mereka agar tidak malu.
Nah sejak itu di hari-hari berikutnya kami bertiga jadi terbiasa mandi telanjang. Kami lebih suka karena tidak ada baju basah yang kami pakai sampai kerumah. Karena terbiasa telanjang, lama-lama jadi berkurang rasa malunya. Ani dan Rini mulai berani keluar dari air sampai setinggi pinggang. Artinya mereka membiarkan aku melihat tetek mereka yang baru tumbuh.
Sejujurnya aku tertarik melihat tetek-tetek itu, tetapi agar mereka tidak malu, aku bersikap seolah tidak pernah menatap tetek mereka.
Kami jadi tidak terhalang lagi oleh rasa malu. Mereka hanya masih menyembunyikan kemaluan mereka. Sedang aku entah karena ada bakat exhibionis atau apa aku bebas saja melepas celana ku dan masuk ke air. Sedang mereka saat itu tidak mensyaratkan aku berpaling, mereka hanya menutup memeknya dengan tangan lalu masuk ke air.
Kami bercanda di air. Aku sering menyelam dan tiba-tiba muncul diantara kedua kaki Ani atau Rini. Jadinya mereka seperti tergendong di pundakku lalu menjatuhkan diri sambil berteriak-teriak.
Aku ingat pada waktu itu, jika aku sering bersentuhan dengan tubuh mereka, penisku jadi mengeras. Kadang-kadang aku malu kalau sedang ngaceng begitu, sehingga mentasnya agak lama. Tapi yang sering meski ditunggu mentas lama sampai kedinginan , penisku tidak bisa turun dari ketegangan. Mereka bertanya-tanya kenapa ketika mentas aku menutup kemaluanku, sedang tadi waktu masuk ke air tidak malu.
Aku nggak bisa beralasan kecuali jujur ku katakan bahwa kemaluanku ngaceng. Keduanya saling berpandang-pandangan karena tidak ngerti arti ngaceng. Aku bilang saja bahwa burungku tegang. Mereka malah makin bingung. Maklumlah anak desa yang masih polos dan belum banyak mengerti soal sex.
Rini dan Ani rupanya penasaran dan memaksa aku menunjukkan burungku yang tegang. Aku awalnya menolak, karena malu. Entah ide dari mana aku kemudian mau dengan syarat barter. Artinya kalau aku menunjukkan kepada mereka kemaluanku yang tegang, aku harus diperbolehkan melihat kemaluan mereka juga.
Mereka keberatan dengan tawaran itu. Jadinya aku tetap tidak memperlihatkan. Tapi Ani rupanya lebih penasaran dibanding Rini, sehingga dia mengalah lalu membujuk Rini agar ikut memperlihatkan memeknya juga.
Posisi kami pada waktu itu sudah memakai celana sehabis mandi. Maka kami sepakat bersama-sama membuka kemaluan kami pada hitungan ketiga. Kami sama-sama menghitung dan pada hitungan ke tiga Aku, Ani dan Rini menurunkan celana. Tetapi Rini dalam sekejap sudah menaikan lagi lalu diikuti Ani, maka aku pun ikut menaikkan celana. Sehingga baik aku maupun mereka sama-sama tidak jelas melihat kelamin lawan jenis.
Kami tidak puas dan membuat aturan baru bahwa setelah hitungan ketiga, kami memperlihatkan diri dan tetap terbuka sampai hitungan ke sepuluh yang dimulai dari angka satu lagi. Akhirnya kami saling memperlihatkan kemaluan kami masing-masing dalam waktu sekitar hanya kurang dari 10 detik.
Aku sebenarnya kurang puas, karena harus melihat 2 memek sekaligus dan bentuknya hanya seperti belahan pantat yang kecil saja. Sedangkan kemaluan ku bisa terlihat semua tidak ada yang disembunyikan. Tapi aku mau protes, tidak tahu apa yang harus kukatakan, karena pada waktu itu aku mengira ya memang sesederhana itu saja kemaluan cewek.
Ternyata yang protes malah Ani. Dia ingin melihat lebih jelas lebih dekat, Dia bertanya, kenapa penis yang tadinya kuyu bisa mengeras dan membesar. Dia juga merasa lucu melihat kepala penisku yang seperti topi baja. Waktu itu aku memang sudah sunat.
Ani meminta aku membuka lebih lama dan memperbolehkan dia melihat lebih dekat, karena penasaran saja. Aku setuju adalah mereka juga mau memperlihatkan lebih lama.
Ani yang penasaran memaksa Rini untuk menerima syaratku. Rini meski kelihatan berat hati karena malu akhirnya setuju juga.
Giliran pertama aku harus berbaring dan membuka celanaku. Merasa akan diperhatikan, penisku menegang. Ani dan Rini cekikikan melihat profil penisku. Dia menanyakan kantong zakar, lalu kepala penis. Yang cilaka aku diminta mereka untuk melemaskannya. Permintaan itu tidak mungkin aku bisa lakukan. Sampai saat itu aku belum mengenal onani.
Aku tidak bisa menjawab ketika ditanya kenapa. Aku hanya mengatakan bahwa penis ini mengeras dan mengendur sendiri bukan karena keinginanku.
Dari hanya memperhatikan dari dekat, akhirnya Rini malah penasaran ingin memegang. Dia ingin tahu sekeras apa penisku. Tanpa ngomong apa-apa dia menekan batang penisku dengan ibu jari dan telunjuk. Aku terkejut dan badanku seperti dialiri listrik karena merasa kenikmatan disentuh. Melihat aku terkejut, Rini pun terkejut dan melepas sentuhannya. Ketika mereka mengira aku kesakitan, aku terus terang mengatakan bahwa sentuhan itu rasanya enak dan nyetrum ke seluruh tubuhku. Aku lalu minta Rini menyentuh lagi, Ani malah ikut-ikutan menekan penisku. Tanpa kusadari aku mendesah nikmat. Mereka jadi seperti disemangati oleh desahanku. Tiba-tiba ada dorongan kuat dari dalam diriku dan aku mencapai orgasme untuk yang pertama kali dalam hidupku. Waktu itu aku belum mengeluarkan sperma, sehingga penisku hanya berkedut-kedut saja. Aku segera menyingkirkan kedua tangan mereka karena tiba-tiba penisku terasa sangat geli kalau disentuh. Aku membekam penisku sampai orgasmenya reda. Mereka terheran-heran melihat aku seperti kesurupan. Setelah reda orgasmenya aku mengatakan bahwa baru saja aku merasakan suatu kenikmatan yang amat sangat dan belum pernah aku rasakan. Pelan-pelan penisku melemah dan akhirnya kempis. Proses itu diikuti oleh mereka dan ketika sudah melemah mereka kembali menekan-nekan penisku yang lembek.
Aku lalu ingat janji mereka untuk memperlihatkan organ mereka. Ketika mereka kutagih, keduanya ingkar dan berusaha menyembunyikannya. Aku tentu sangat kesal, tapi tidak mungkin memaksa mereka.
Aku diam saja dan mengatakan kepada mereka bahwa aku marah, karena Ani dan Rini tidak adil. Keesokan nya aku tidak mau membantu mereka mencari kayu bakar. Aku bahkan menjauh dari mereka.
Hanya dua hari mereka bisa bertahan berjauhan dengan ku. Pada hari ketiga Ani dan Rini mendekatiku dan merayuku untuk rujuk kembali dan mereka mengaku salah. Bukan itu saja mereka mau menepati janjinya, asalkan aku mau membantu mereka kembali mencari kayu bakar.
Aku menerima pertemanan mereka dan langsung menuntut janji mereka. Pertama aku minta Ani berbaring dan membuka celana dalamnya. Ani berbaring dan langsung mengangkang. Terlihat belahan memek dan di bagian dalamnya agak berwarna merah. Aku mencoba menyibak belahan memeknya, terlihat ada seperti gelambir kecil dan lubang kecil di bawahnya. Di situ aku baru tahu bahwa memek tidak mempunyai lubang di depan, tetapi di bagian bawah. Di bagian depan lipatan memek malah tidak ada apa apa. Aku menyentuh gelambir kecil yang sekarang ku tahu bahwa itu adalah labia mayora. Ani terjungkat ketika bagian itu kusentuh. Dia mengatakan geli, sehingga dia menepis tanganku. Puas melihat memek Ani aku menuntut r
Rini juga menunjukkannya.
Memek Rini sama dengan Ani, hanya yang mengesankan bagiku, gundukan memeknya lebih gemuk. Rini pun berjungkat ketika gelambir kecil memeknya aku sentuh.
Ketika aku mengobservasi memek mereka, kemaluanku tegang sekali.
Mereka kemudian menuntut untuk melihat kembali kemaluanku. Aku tanpa menunggu lama langsung memelorotkan celanaku sambil berdiri. Ani dan Rini jongkok di depanku sambil tangannya menyentuh kemaluanku. Rini meremas kantong zakarku. Aku berteriak karena sakit. Mereka kucegah menekan bagian itu kuat-kuat. Keduanya lalu seperti pertama dulu menekan-nekan penisku sampai aku kembali orgasme. Ani dan Rini senang melihat proses penisku menyusut.
Sejak saat itu tidak ada lagi rasa malu di antara kami. Namun keakraban itu sangat kami rahasiakan. Meskipun aku ingin sekali bercerita kepada banyak orang mengenai pengalamanku dengan perempuan karena pengalaman ini kurasakan sangat luar biasa, tetapi aku terpaksa menahannya dan menyadari kalau cerita itu terbuka keluar maka aku akan menghadapi masalah dan membuatku juga malu.
Aku jadi rajin mengembala, dan Ani serta Rini rajin pula mencari kayu bakar. Kegiatan diakhiri dengan mandi di sungai bersama-sama. Kami tidak lagi merasa perlu mandi dengan basahan, sebab sudah tidak ada lagi rasa malu diantara kami bertiga. Aku bahkan tidak hanya mandi bersama tetapi biasa bermain diair sambil bergulat memeluk dan memegang tetek maupun kemaluan mereka. Aku pun begitu. Kadang-kadang aku digeret dari pinggir sungai sampai masuk ke air dengan memegang penisku.
Kegiatan selalu diakhiri dengan aku mencapai orgasme setelah dipegang-pegang oleh tangan kedua cewek. Entah karena naluriku atau juga naluri dari cewek-cewek itu, akhirnya kami menemukan permainan mengocok penisku sampai aku orgasme. Sebabnya penisku tak kunjung mencapai orgasme hanya dengan dipegang-pegang saja. Lama-lama jadi agak Imun.
Selanjutnya aku menemukan kenikmatan ketika memeluk salah satu dari cewek itu dari belakang. Penisku yang menegang menusuk belahan pantat. Rasanya nikmat sekali.
Sampai sejauh itu baik aku maupun kedua cewek itu belum mengetahui hubungan sex antara pria dan wanita. Aku menemukan permainan baru yang menimbulkan kenikmatan lebih tinggi dengan menggesek-gesek penisku di belakang belahan pantat mereka.
Ani maupun Rini senang dibegitukan meskipun mereka sering mengeluh merasa geli. Aku juga paling senang meremas-remas susu mereka yang baru tumbuh, karena rasanya kenyal dan nikmat sambil aku memeluk dari belakang.
Mereka berdua mengaku merasa nikmat jika aku meremas-remas gundukan kemaluan mereka. Hanya saja mereka marah jika ketika aku meremas memek mereka lalu jariku yang terperosok ke dalam belahan memeknya aku cium. Menurutku bau memek mereka agak aneh. Apalagi sebelum mandi, baunya agak pesing. Tetapi setelah mandi, nyaris tidak ada baunya. Jariku kadang-kadang terkena lendir yang kalau sudah gitu aku mencucinya dan membersihkannya dengan pasir. Aku merasa geli jika lendir itu terkena di jariku. Tapi anehnya aku suka mengorek-ngorek memek mereka meski risikonya terkena lendir.
Bahasa kami waktu itu adalah turuk untuk menyebut memek, dan peli untuk menyebut penis.
Sebagai penggembala kerbau aku terbiasa melihat kerbau melakukan hubungan kelamin. Namun kali ini aku tertarik melihat hewan peliharaanku melakukannya. Entah kenapa, kemaluanku jadi menegang. Aku memperhatikan apa yang dilakukan kerbauku ketika kawin. Semula aku mengira, batang penis kerbau dimasukkan ke lubang pantat betinanya. Namun kemudian setelah aku amati lebih jeli ternyata bukan masuk ke lubang pantatnya.
Ketika aku mengamati kerbauku kawin aku sempat diejek Rini dan Ani. Kata mereka aku melihat apa kok serius sekali. Aku katakan, penasaran ingin tahu apa yang dilakukan kerbau kawin.
Rini dan Ani ternyata lebih tahu. Baru kutahu ketika Ani menceritakan bahwa binatang kawin itu dengan memasukkan kelamin prianya ke lubang kelamin betinanya. Dengan begitulah mereka kemudian punya anak.
Entah kenapa sejak penjelasan itu aku jadi punya keinginan seperti yang dilakukan kerbau-kerbauku. Jika sebelum ini kami bermain peluk-pelukan di dalam air dan aku menyelipkan penisku di pantat mereka, sekarang aku punya ide permainan, kawin-kawinan.
Masih di dalam air baik Ani maupun Rini aku suruh menunduk dengan bertopang pada lutut, lalu aku menusukkan penisku di belahan pantat mereka. Mulanya Ani dan Rini tidak mau, tetapi karena aku terus membujuk mereka akhirnya mau. Mereka katanya takut punyak anak.
Aku jadi ketagihan main kawin-kawinan. Setelah berkali-kali dan ternyata Ani dan Rina tidak punya anak akhirnya kami jadi sering main begituan. Kalau dulu kami mainnya di dalan air, setelah itu kami main di luar. Aku tidak tahu waktu itu bahwa penis itu harus dimasukkan ke dalam lubang vagina. Sebab dengan menyelipkan penisku diantara lipatan memeknya sudah terasa nikmat sekali.
Rini dan Ani sering menolak aku ajak main kawin-kawinan, karena mereka merasa memeknya geli.
Aku ingat suatu waktu ketika kami sedang mengumpulkan kayu, di tengah hutan menemukan semacam bangku, bekas orang membuat papan di hutan. Aku tidak ingat apakah Rini atau Ani yang memulai. Tapi dia mencopot celananya dan tidur telentang dibangku itu lalu aku diminta buka celana. Penisku dipegangnya lalu seperti dioles-oleskan ke belahan memeknya. Katanya penisku menimbulkan kenikmatan. Aku memang melihat dia kadang-kadang mengejang. Sementara aku diam saja karena aku juga merasa nikmat. Tapi perbuatan mereka itu tidak bisa mengantarkan aku sampai orgasme. Kedua-duanya melakukan itu dan reaksinya sama, mereka kadang-kadang mengejang.
Aku sebenarnya kurang suka karena penisku kena lendir mereka dan baunya agak pesing, Tapi karena mereka terlihat nikmat aku jadi mengalah saja.
Berkali-kali kami melakukan adegan itu, sampai aku melihat lubang di memek yang kelihatan memerah. Aku pikir lubang itu yang bisa dimasuki penisku seperti kerbau memasukkan penisnya kelubang belakang betinanya.
Aku katakan akan mencoba menusuk lubang itu. Mulanya mereka mau mencoba, tetapi ketika di coba mereka mendorongku karena terasa sakit. Aku sampai hampir jatuh kejengkang ketika Ani mendorongku. Ketika kucoba ke Rini dia juga akhirnya mendorongku, karena katanya memeknya perih.
Meski mereka tidak mau tapi, aku tetap penasaran. Mereka masih tetap ketagihan mengoser-oser penisku di belahan memeknya. Jika semula tangan mereka yang memegangi penisku, kini kuambil alih akulah yang mengoser-oser. Aku perhatikan jika lama aku mengoser-oser ke memek Ani, dia lama-lama ngompol karena memeknya jadi makin basah. Si Rini sama juga. Ani mulai kejang-kejang jika aku menggesekkan kepala penisku ke belahan memek mereka. Aku sudah bertekad mengambil kesempatan untuk menusukkan penisku ke dalam lubang memek Ani ketika dia sedang mengejang. Saat Ani mulai mengejang aku terus menggesekkan penisku sampai dia mendesis desis. Kepala penisku sudah tepat di depan lubang memek yang merekah merah. Dengan gerakan tiba-tiba aku tekan sekuat tenaga. Penisku yang keras itu masuk seluruhnya ke dalam lubang Ani. Dia menjerit dan menangis, tetapi tangannya menahan pinggulku . Padahal aku ingin mengeluarkan penisku dari lubang itu, takut nyangkut seperti anjing. Ani menahannya, katanya memeknya perih. Tapi ketika aku bilang kalau tidak dilepas nanti takutnya gancet (istilah kelamin anjing yang tak bisa lepas sesaat ketika habis bubungan kelamin). Ani akhirnya melemaskan pegangannya dan aku diarahkan menariknya pelan-pelan. Aku lega karena penisku bisa lepas dari lubang memeknya, tetapi aku takut, karena penisku berdarah. Hari itu Ani marah dia mengajak pulang Rini sambil tertatih-tatih membawa kayu bakar.
Keesokan harinya Aku tidak melihat kedua cewek itu. Aku sebetulnya ingin minta maaf jika mereka datang. Ani masih cemberut ketika kutemui bermain dekat rumahnya. Dia tidak mau banyak bicara ketika kuajak bermain.
Aku akhirnya pasrah dan membiarkan Ani membenciku. Padahal aku pun tidak tahu kalau perbuatan itu mengakibatkan dia berdarah. Tadinya aku kira penisku yang luka. Tetapi setelah aku cuci tidak ada bagian yang terluka. Aku jadi mengingat-ingat kejadian berdarah itu. Penisku terasa terjepit oleh memek Ani dan nikmat sekali. Tapi aku sempat kalut ketika tiba-tiba teringat anjing kawin bisa gancet.
Di hari ketiga Ani dan Rini kembali muncul. Ani kelihatannya sudah melupakan marahnya dan mengajak aku mencari kayu. Entah dia terpaksa berbaikan dengan aku atau memang dia bisa menerima kesalahanku. Tapi bisa saja dia terpaksa, karena tanpa bantuanku dia tidak bisa mendapat banyak kayu bakar. Atau mungkin juga dorongan Rini yang juga merasakan tidak bisa mengumpulkan kayu bakar lebih banyak tanpa bantuanku.
Namun kali itu mereka tidak mau ketika kuajak mandi bareng. Mereka berdua memilih pulang lebih cepat. Aku kemudian juga kehilangan selera mandi di sungai sendirian. Aku memilih nanti saja mandi di sumur di rumah.
Seminggu kira-kira hubungan kami agak renggang. Setelah itu hubungan kami kembali normal dan keduanya mau mandi bareng lagi di sungai dengan telanjang. Aku tidak berani memeluk keduanya dari belakang seperti yang aku lakukan sebelumnya. Aku takut Ani marah. Jadi kami hanya bercanda dengan bermain air dan saling siram. Aku sempat heran juga ketika kami mentas, Ani berinisiatif mengocok penisku sampai aku memuncak.
Entah dorongan nafsu atau ingin mendapat kenikmatan lagi Ani meminta pinjam penisku untuk dioles-oleskan di belahan memeknya. Si Rini pun juga minta begitu. Posisi kali ini bukan di hutan yang ada bangkunya, tetapi di pinggir kali. Aku membuat tatakan dari daun-daunan di balik kerimbunan semak sehingga jika ada orang lewat tidak bisa langsung melihat kami. Aku khawatir, meskipun di tempat itu jarang sekali ada orang melintas.
Aku duduk bersimpuh sementara Ani tidur telentang dan mengangkangkan kedua kakinya lalu dilipat. Penisku diraihnya lalu dia menggesek-gesekkan ke belahan memeknya. Aku melihat dengan seksama apa yang dilakukan Ani. Dia sebenarnya menekan-nekankan penisku di belahan memeknya, sehingga aku merasa penisku seperti ditarik-tarik. Aku mencoba mengikuti irama gerakannya. Ketika dia menekan ke memeknya aku ikut membantu dengan mendorongkan penisku. Berkali-kali melakukan gerakan itu, kepala penisku seperti terbenam. Rasanya nikmat sekali sehingga aku menginginkan mendorong terus. Memek Anik terasa licin sehingga ketika kuperhatikan penisku agak banyak terbenam ke dalam lubang memek Ani. Ketika sudah mencapai separuh penisku berada di dalam memeknya, Ani kutanya apakah dia merasa sakit. Dia hanya menggeleng. Aku tidak mengatakan bahwa penisku sudah masuk ke dalam memeknya, karena kupikir dia pasti bisa merasa. Aku merasa kenikmatan yang luar biasa karena penisku berada di dalam lubang hangat dan terasa sangat menjepit. Tangan Ani kuangkat dan aku minta untuk menggantikan kerja tangannya. Sambil kugerak-gerakkan aku mendorong terus penisku masuk ke dalam memeknya. Herannya penisku masuk terus sampai seluruhnya tenggelam. Pada waktu itu aku teringat lagi soal anjing gancet. Maka kutarik pelan-pelan penisku . Terasa sekali nikmatnya. Ketika akhirnya bisa terlepas, baru aku yakin bahwa kami tidak gancet, sehingga aku masukkan lagi penisku dan kali ini agak mudah masuknya. Aku terus mendorong sampai mentok. Kulihat reaksi ani bukan kesakitan. Ani kutanya pa yang dia rasakan, kata dia enak banget, karena memeknya terasa penuh dan mengganjal. Malah katanya lebih enak dari pada hanya dioles-oleskan di belahan memeknya. Aku menarik kembali pelan-pelan tapi tidak sampai lepas. Kuraksakan kenikmatan menjalari seluruh batang penisku dan ke seluruh tubuh. Aku teringat gerakan kambing dan anjing kalau kawin. Hewan itu jantannya melakukan gerakan maju mundur, maka aku kemudian melakukan gerakan itu dengan ritme yang cepat. Ani mendesis-desis, sambil berkata,” aduh enak banget……”
Rini yang memperhatikan apa yang kami lakukan bolak balik nanya ke Rini, enak gimana. Ani yang terus dicecar pertanyaan menjawab rada kesal sambil berteriak lirih “ Enaaaaak banget..”
Aku pun merasa enak sekali, jauh lebih enak dari pada dikocok pakai tangan. Aku tidak lagi bersimpuh tetapi sudah telungkup dan berstumpu pada siku, sambil terus melakukan gerakan maju mundur sampai akhirnya ada gelombang nikmat yang luar biasa. Saat yang kemudian aku kenal dengan orgasme aku menancapkan dalam-dalam penisku di memek Ani. Agak lama aku melepaskan denyutan penisku sampai akhirnya kenikmatan itu berangsur-angsur menurun. Aku menarik pelan-pelan penisku. Sempat kuperhatikan, tidak ada darah di penisku, tetapi penisku penuh dengan lendir.
Ani masih tidur telentang di semak persembunyai kami. Sementara aku keluar dari semak langsung nyebur ke sungai dan membersihkan penisku dari lendir-lendir dari memek Ani.
Ketika sedang asyik mandi, Rini memanggilku. Dia minta aku memeriksa Ani karena tidak bisa bangun. Aku sempat terkesiap. Ani aku datangi di semak persembunyian. Ketika kutanya dia ternyata bisa menjawab. Ani minta aku memasukkan lagi penisku. Aku yang baru mentas dari sungai dan masih telanjang, penisku belum tegang. Ketika aku coba memasukkan ke lubang memek Ani, tidak bisa masuk karena masih lemas. Tapi lama-lama makin mengeras sampai akhirnya keras seperti semula. Pada saat mengeras itulah aku baru berhasil memasukkan kembali penisku ke dalam memek Ani. Aku kembali merasakan kenikmatan seperti tadi. Aku sudah agak mengerti melakukan gerakan . Kali ini kenikmatan yang memuncak terasa lama sekali sampainya. Aku terus menggenjot. Ani mendesis-desis lalu tiba-tiba ia peluk aku erat-erat dan kedua kakinya melingkar ke badanku. Aku tidak bisa bergerak. Penisku terasa seperti diremas-remas oleh memek Ani. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berkata enaakk banget. Setelah melongarkan pelukan aku kembali menggenjotnya lebih cepat. Aku bersemangat, tetapi dalam hati bertanya, kenapa lama sekali gak nyampe kenikmatan seperti yang pertama tadi. Tiba-tiba Ani berteriak, terus-terus. Teriakan itu merangsangku sehingga aku makin cepat bergerak sampai akhirnya aku mencapai puncak kenikmatan lagi. Ani kembali memelukku erat sekali dan kakinya juga merangkul tubuhku.
Aku merasa lemas dan penisku ketika kutarik keluar dari memeknya sudah agak menciut.
Aku berbaring di samping Ani. Setelah istirahat sebentar kami lalu nyebur ke sungai. Ani berubah manja terhadapku. Dia berkali-kali minta aku gendong di dalam air.
Ani menceritakan kenikmatan yang baru dia dapatkan tadi kepada Rini. Ani memaksa Rini mencoba. Rini masih takut karena melihat Ani dulu berdarah dan kesakitan. “Sakitnya Cuma sebentar saja, sesudah itu enaknya luar biasa,” kata Ani.
Sebetulnya selepas mandi itu aku diminta Ani melakukannya ke Rini, tetapi karena hari sudah semakin sore, kami urungkan dan kami berjanji besok akan kami lakukan.
Aku sudah yakin bahwa manusia berbeda dengan anjing. Karena tidak bisa gancet. Oleh karena itu ketika aku melakukannya ke Rini aku sudah lebih percaya diri. Lubang memek Rini agak susah dimasuki, karena penisku berkali-kali terpeleset.
Berbeda ketika melakukan dengan Ani, Kepada Rini aku menekan penisku pelan-pelan sampai penisku bisa masuk. Saat penisku tidak bisa masuk lagi, padahal sudah hampir separuh berada di jepitan memeknya, aku pikir lubang memek Rini dangkal. Rini merasakan sakit, tapi katanya dia masih bisa tahan. Karena lubangnya dangkal aku jadinya melakukan gerakan dengan tidak sampai penisku separuh terbenam. Aku mulai merasakan nikmat sampai-sampai aku lepas kontrol. Tekanan penisku ke dalam memek Rini mungkin terlalu kuat sehingga Rini menjerit dan menangis. Aku terkejut juga dan meraba penisku, ternyata mentok alias masuk seluruhnya ke dalam memeknya. Rini menahan gerakanku karena dia merasa memeknya ngilu. Aku menuruti kemauannya, meski pelan-pelan melakukan gerakan maju dan mundur. Merasa pegangan Rini melonggar aku mempercepat gerakan sampai akhirnya aku mencapai kenikmatan yang luar biasa. Aku biarkan sebentar penisku di dalam memek Rini sampai kenikmatan penisku reda.
Aku kembali takut ketika penisku berdarah. Aku memeriksa seluruh batang penisku, tetapi tidak ada yang terluka. Berarti darah itu berasal dari memek Rini. Aku makin yakin karena Rini mengeluh memeknya perih. Aku dan Ani membimbing Rini masuk ke sungai dan mencuci memeknya. Rini masih meringis, katanya memeknya perih kena air sungai.
Ani mengatakan pada Rini bahwa pada awalnya memang perih, tapi setelah itu enak banget.
Penisku digenggam-genggam Ani dan dia menyeretku masuk ke semak-semak. Ani minta aku memasukkan kembali penisku ke dalam memeknya. Penisku baru setengah tegang. Agak susah jadinya memasukkan ke dalam lubang Ani. Setelah dicoba berkali-kali dan dengan bantuan tuntunan tangan Ani penisku bisa masuk. Aku kembali menggenjot Ani. Dia merintih-rintih dan berkali-kali minta aku berhenti sebentar sambil memelukku dan aku merasa memeknya berdenyut-denyut. Aku terus menggenjot sampai akhirnya ak mencapai puncak kenikmatan.
Tiga hari kemudian baru Rini mau mencoba lagi penisku memasuki memeknya. Dia mengatakan masih agak sakit, tetapi terasa agak enak. Aku menggenjotnya sampai aku mencapai kenikmatan. Aku ingat kemudian aku mengulangi lagi. Pada ronde kedua itu Rinia sudah kurang merasakan sakit. Dia juga mendesis desis seperti Ani dan sempat memelukku erat sekali dan aku merasakan penisku dicengkeram oleh memeknya. Rini baru mengakui ke Ani bahwa permainan ini nikmat sekalai.
Sejak itu kami selalu main kawin-kawinan . Ketika aku menyelesaikan kelas 6 dan akan masuk SMP, orang tuaku memboyong aku pindah ke kota. Kami akhirnya berpisah dengan Ani dan Rini. Aku sering merindukan mereka, terutama keinginanku main kawin-kawinan. Kalau diantara pembaca ada yang merasa sebagai Rini atau Ani tolong tinggalkan email kalian. Aku ingin bertemu kalian. Janji aku tidak menuntut kita main kawin-kawinan lagi
Mau Booking Cewek Bispak
Aku bukan berasal dari keluarga berada. Orang tuaku adalah petani biasa yang memiliki sebidang tanah dan 2 ekor sapi. Sepulang sekolah dasar, aku menggiring sapi-sapiku ke lahan di tepi hutan. Disana biasanya sudah ada Adi dan Sumadi. Mereka juga menggembalakan sapi. Sambil menunggu sapi-sapi merumput kami bertiga melakukan berbagai aktivitas, seperti mencari ikan di sungai, atau menguras parit-parit kecil ( kami menyebutnya nawu)yang ada ikannya, mencari buah-buahan yang dapat dimakan seperti jambu biji, petai cina atau tebu. Anak gembala memang agak rakus, yang kami biasa menyebutnya nggragas.
Aku, Adi dan Sumadi kira-kira sebaya lah antara 9 sampai 11 tahun. Aku sendiri umurnya 10 tahun. Jika hari libur sekolah kami bisa seharian berada di daerah penggembalaan. Pada jam-jam makan saja kami kembali ke rumah yang memang tidak terlalu jauh.
Selain kami bertiga kami juga sering bermain dengan anak perempuan . Mereka adalah Ina dan Rini. Kedua mereka setiap hari mencari kayu bakar di hutan dekat kami menggembala. Kadang kala kalau kami mendapat ikan, dan kami bakar, mereka ikut makan. Aku dan teman-teman juga sering membantu mereka mengumpulkan kayu bakar. Pada waktu itu tidak ada perasaan perbedaan gender. Mungkin karena kami masih anak-anak.
Bahkan kalau kami mandi di sungai mereka ikut bergabung. Kami kalau mandi tidak pernah pakai basahan, atau celana. Kami mandi telanjang. Biasanya ketika melepas celana, burung kami tutup dengan menangkupkan tangan ke bagian kemaluan lalu buru-buru terjun ke air. Ina dan Rini mereka mandi masih pakai basahan, yaitu celana dalam mereka.
Meskipun mereka tidak menutup bagian dada mereka, tetapi kami tidak tertarik memandangi tetek mereka. Seingatku tetek mereka berdua belum besar, meski agak sedikit lebih bengkak dari milik kami yang laki-laki.
Mungkin karena kami orang desa yang jauh dari informasi kota, jadi tidak ada rasa malu kami mandi bersama. Pada waktu itu, televisi masih terbatas hitam putih, dan masih sangat jarang orang yang memiliki. Aku sesekali menonton televisi di balai desa. Itupun di layarnya seperti banyak semutnya.
Aku ingat pada waktu itu Ina dan Rini masih duduk di kelas empat. Aku juga kelas empat tetapi beda sekolah.
Kami berlima sangat kompak dan saling membantu. Meski mereka cewek, tetapi mereka mau membantu menarik atau menggiring-sapi-sapi gembalaanku.
Namun kekompakan kami tidak berlangsung lama, karena ketika aku naik ke kelas lima Sumadi tidak lagi memiliki sapi, karena dijual orang tuanya. Sumadi sendiri kemudian diminta membantu bertani oleh ayahnya. Adi juga tidak lagi menggembala, karena orang tuanya ikut transmigrasi.
Tinggallah aku dan Rini serta Ani. Kami masih kompak bertiga. Karena aku tidak mempunyai teman menggembala, maka mereka sering menemani main di daerah gembalaan. Kuingat waktu itu orang tuaku menukar sapinya dengan 3 ekor kerbau. Aku lebih senang menggembala kerbau karena lebih menurut dan yang paling asyik bisa kami naiki. Rini dan Ani paling senang ikut jalan pulang sambil menaiki kerbauku.
Kegiatan kami bertiga masih seperti dulu termasuk mandi di sungai sambil menunggu kerbau berendam di air.
Ada yang agar berbeda setelah kedua cewek itu kelas 5, mereka sekarang kalau mandi pakai basahan atasan seperti singlet atau kaus oblong. Aku mulanya tidak menghiraukan, tetapi akhirnya mataku menangkap bahwa dibalik basahan atas itu ada menyembul tetek mereka yang mungkin tumbuh lebih besar.
Kedua cewek itu meski suka mandi di sungai, tetapi mereka tidak bisa berenang. Sedang aku sangat mahir berenang, terutama gaya bebas atau gaya berenang kali. Sungai yang suka kami jadikan tempat mandi bukanlah sungai yang terlalu besar. Lebarnya hanya sekitar 10 meter dan juga tidak terlalu deras dan banyak bagian yang dangkal. Aku bersama kedua cewek itu sering mencari kijing, semacam kerang yang hidup di sungai. Kami mencarinya dengan meraba-raba dibagian bawah pasir. Jika dapat banyak kami bawa pulang dan menyerahkan ke emak untuk dibuat masakan. Tetapi jika tidak banyak biasanya kami kumpulkan di bagian tepi sungai lalu kami pagari agar tidak hanyut.
Mencari kijing sering kali di area yang agak dalam yakni airnya setinggi dada anak-anak. Aku biasanya harus menyelam dan hasilnya aku berikan kepada mereka yang menunggu sambil berdiri.
Pada waktu menyelam aku sering memandangi kemaluan mereka yang terbungkus celana dalam putih. Jika terendam air, maka belahan kemaluan mereka terlihat agak jelas. Entah kenapa aku senang melihat belahan memek mereka yang terendam air. Kalau mereka mentas aku tidak bisa leluasa menatap ke memek mereka. Mungkin dengan pertambahan usia ada dorongan lebih besar untuk mengetahui kemaluan lawan jenis serta mungkin rangsangan sex mulai tumbuh juga. Dulu ketika kelas 4 aku masih tidak peduli dengan perempuan. Tapi setelah kelas 5 ada rasa malu, tapi ada rasa penasaran ingin tahu.
Kebetulan badanku agak bongsor dibanding Ani dan Rini meskipun usia kami sebaya, tetapi tinggiku sejengkal lebih dari mereka.
Karena badanku agak tinggi maka mereka sangat mengandalkan aku mencari kayu bakar. Aku bisa memanjat pohon untuk menarik dahan-dahan kering, atau menarik batang kayu lalu memotongnya dengan golok. Entah kenapa menurut anggapanku, tenaga perempuan sangat lemas, sehingga untuk memotong kayu kering mereka kelihatannya kurang kuat. Pertolonganku sangat mereka berdua dambakan.
Tidak ada pamrih apa-apa atas pertolonganku kepada mereka, Aku hanya senang bersahabat, senang menolong mereka. Aku kadang-kadang membawa jajanan, seperti ubi rebus, pisang rebus buatan emak. Keluarga ku termasuk lebih baik ekonominya dibandingkan keluarga Ani dan Rini.
Di luar areal penggembalaan, kami juga berteman akrab. Beberapa kali aku membantu menimba air dari sumur di rumah Rini dan Ani. Maklum orang tua mereka janda. Aku jadi akrab dengan keluarga mereka.
Cerita erotisnya bermula dari kejadian ketika seperti biasa aku mengajak mereka mandi sungai setelah selesai mengumpulkan kayu dan aku sekalian menunggu kerbau berendam. Ani menolak, karena katanya dia tidak punya ganti. Dia tidak pakai daleman, artinya tidak pakai celana dalam dan kaus singlet.
Pada waktu itu aku berpikir polos saja, tanpa maksud macam-macam. Aku menawarkan bertiga mandi telanjang. Mulanya Rini dan Ani agak keberatan karena katanya malu. Aku beralasan tidak perlu malu karena tidak ada orang lain di situ. Selain itu kita bertiga kan sudah lama kenal bahkan sejak kecil. Jadi sudah biasalah melihat masing-masing telanjang.
Mereka tetap merasa malu. Namun sebenarnya mereka memang ingin mandi karena badannya gatal, mungkin karena tadi terkena bulu bambu (lugud) Mereka malu terhadapku. Waktu itu aku menemukan solusi. Aku menawarkan untuk menjauh dari mereka ketika mereka buka baju dan masuk ke air. Aku berenang ke hilir, menghampiri kerbauku dan aku waktu itu memulai membuang rasa malu dengan langsung telanjang di depan mereka. Ani dan Rini membuang muka ketika tahu aku mau bertelanjang Aku berenang ke hilir.
Jaraknya tidak terlalu jauh, tetapi karena sungainya berbelok, jadi aku memang tidak bisa melihat mereka. Setelah mereka memberi aba-aba telah nyemplung ke air, barulah aku kembali menghampiri mereka.
Kami bercanda, siram-siraman air, dan yang istimewa hari itu kami bertiga telanjang mandi di sungai. Aku mengajari mereka ciblon ( atau main air yang menimbulkan suara). Untuk bisa melakukan ciblon badan harus terendam air paling tinggi sepinggang, sehingga leluasa melakukan gerakan.
Mereka ingin melakukan ciblon, tetapi malu karena tetek yang baru numbuh akan terlihat oleh ku. Aku biarkan saja mereka bertahan dengan rasa malu, karena tidak mungkin dipaksa mereka agar tidak malu.
Nah sejak itu di hari-hari berikutnya kami bertiga jadi terbiasa mandi telanjang. Kami lebih suka karena tidak ada baju basah yang kami pakai sampai kerumah. Karena terbiasa telanjang, lama-lama jadi berkurang rasa malunya. Ani dan Rini mulai berani keluar dari air sampai setinggi pinggang. Artinya mereka membiarkan aku melihat tetek mereka yang baru tumbuh.
Sejujurnya aku tertarik melihat tetek-tetek itu, tetapi agar mereka tidak malu, aku bersikap seolah tidak pernah menatap tetek mereka.
Kami jadi tidak terhalang lagi oleh rasa malu. Mereka hanya masih menyembunyikan kemaluan mereka. Sedang aku entah karena ada bakat exhibionis atau apa aku bebas saja melepas celana ku dan masuk ke air. Sedang mereka saat itu tidak mensyaratkan aku berpaling, mereka hanya menutup memeknya dengan tangan lalu masuk ke air.
Kami bercanda di air. Aku sering menyelam dan tiba-tiba muncul diantara kedua kaki Ani atau Rini. Jadinya mereka seperti tergendong di pundakku lalu menjatuhkan diri sambil berteriak-teriak.
Aku ingat pada waktu itu, jika aku sering bersentuhan dengan tubuh mereka, penisku jadi mengeras. Kadang-kadang aku malu kalau sedang ngaceng begitu, sehingga mentasnya agak lama. Tapi yang sering meski ditunggu mentas lama sampai kedinginan , penisku tidak bisa turun dari ketegangan. Mereka bertanya-tanya kenapa ketika mentas aku menutup kemaluanku, sedang tadi waktu masuk ke air tidak malu.
Aku nggak bisa beralasan kecuali jujur ku katakan bahwa kemaluanku ngaceng. Keduanya saling berpandang-pandangan karena tidak ngerti arti ngaceng. Aku bilang saja bahwa burungku tegang. Mereka malah makin bingung. Maklumlah anak desa yang masih polos dan belum banyak mengerti soal sex.
Rini dan Ani rupanya penasaran dan memaksa aku menunjukkan burungku yang tegang. Aku awalnya menolak, karena malu. Entah ide dari mana aku kemudian mau dengan syarat barter. Artinya kalau aku menunjukkan kepada mereka kemaluanku yang tegang, aku harus diperbolehkan melihat kemaluan mereka juga.
Mereka keberatan dengan tawaran itu. Jadinya aku tetap tidak memperlihatkan. Tapi Ani rupanya lebih penasaran dibanding Rini, sehingga dia mengalah lalu membujuk Rini agar ikut memperlihatkan memeknya juga.
Posisi kami pada waktu itu sudah memakai celana sehabis mandi. Maka kami sepakat bersama-sama membuka kemaluan kami pada hitungan ketiga. Kami sama-sama menghitung dan pada hitungan ke tiga Aku, Ani dan Rini menurunkan celana. Tetapi Rini dalam sekejap sudah menaikan lagi lalu diikuti Ani, maka aku pun ikut menaikkan celana. Sehingga baik aku maupun mereka sama-sama tidak jelas melihat kelamin lawan jenis.
Kami tidak puas dan membuat aturan baru bahwa setelah hitungan ketiga, kami memperlihatkan diri dan tetap terbuka sampai hitungan ke sepuluh yang dimulai dari angka satu lagi. Akhirnya kami saling memperlihatkan kemaluan kami masing-masing dalam waktu sekitar hanya kurang dari 10 detik.
Aku sebenarnya kurang puas, karena harus melihat 2 memek sekaligus dan bentuknya hanya seperti belahan pantat yang kecil saja. Sedangkan kemaluan ku bisa terlihat semua tidak ada yang disembunyikan. Tapi aku mau protes, tidak tahu apa yang harus kukatakan, karena pada waktu itu aku mengira ya memang sesederhana itu saja kemaluan cewek.
Ternyata yang protes malah Ani. Dia ingin melihat lebih jelas lebih dekat, Dia bertanya, kenapa penis yang tadinya kuyu bisa mengeras dan membesar. Dia juga merasa lucu melihat kepala penisku yang seperti topi baja. Waktu itu aku memang sudah sunat.
Ani meminta aku membuka lebih lama dan memperbolehkan dia melihat lebih dekat, karena penasaran saja. Aku setuju adalah mereka juga mau memperlihatkan lebih lama.
Ani yang penasaran memaksa Rini untuk menerima syaratku. Rini meski kelihatan berat hati karena malu akhirnya setuju juga.
Giliran pertama aku harus berbaring dan membuka celanaku. Merasa akan diperhatikan, penisku menegang. Ani dan Rini cekikikan melihat profil penisku. Dia menanyakan kantong zakar, lalu kepala penis. Yang cilaka aku diminta mereka untuk melemaskannya. Permintaan itu tidak mungkin aku bisa lakukan. Sampai saat itu aku belum mengenal onani.
Aku tidak bisa menjawab ketika ditanya kenapa. Aku hanya mengatakan bahwa penis ini mengeras dan mengendur sendiri bukan karena keinginanku.
Dari hanya memperhatikan dari dekat, akhirnya Rini malah penasaran ingin memegang. Dia ingin tahu sekeras apa penisku. Tanpa ngomong apa-apa dia menekan batang penisku dengan ibu jari dan telunjuk. Aku terkejut dan badanku seperti dialiri listrik karena merasa kenikmatan disentuh. Melihat aku terkejut, Rini pun terkejut dan melepas sentuhannya. Ketika mereka mengira aku kesakitan, aku terus terang mengatakan bahwa sentuhan itu rasanya enak dan nyetrum ke seluruh tubuhku. Aku lalu minta Rini menyentuh lagi, Ani malah ikut-ikutan menekan penisku. Tanpa kusadari aku mendesah nikmat. Mereka jadi seperti disemangati oleh desahanku. Tiba-tiba ada dorongan kuat dari dalam diriku dan aku mencapai orgasme untuk yang pertama kali dalam hidupku. Waktu itu aku belum mengeluarkan sperma, sehingga penisku hanya berkedut-kedut saja. Aku segera menyingkirkan kedua tangan mereka karena tiba-tiba penisku terasa sangat geli kalau disentuh. Aku membekam penisku sampai orgasmenya reda. Mereka terheran-heran melihat aku seperti kesurupan. Setelah reda orgasmenya aku mengatakan bahwa baru saja aku merasakan suatu kenikmatan yang amat sangat dan belum pernah aku rasakan. Pelan-pelan penisku melemah dan akhirnya kempis. Proses itu diikuti oleh mereka dan ketika sudah melemah mereka kembali menekan-nekan penisku yang lembek.
Aku lalu ingat janji mereka untuk memperlihatkan organ mereka. Ketika mereka kutagih, keduanya ingkar dan berusaha menyembunyikannya. Aku tentu sangat kesal, tapi tidak mungkin memaksa mereka.
Aku diam saja dan mengatakan kepada mereka bahwa aku marah, karena Ani dan Rini tidak adil. Keesokan nya aku tidak mau membantu mereka mencari kayu bakar. Aku bahkan menjauh dari mereka.
Hanya dua hari mereka bisa bertahan berjauhan dengan ku. Pada hari ketiga Ani dan Rini mendekatiku dan merayuku untuk rujuk kembali dan mereka mengaku salah. Bukan itu saja mereka mau menepati janjinya, asalkan aku mau membantu mereka kembali mencari kayu bakar.
Aku menerima pertemanan mereka dan langsung menuntut janji mereka. Pertama aku minta Ani berbaring dan membuka celana dalamnya. Ani berbaring dan langsung mengangkang. Terlihat belahan memek dan di bagian dalamnya agak berwarna merah. Aku mencoba menyibak belahan memeknya, terlihat ada seperti gelambir kecil dan lubang kecil di bawahnya. Di situ aku baru tahu bahwa memek tidak mempunyai lubang di depan, tetapi di bagian bawah. Di bagian depan lipatan memek malah tidak ada apa apa. Aku menyentuh gelambir kecil yang sekarang ku tahu bahwa itu adalah labia mayora. Ani terjungkat ketika bagian itu kusentuh. Dia mengatakan geli, sehingga dia menepis tanganku. Puas melihat memek Ani aku menuntut r
Rini juga menunjukkannya.
Memek Rini sama dengan Ani, hanya yang mengesankan bagiku, gundukan memeknya lebih gemuk. Rini pun berjungkat ketika gelambir kecil memeknya aku sentuh.
Ketika aku mengobservasi memek mereka, kemaluanku tegang sekali.
Mereka kemudian menuntut untuk melihat kembali kemaluanku. Aku tanpa menunggu lama langsung memelorotkan celanaku sambil berdiri. Ani dan Rini jongkok di depanku sambil tangannya menyentuh kemaluanku. Rini meremas kantong zakarku. Aku berteriak karena sakit. Mereka kucegah menekan bagian itu kuat-kuat. Keduanya lalu seperti pertama dulu menekan-nekan penisku sampai aku kembali orgasme. Ani dan Rini senang melihat proses penisku menyusut.
Sejak saat itu tidak ada lagi rasa malu di antara kami. Namun keakraban itu sangat kami rahasiakan. Meskipun aku ingin sekali bercerita kepada banyak orang mengenai pengalamanku dengan perempuan karena pengalaman ini kurasakan sangat luar biasa, tetapi aku terpaksa menahannya dan menyadari kalau cerita itu terbuka keluar maka aku akan menghadapi masalah dan membuatku juga malu.
Aku jadi rajin mengembala, dan Ani serta Rini rajin pula mencari kayu bakar. Kegiatan diakhiri dengan mandi di sungai bersama-sama. Kami tidak lagi merasa perlu mandi dengan basahan, sebab sudah tidak ada lagi rasa malu diantara kami bertiga. Aku bahkan tidak hanya mandi bersama tetapi biasa bermain diair sambil bergulat memeluk dan memegang tetek maupun kemaluan mereka. Aku pun begitu. Kadang-kadang aku digeret dari pinggir sungai sampai masuk ke air dengan memegang penisku.
Kegiatan selalu diakhiri dengan aku mencapai orgasme setelah dipegang-pegang oleh tangan kedua cewek. Entah karena naluriku atau juga naluri dari cewek-cewek itu, akhirnya kami menemukan permainan mengocok penisku sampai aku orgasme. Sebabnya penisku tak kunjung mencapai orgasme hanya dengan dipegang-pegang saja. Lama-lama jadi agak Imun.
Selanjutnya aku menemukan kenikmatan ketika memeluk salah satu dari cewek itu dari belakang. Penisku yang menegang menusuk belahan pantat. Rasanya nikmat sekali.
Sampai sejauh itu baik aku maupun kedua cewek itu belum mengetahui hubungan sex antara pria dan wanita. Aku menemukan permainan baru yang menimbulkan kenikmatan lebih tinggi dengan menggesek-gesek penisku di belakang belahan pantat mereka.
Ani maupun Rini senang dibegitukan meskipun mereka sering mengeluh merasa geli. Aku juga paling senang meremas-remas susu mereka yang baru tumbuh, karena rasanya kenyal dan nikmat sambil aku memeluk dari belakang.
Mereka berdua mengaku merasa nikmat jika aku meremas-remas gundukan kemaluan mereka. Hanya saja mereka marah jika ketika aku meremas memek mereka lalu jariku yang terperosok ke dalam belahan memeknya aku cium. Menurutku bau memek mereka agak aneh. Apalagi sebelum mandi, baunya agak pesing. Tetapi setelah mandi, nyaris tidak ada baunya. Jariku kadang-kadang terkena lendir yang kalau sudah gitu aku mencucinya dan membersihkannya dengan pasir. Aku merasa geli jika lendir itu terkena di jariku. Tapi anehnya aku suka mengorek-ngorek memek mereka meski risikonya terkena lendir.
Bahasa kami waktu itu adalah turuk untuk menyebut memek, dan peli untuk menyebut penis.
Sebagai penggembala kerbau aku terbiasa melihat kerbau melakukan hubungan kelamin. Namun kali ini aku tertarik melihat hewan peliharaanku melakukannya. Entah kenapa, kemaluanku jadi menegang. Aku memperhatikan apa yang dilakukan kerbauku ketika kawin. Semula aku mengira, batang penis kerbau dimasukkan ke lubang pantat betinanya. Namun kemudian setelah aku amati lebih jeli ternyata bukan masuk ke lubang pantatnya.
Ketika aku mengamati kerbauku kawin aku sempat diejek Rini dan Ani. Kata mereka aku melihat apa kok serius sekali. Aku katakan, penasaran ingin tahu apa yang dilakukan kerbau kawin.
Rini dan Ani ternyata lebih tahu. Baru kutahu ketika Ani menceritakan bahwa binatang kawin itu dengan memasukkan kelamin prianya ke lubang kelamin betinanya. Dengan begitulah mereka kemudian punya anak.
Entah kenapa sejak penjelasan itu aku jadi punya keinginan seperti yang dilakukan kerbau-kerbauku. Jika sebelum ini kami bermain peluk-pelukan di dalam air dan aku menyelipkan penisku di pantat mereka, sekarang aku punya ide permainan, kawin-kawinan.
Masih di dalam air baik Ani maupun Rini aku suruh menunduk dengan bertopang pada lutut, lalu aku menusukkan penisku di belahan pantat mereka. Mulanya Ani dan Rini tidak mau, tetapi karena aku terus membujuk mereka akhirnya mau. Mereka katanya takut punyak anak.
Aku jadi ketagihan main kawin-kawinan. Setelah berkali-kali dan ternyata Ani dan Rina tidak punya anak akhirnya kami jadi sering main begituan. Kalau dulu kami mainnya di dalan air, setelah itu kami main di luar. Aku tidak tahu waktu itu bahwa penis itu harus dimasukkan ke dalam lubang vagina. Sebab dengan menyelipkan penisku diantara lipatan memeknya sudah terasa nikmat sekali.
Rini dan Ani sering menolak aku ajak main kawin-kawinan, karena mereka merasa memeknya geli.
Aku ingat suatu waktu ketika kami sedang mengumpulkan kayu, di tengah hutan menemukan semacam bangku, bekas orang membuat papan di hutan. Aku tidak ingat apakah Rini atau Ani yang memulai. Tapi dia mencopot celananya dan tidur telentang dibangku itu lalu aku diminta buka celana. Penisku dipegangnya lalu seperti dioles-oleskan ke belahan memeknya. Katanya penisku menimbulkan kenikmatan. Aku memang melihat dia kadang-kadang mengejang. Sementara aku diam saja karena aku juga merasa nikmat. Tapi perbuatan mereka itu tidak bisa mengantarkan aku sampai orgasme. Kedua-duanya melakukan itu dan reaksinya sama, mereka kadang-kadang mengejang.
Aku sebenarnya kurang suka karena penisku kena lendir mereka dan baunya agak pesing, Tapi karena mereka terlihat nikmat aku jadi mengalah saja.
Berkali-kali kami melakukan adegan itu, sampai aku melihat lubang di memek yang kelihatan memerah. Aku pikir lubang itu yang bisa dimasuki penisku seperti kerbau memasukkan penisnya kelubang belakang betinanya.
Aku katakan akan mencoba menusuk lubang itu. Mulanya mereka mau mencoba, tetapi ketika di coba mereka mendorongku karena terasa sakit. Aku sampai hampir jatuh kejengkang ketika Ani mendorongku. Ketika kucoba ke Rini dia juga akhirnya mendorongku, karena katanya memeknya perih.
Meski mereka tidak mau tapi, aku tetap penasaran. Mereka masih tetap ketagihan mengoser-oser penisku di belahan memeknya. Jika semula tangan mereka yang memegangi penisku, kini kuambil alih akulah yang mengoser-oser. Aku perhatikan jika lama aku mengoser-oser ke memek Ani, dia lama-lama ngompol karena memeknya jadi makin basah. Si Rini sama juga. Ani mulai kejang-kejang jika aku menggesekkan kepala penisku ke belahan memek mereka. Aku sudah bertekad mengambil kesempatan untuk menusukkan penisku ke dalam lubang memek Ani ketika dia sedang mengejang. Saat Ani mulai mengejang aku terus menggesekkan penisku sampai dia mendesis desis. Kepala penisku sudah tepat di depan lubang memek yang merekah merah. Dengan gerakan tiba-tiba aku tekan sekuat tenaga. Penisku yang keras itu masuk seluruhnya ke dalam lubang Ani. Dia menjerit dan menangis, tetapi tangannya menahan pinggulku . Padahal aku ingin mengeluarkan penisku dari lubang itu, takut nyangkut seperti anjing. Ani menahannya, katanya memeknya perih. Tapi ketika aku bilang kalau tidak dilepas nanti takutnya gancet (istilah kelamin anjing yang tak bisa lepas sesaat ketika habis bubungan kelamin). Ani akhirnya melemaskan pegangannya dan aku diarahkan menariknya pelan-pelan. Aku lega karena penisku bisa lepas dari lubang memeknya, tetapi aku takut, karena penisku berdarah. Hari itu Ani marah dia mengajak pulang Rini sambil tertatih-tatih membawa kayu bakar.
Keesokan harinya Aku tidak melihat kedua cewek itu. Aku sebetulnya ingin minta maaf jika mereka datang. Ani masih cemberut ketika kutemui bermain dekat rumahnya. Dia tidak mau banyak bicara ketika kuajak bermain.
Aku akhirnya pasrah dan membiarkan Ani membenciku. Padahal aku pun tidak tahu kalau perbuatan itu mengakibatkan dia berdarah. Tadinya aku kira penisku yang luka. Tetapi setelah aku cuci tidak ada bagian yang terluka. Aku jadi mengingat-ingat kejadian berdarah itu. Penisku terasa terjepit oleh memek Ani dan nikmat sekali. Tapi aku sempat kalut ketika tiba-tiba teringat anjing kawin bisa gancet.
Di hari ketiga Ani dan Rini kembali muncul. Ani kelihatannya sudah melupakan marahnya dan mengajak aku mencari kayu. Entah dia terpaksa berbaikan dengan aku atau memang dia bisa menerima kesalahanku. Tapi bisa saja dia terpaksa, karena tanpa bantuanku dia tidak bisa mendapat banyak kayu bakar. Atau mungkin juga dorongan Rini yang juga merasakan tidak bisa mengumpulkan kayu bakar lebih banyak tanpa bantuanku.
Namun kali itu mereka tidak mau ketika kuajak mandi bareng. Mereka berdua memilih pulang lebih cepat. Aku kemudian juga kehilangan selera mandi di sungai sendirian. Aku memilih nanti saja mandi di sumur di rumah.
Seminggu kira-kira hubungan kami agak renggang. Setelah itu hubungan kami kembali normal dan keduanya mau mandi bareng lagi di sungai dengan telanjang. Aku tidak berani memeluk keduanya dari belakang seperti yang aku lakukan sebelumnya. Aku takut Ani marah. Jadi kami hanya bercanda dengan bermain air dan saling siram. Aku sempat heran juga ketika kami mentas, Ani berinisiatif mengocok penisku sampai aku memuncak.
Entah dorongan nafsu atau ingin mendapat kenikmatan lagi Ani meminta pinjam penisku untuk dioles-oleskan di belahan memeknya. Si Rini pun juga minta begitu. Posisi kali ini bukan di hutan yang ada bangkunya, tetapi di pinggir kali. Aku membuat tatakan dari daun-daunan di balik kerimbunan semak sehingga jika ada orang lewat tidak bisa langsung melihat kami. Aku khawatir, meskipun di tempat itu jarang sekali ada orang melintas.
Aku duduk bersimpuh sementara Ani tidur telentang dan mengangkangkan kedua kakinya lalu dilipat. Penisku diraihnya lalu dia menggesek-gesekkan ke belahan memeknya. Aku melihat dengan seksama apa yang dilakukan Ani. Dia sebenarnya menekan-nekankan penisku di belahan memeknya, sehingga aku merasa penisku seperti ditarik-tarik. Aku mencoba mengikuti irama gerakannya. Ketika dia menekan ke memeknya aku ikut membantu dengan mendorongkan penisku. Berkali-kali melakukan gerakan itu, kepala penisku seperti terbenam. Rasanya nikmat sekali sehingga aku menginginkan mendorong terus. Memek Anik terasa licin sehingga ketika kuperhatikan penisku agak banyak terbenam ke dalam lubang memek Ani. Ketika sudah mencapai separuh penisku berada di dalam memeknya, Ani kutanya apakah dia merasa sakit. Dia hanya menggeleng. Aku tidak mengatakan bahwa penisku sudah masuk ke dalam memeknya, karena kupikir dia pasti bisa merasa. Aku merasa kenikmatan yang luar biasa karena penisku berada di dalam lubang hangat dan terasa sangat menjepit. Tangan Ani kuangkat dan aku minta untuk menggantikan kerja tangannya. Sambil kugerak-gerakkan aku mendorong terus penisku masuk ke dalam memeknya. Herannya penisku masuk terus sampai seluruhnya tenggelam. Pada waktu itu aku teringat lagi soal anjing gancet. Maka kutarik pelan-pelan penisku . Terasa sekali nikmatnya. Ketika akhirnya bisa terlepas, baru aku yakin bahwa kami tidak gancet, sehingga aku masukkan lagi penisku dan kali ini agak mudah masuknya. Aku terus mendorong sampai mentok. Kulihat reaksi ani bukan kesakitan. Ani kutanya pa yang dia rasakan, kata dia enak banget, karena memeknya terasa penuh dan mengganjal. Malah katanya lebih enak dari pada hanya dioles-oleskan di belahan memeknya. Aku menarik kembali pelan-pelan tapi tidak sampai lepas. Kuraksakan kenikmatan menjalari seluruh batang penisku dan ke seluruh tubuh. Aku teringat gerakan kambing dan anjing kalau kawin. Hewan itu jantannya melakukan gerakan maju mundur, maka aku kemudian melakukan gerakan itu dengan ritme yang cepat. Ani mendesis-desis, sambil berkata,” aduh enak banget……”
Rini yang memperhatikan apa yang kami lakukan bolak balik nanya ke Rini, enak gimana. Ani yang terus dicecar pertanyaan menjawab rada kesal sambil berteriak lirih “ Enaaaaak banget..”
Aku pun merasa enak sekali, jauh lebih enak dari pada dikocok pakai tangan. Aku tidak lagi bersimpuh tetapi sudah telungkup dan berstumpu pada siku, sambil terus melakukan gerakan maju mundur sampai akhirnya ada gelombang nikmat yang luar biasa. Saat yang kemudian aku kenal dengan orgasme aku menancapkan dalam-dalam penisku di memek Ani. Agak lama aku melepaskan denyutan penisku sampai akhirnya kenikmatan itu berangsur-angsur menurun. Aku menarik pelan-pelan penisku. Sempat kuperhatikan, tidak ada darah di penisku, tetapi penisku penuh dengan lendir.
Ani masih tidur telentang di semak persembunyai kami. Sementara aku keluar dari semak langsung nyebur ke sungai dan membersihkan penisku dari lendir-lendir dari memek Ani.
Ketika sedang asyik mandi, Rini memanggilku. Dia minta aku memeriksa Ani karena tidak bisa bangun. Aku sempat terkesiap. Ani aku datangi di semak persembunyian. Ketika kutanya dia ternyata bisa menjawab. Ani minta aku memasukkan lagi penisku. Aku yang baru mentas dari sungai dan masih telanjang, penisku belum tegang. Ketika aku coba memasukkan ke lubang memek Ani, tidak bisa masuk karena masih lemas. Tapi lama-lama makin mengeras sampai akhirnya keras seperti semula. Pada saat mengeras itulah aku baru berhasil memasukkan kembali penisku ke dalam memek Ani. Aku kembali merasakan kenikmatan seperti tadi. Aku sudah agak mengerti melakukan gerakan . Kali ini kenikmatan yang memuncak terasa lama sekali sampainya. Aku terus menggenjot. Ani mendesis-desis lalu tiba-tiba ia peluk aku erat-erat dan kedua kakinya melingkar ke badanku. Aku tidak bisa bergerak. Penisku terasa seperti diremas-remas oleh memek Ani. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berkata enaakk banget. Setelah melongarkan pelukan aku kembali menggenjotnya lebih cepat. Aku bersemangat, tetapi dalam hati bertanya, kenapa lama sekali gak nyampe kenikmatan seperti yang pertama tadi. Tiba-tiba Ani berteriak, terus-terus. Teriakan itu merangsangku sehingga aku makin cepat bergerak sampai akhirnya aku mencapai puncak kenikmatan lagi. Ani kembali memelukku erat sekali dan kakinya juga merangkul tubuhku.
Aku merasa lemas dan penisku ketika kutarik keluar dari memeknya sudah agak menciut.
Aku berbaring di samping Ani. Setelah istirahat sebentar kami lalu nyebur ke sungai. Ani berubah manja terhadapku. Dia berkali-kali minta aku gendong di dalam air.
Ani menceritakan kenikmatan yang baru dia dapatkan tadi kepada Rini. Ani memaksa Rini mencoba. Rini masih takut karena melihat Ani dulu berdarah dan kesakitan. “Sakitnya Cuma sebentar saja, sesudah itu enaknya luar biasa,” kata Ani.
Sebetulnya selepas mandi itu aku diminta Ani melakukannya ke Rini, tetapi karena hari sudah semakin sore, kami urungkan dan kami berjanji besok akan kami lakukan.
Aku sudah yakin bahwa manusia berbeda dengan anjing. Karena tidak bisa gancet. Oleh karena itu ketika aku melakukannya ke Rini aku sudah lebih percaya diri. Lubang memek Rini agak susah dimasuki, karena penisku berkali-kali terpeleset.
Berbeda ketika melakukan dengan Ani, Kepada Rini aku menekan penisku pelan-pelan sampai penisku bisa masuk. Saat penisku tidak bisa masuk lagi, padahal sudah hampir separuh berada di jepitan memeknya, aku pikir lubang memek Rini dangkal. Rini merasakan sakit, tapi katanya dia masih bisa tahan. Karena lubangnya dangkal aku jadinya melakukan gerakan dengan tidak sampai penisku separuh terbenam. Aku mulai merasakan nikmat sampai-sampai aku lepas kontrol. Tekanan penisku ke dalam memek Rini mungkin terlalu kuat sehingga Rini menjerit dan menangis. Aku terkejut juga dan meraba penisku, ternyata mentok alias masuk seluruhnya ke dalam memeknya. Rini menahan gerakanku karena dia merasa memeknya ngilu. Aku menuruti kemauannya, meski pelan-pelan melakukan gerakan maju dan mundur. Merasa pegangan Rini melonggar aku mempercepat gerakan sampai akhirnya aku mencapai kenikmatan yang luar biasa. Aku biarkan sebentar penisku di dalam memek Rini sampai kenikmatan penisku reda.
Aku kembali takut ketika penisku berdarah. Aku memeriksa seluruh batang penisku, tetapi tidak ada yang terluka. Berarti darah itu berasal dari memek Rini. Aku makin yakin karena Rini mengeluh memeknya perih. Aku dan Ani membimbing Rini masuk ke sungai dan mencuci memeknya. Rini masih meringis, katanya memeknya perih kena air sungai.
Ani mengatakan pada Rini bahwa pada awalnya memang perih, tapi setelah itu enak banget.
Penisku digenggam-genggam Ani dan dia menyeretku masuk ke semak-semak. Ani minta aku memasukkan kembali penisku ke dalam memeknya. Penisku baru setengah tegang. Agak susah jadinya memasukkan ke dalam lubang Ani. Setelah dicoba berkali-kali dan dengan bantuan tuntunan tangan Ani penisku bisa masuk. Aku kembali menggenjot Ani. Dia merintih-rintih dan berkali-kali minta aku berhenti sebentar sambil memelukku dan aku merasa memeknya berdenyut-denyut. Aku terus menggenjot sampai akhirnya ak mencapai puncak kenikmatan.
Tiga hari kemudian baru Rini mau mencoba lagi penisku memasuki memeknya. Dia mengatakan masih agak sakit, tetapi terasa agak enak. Aku menggenjotnya sampai aku mencapai kenikmatan. Aku ingat kemudian aku mengulangi lagi. Pada ronde kedua itu Rinia sudah kurang merasakan sakit. Dia juga mendesis desis seperti Ani dan sempat memelukku erat sekali dan aku merasakan penisku dicengkeram oleh memeknya. Rini baru mengakui ke Ani bahwa permainan ini nikmat sekalai.
Sejak itu kami selalu main kawin-kawinan . Ketika aku menyelesaikan kelas 6 dan akan masuk SMP, orang tuaku memboyong aku pindah ke kota. Kami akhirnya berpisah dengan Ani dan Rini. Aku sering merindukan mereka, terutama keinginanku main kawin-kawinan. Kalau diantara pembaca ada yang merasa sebagai Rini atau Ani tolong tinggalkan email kalian. Aku ingin bertemu kalian. Janji aku tidak menuntut kita main kawin-kawinan lagi
Mau Booking Cewek Bispak
Langganan:
Postingan (Atom)